Ketika Azab Datang: Batas Akhir Kesabaran Langit (2)
Ketika Azab Datang: Batas Akhir Kesabaran Langit (2)
Surah Hūd Ayat 81–100
MUQADDIMAH
Alhamdulillāh…
Alhamdulillāhilladzī menutup aib kita, padahal dosa kita menggunung…
Alhamdulillāh… yang tidak langsung menurunkan azab, padahal maksiat kita terang-terangan…
Shalawat dan salam…
kepada Nabi yang menangis di malam hari,
bukan karena lapar…
bukan karena miskin…
tetapi karena umatnya…
Hadirin…
malam ini bukan malam ceramah biasa…
ini malam peringatan dari langit…
malam ketika kisah-kisah kehancuran tidak lagi sekadar cerita…
tapi cermin untuk kita yang masih bernapas…
BAGIAN I — AZAB KAUM LUTH: DOSA YANG DIBELA
Ayat 81–83
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ…
“Wahai Luth… kami adalah utusan Rabb-mu…”
Hadirin…
ketika malaikat turun, itu bukan tanda cinta…
itu tanda keputusan sudah diambil…
Kaum Luth tidak lagi malu berbuat dosa…
bahkan membela kemaksiatan…
bahkan memusuhi yang mengingatkan…
Dan Allah tidak menurunkan hujan…
Allah membalikkan negeri…
dan batu-batu neraka turun satu per satu…
مُسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ
Batu yang sudah diberi nama…
📌 Ibnu Katsir berkata:
“Setiap batu sudah ditentukan untuk siapa ia jatuh.”
Hadirin…
kalau azab itu turun hari ini…
apakah batu itu sudah bertuliskan nama kita?
BAGIAN II — SYU‘AIB & DOSA EKONOMI
Ayat 84–86
وَلَا تَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ
Kurangi timbangan…
curangi hak orang…
mainkan angka…
jual agama demi untung…
📌 Imam Al-Qurthubi:
“Dosa ekonomi adalah dosa yang menghancurkan masyarakat secara perlahan.”
Hadirin…
ini bukan cuma cerita Madyan…
ini cerita pasar kita… kantor kita… transaksi kita…
Dan Syuaib berkata:
بَقِيَّةُ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Sisa yang halal lebih baik…”
Tapi kita…
lebih memilih banyak tapi haram…
daripada sedikit tapi selamat…
BAGIAN III — SALAT DIEJEK, NASIHAT DITERTAWAKAN
Ayat 87
أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ…؟
“Apakah salatmu yang menyuruhmu?”
Hadirin…
salat diejek…
ustaz dicemooh…
nasihat dianggap gangguan…
📌 Hasan Al-Bashri:
“Jika nasihat terasa menyakitkan, itu karena dosa masih berkuasa.”
Apakah salat kita benar-benar mencegah maksiat?
Atau hanya gerakan tanpa rasa takut?
BAGIAN IV — KEJUJURAN NABI SYUAIB
Ayat 88–90
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
“Aku tidak mampu kecuali dengan pertolongan Allah…”
Hadirin…
para nabi bersih di dalam dan luar…
yang dilarang tidak mereka lakukan…
yang diperintah lebih dulu mereka amalkan…
Sementara kita…
menyuruh orang baik…
tapi kita sendiri lalai…
BAGIAN V — AZAB TURUN TANPA PERINGATAN ULANG
Ayat 94–95
وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ
Satu suara…
satu hentakan…
selesai…
Tidak sempat taubat…
tidak sempat istighfar…
📌 Ibnu ‘Athaillah:
“Yang paling berbahaya bukan azab, tapi penundaan taubat.”
BAGIAN VI — FIR‘AUN: PEMIMPIN YANG MENYESATKAN
Ayat 96–100
يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ
Pemimpin di dunia…
tapi penunjuk jalan ke neraka…
Jangan ikuti siapa pun
yang menjauhkan dari Allah,
meski dia berkuasa…
meski dia populer…
DOA PENUTUP
Allāhumma…
jika azab-Mu turun malam ini…
kami tidak punya tempat lari…
Yā Allāh…
kami bukan kaum Luth…
tapi dosa kami mirip…
kami bukan Madyan…
tapi kecurangan kami nyata…
Yā Rahmān…
jangan balikkan hidup kami…
sebelum kami balik kepada-Mu…
Yā Allāh…
jangan beri kami azab seperti mereka…
beri kami taubat sebelum terlambat…
Rabbi…
jika Engkau mengunci pintu langit…
siapa lagi tempat kami berharap?
Allāhumma…
ampuni kami…
ampuni orang tua kami…
ampuni anak-anak kami…
jangan wafatkan kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha…
Āmīn…
Āmīn…
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn…
Post a Comment