KEKUATAN YANG MEROBEK DIRI SENDIRI
“KEKUATAN YANG MEROBEK DIRI SENDIRI”
Pelajaran Air Mata dari Kaum ‘Ād
(QS Asy-Syu‘arā’: 121–140)
🌿 PEMBUKAAN
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah…
yang mengangkat siapa yang merendah,
dan meruntuhkan siapa yang meninggi dengan sombong.
Shalawat dan salam…
kepada Nabi Muhammad ﷺ…
yang mengajarkan kita satu kalimat sederhana,
namun berat diamalkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Malam ini…
kita tidak bicara tentang orang lain.
Kita bicara tentang diri kita sendiri.
Karena kaum ‘Ād telah hancur,
tapi sifat ‘Ād masih hidup.
Sombong…
merasa aman…
merasa kuat…
merasa benar…
🧭 POLA YANG DIULANG ALLAH
QS Asy-Syu‘arā’: 121–122
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً… وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
Hadirin…
Allah mengulang kalimat ini berkali-kali dalam surat Asy-Syu‘arā’.
Kenapa?
Karena manusia cepat lupa,
dan kesombongan cepat tumbuh.
Ibnu Katsir berkata:
“Allah mengulang agar manusia tidak berkata: ‘Itu kisah orang dulu.’”
Karena azab tidak menunggu zaman,
azab menunggu sifatnya muncul kembali.
🌬️ KAUM ‘ĀD: KUAT, MAJU, BINASA
QS Asy-Syu‘arā’: 123–127
Nabi Hud datang…
bukan sebagai musuh…
tapi sebagai saudara mereka.
أَخُوهُمْ هُودٌ
Ia tidak datang membawa senjata…
Ia datang membawa peringatan.
Dan peringatannya sederhana:
“Mengapa kalian tidak bertakwa?”
Bukan: “Mengapa kalian tidak kaya?”
Bukan: “Mengapa kalian tidak kuat?”
Tapi: “Mengapa kalian tidak takut kepada Allah?”
Dan seperti semua nabi…
“Aku tidak meminta upah.”
Hadirin…
Dakwah yang tulus…
tidak selalu diterima.
Justru sering ditolak dan dihina.
🏗️ MEGA PROYEK TANPA AKHIRAT
QS Asy-Syu‘arā’: 128–129
أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ
Mereka membangun…
tinggi…
megah…
mencolok…
Tapi tidak membangun sujud.
Bangunan mereka tinggi…
tapi iman mereka pendek.
Mereka buat benteng…
seakan-akan tidak akan mati.
Padahal…
kubur tidak butuh istana…
cukup tanah selebar badan.
Hadirin…
Apa gunanya rumah megah…
kalau shalat sering ditunda?
Apa gunanya jabatan tinggi…
kalau hati tidak pernah rendah?
🩸 KEKUATAN TANPA HATI
QS Asy-Syu‘arā’: 130
وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ
Jika mereka menghukum…
mereka kejam.
Jika mereka berkuasa…
mereka menindas.
Ibn Taimiyah berkata:
“Tidak ada negeri yang hancur kecuali karena kezaliman.”
Bukan karena kurang doa…
tapi karena terlalu banyak air mata orang yang dizalimi.
🌾 NIKMAT BESAR, LUPA ALLAH
QS Asy-Syu‘arā’: 132–134
Allah ingatkan:
- ternak
- anak
- kebun
- air
Semua ada…
Tapi tidak ada syukur.
Al-Ghazali berkata:
“Nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah adalah istidraj.”
Diberi…
dibiarkan…
lalu dijatuhkan sekaligus.
⏰ AZAB YANG DIREMEHKAN
QS Asy-Syu‘arā’: 135–138
Nabi Hud berkata:
“Aku takut kalian ditimpa azab besar.”
Jawaban mereka?
“Kami tidak akan diazab.”
Kalimat ini…
sering keluar dari lisan manusia modern:
“Allah Maha Pengampun…”
“Masih muda…”
“Nanti saja…”
Sampai akhirnya…
Allah mengirim angin.
Angin yang dulu sejuk…
menjadi algojo.
🌪️ KEHANCURAN
QS Asy-Syu‘arā’: 139–140
Allah tidak menurunkan meteor…
tidak menurunkan api…
Cukup angin.
Agar manusia tahu:
Yang lemah pun bisa menjadi tentara Allah.
🕯️ PENUTUP RENUNGAN
Hadirin…
Jangan tunggu Allah merendahkan kita
baru kita belajar merendah.
Jangan tunggu Allah menghancurkan kesombongan kita
baru kita belajar tawadhu.
Karena kaum ‘Ād sudah selesai…
tapi kisah mereka sedang dibacakan kepada kita.
🤲 DOA PENUTUP
Allāhumma yā Allāh…
Kami datang kepada-Mu…
dengan hati yang lemah…
dengan jiwa yang sering sombong tanpa sadar…
Yā Allāh…
Hancurkanlah kesombongan di hati kami
sebelum Engkau menghancurkan kami…
Yā Allāh…
Jangan jadikan nikmat sebagai istidraj…
Jangan jadikan kekuatan sebagai sebab kebinasaan…
Yā Allāh…
Jika dalam diri kami ada sifat kaum ‘Ād…
maka cabutlah…
luluhkanlah…
hapuskanlah sebelum Engkau menurunkan murka-Mu…
Yā Allāh…
Ajarkan kami rendah hati…
sebelum Engkau merendahkan kami…
Selamatkan iman kami…
selamatkan keluarga kami…
selamatkan negeri kami…
Rabbana lā taj‘alnā min al-qawmiẓ-ẓālimīn…
Rabbana ighfir lanā dzunūbanā…
wa tawaffanā ma‘al-abrār…
Shallallāhu ‘alā Muhammad…
wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn…
Walḥamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Post a Comment