Kebenaran Itu Tenang, Amanah Itu Berat, dan Akhir Hidup Itu Penentu

“Kebenaran Itu Tenang, Amanah Itu Berat, dan Akhir Hidup Itu Penentu”


PEMBUKAAN 

الحمد لله رب العالمين…
نحمده ونستعينه ونستغفره،
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا…

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Ada kebenaran…
yang tidak berteriak…
tidak memaksa…
tidak viral…

Namun ia bertahan.

Dan ada kebatilan…
yang ramai…
yang mengguncang…
yang memikat…

Namun ia menghilang.

Surah Ar-Ra‘d…
bukan hanya berbicara tentang iman dan kufur,
tetapi tentang amanah hidup,
tentang orang tua dan anak,
tentang akhir perjalanan manusia
—apakah pulang membawa cahaya…
atau beban pengkhianatan.


BAGIAN 1 — KEBENARAN YANG DITOLAK (Ayat 1)

“Apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”

Saudaraku…

Masalah manusia bukan tidak tahu yang benar.
Masalah manusia adalah:
ia tahu… tapi tidak mau tunduk.

Berapa banyak orang tua tahu:
— anak perlu teladan
— anak perlu doa
— anak perlu pelukan

Tapi yang diberikan justru:
— teriakan
— kemarahan
— tuntutan tanpa cinta

Lalu heran…
“Kenapa anakku menjauh dari agama?”


KISAH NYATA 1 

Seorang ayah…
datang menangis…

“Ustadz… anak saya sudah tidak shalat.
Padahal sejak kecil saya masukkan pesantren.”

Saya tanya perlahan:
“Bapak shalat berjamaah di rumah?”
Ia diam.

Saya tanya lagi:
“Bapak pernah memeluk anak bapak…
dan mendoakan dia di depannya?”
Ia menangis.

Hadirin…

Anak tidak rusak karena kurang perintah.
Anak terluka karena kurang kehadiran.


BAGIAN 2 — LANGIT TANPA TIANG & HATI TANPA IMAN (Ayat 2–4)

Allah mengangkat langit tanpa tiang.
Tapi manusia hidup tanpa sandaran iman.

Langit tidak runtuh…
tapi keluarga banyak runtuh.

Kenapa?

Karena iman tidak lagi menjadi tiang rumah.

Rumah berdiri…
tapi tidak sujud.


BAGIAN 3 — SATU AIR, HASIL BERBEDA (Ayat 4)

Air hujan sama…
tanah berbeda…
hasil berbeda…

Anak-anak kita minum dari rumah yang sama,
tapi akhlaknya berbeda.

Kenapa?

Karena yang ditanam di rumah bukan iman,
melainkan ego orang tua.


KISAH NYATA 2

Seorang ibu berkata:

“Saya ingin anak saya jadi orang baik…
tapi saya sering memaki ayahnya di depan anak.”

Hadirin…

Anak belajar bukan dari nasihat
tapi dari pemandangan hidup.


BAGIAN 4 — MENOLAK AKHIRAT KARENA TAKUT HISAB (Ayat 5–6)

“Apakah setelah mati kami akan dibangkitkan?”

Yang menolak kebangkitan…
bukan karena tidak masuk akal…

tapi karena tak siap dimintai pertanggungjawaban.

Termasuk tanggung jawab:
— sebagai ayah
— sebagai ibu
— sebagai pendidik jiwa anak


BAGIAN 5 — ALLAH TAHU RAHIM & NIAT TERSEMBUNYI (Ayat 8–11)

Allah tahu isi rahim…
Allah tahu niat di dada…

Allah tahu:
berapa kali kita lalai mendoakan anak
berapa kali kita lebih sibuk dengan dunia

Dan Allah berfirman:

“Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.”

Anak tidak berubah…
jika orang tua enggan bertobat.


KISAH NYATA 3

Seorang ayah keras…
pemarah…
lalu anaknya tumbuh kasar…

Ketika anak berulah…
ayah berkata:
“Ini ujian dari Allah!”

Padahal itu cermin dirinya sendiri.


BAGIAN 6 — GURUH TAKUT, MANUSIA MENANTANG (Ayat 12–13)

Guruh bertasbih…
petir tunduk…

Manusia?
Menantang.

Alam takut kepada Allah…
manusia berani meremehkan-Nya.


BAGIAN 7 — AIR & BUIH (Ayat 17)

Kebatilan seperti buih…
ramai…
mengambang…

Tapi hilang.

Kebenaran seperti air…
tenang…
masuk ke tanah…
menghidupkan.

Didikan iman pada anak tidak instan,
tapi menetap sampai mati.


BAGIAN 8 — CIRI ORANG BERAKAL (Ayat 19–20)

Orang berakal adalah mereka yang:
✔ menepati janji
✔ menjaga amanah
✔ tidak merusak perjanjian

Amanah terbesar orang tua bukan sekolah mahal…
tapi membawa anak pulang kepada Allah.


PENUTUP 

Hadirin…

Jika suatu hari kita wafat…
apa yang akan anak kita ingat?

Marah kita?
Atau doa kita?

Bentakan kita?
Atau sujud kita?


DOA

اللهم… يا الله…
Jika selama ini kami menjadi orang tua yang lalai…
ampuni kami…

Jika tangan ini lebih sering marah
daripada mengelus kepala anak…
ampuni kami…

Ya Allah…
kami titipkan anak-anak kami kepada-Mu…
saat kami tak mampu menjaga hati mereka…

Jangan Engkau hukum anak kami
karena dosa orang tuanya…

Ya Allah…
lembutkan hati kami sebelum Engkau lembutkan hati anak kami…

Jadikan rumah kami rumah yang Engkau ridai…
bukan hanya ramai, tapi penuh cahaya…

Ya Allah…
jika suatu hari Engkau panggil kami…
jangan Engkau ambil kami
kecuali dalam keadaan Engkau ridha…

Wafatkan kami dalam husnul khatimah…
dengan kalimat لا إله إلا الله di lisan kami…
dan cinta kepada-Mu di dada kami…

Ya Allah…
pertemukan kami kembali dengan keluarga kami
di surga-Mu…
tanpa hisab…
tanpa penyesalan…

آمين… آمين… يا رب العالمين…



Tidak ada komentar