Ketika Kekuasaan Menjadi Amanah, dan Hati Menjadi Penentu Keselamatan
“Ketika Kekuasaan Menjadi Amanah, dan Hati Menjadi Penentu Keselamatan”
I. KEKUASAAN BUKAN TUJUAN, TAPI AMANAH
(Al-Hajj: 41)
Teks Arab
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Terjemah
“(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
Makna Utama
Allah menjelaskan ciri pemimpin sejati:
- Salat ditegakkan (hubungan dengan Allah)
- Zakat ditunaikan (keadilan sosial)
- Amar ma’ruf nahi munkar (keberanian moral)
Komentar Ulama
-
Imam Al-Qurthubi:
“Ayat ini adalah dasar kewajiban penguasa menegakkan agama sebelum menegakkan negara.”
📚 Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an -
Ibnu Katsir:
“Kemenangan bukanlah tanda keridhaan Allah, kecuali bila diiringi ketaatan.”
📚 Tafsir Ibnu Katsir
Dalil Sunnah
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”
📚 HR. Bukhari & Muslim
Contoh Nyata
- Kepala desa yang adil membagi bantuan
- Guru yang tegas tapi mendidik
- Orang tua yang menegakkan salat di rumah, bukan hanya menyuruh
II. DUSTA KEPADA RASUL: SUNNAH KEBINASAAN
(Al-Hajj: 42–45)
Allah menghibur Nabi ﷺ: pendustaan adalah sunnah lama umat durhaka.
Dalil Al-Qur’an
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ
“Setiap mereka Kami azab karena dosanya.”
(QS. Al-Ankabut: 40)
Komentar Ulama
- Fakhruddin Ar-Razi:
“Kisah umat terdahulu bukan sejarah mati, tapi cermin hidup bagi umat setelahnya.”
📚 Mafatih al-Ghaib
Pelajaran
- Azab tidak datang tiba-tiba
- Selalu diawali kesombongan dan kedustaan
Contoh Hari Ini
- Negeri hancur bukan karena miskin, tapi hilangnya amanah
- Rumah tangga runtuh bukan karena kurang harta, tapi hilangnya kejujuran
III. YANG BUTA BUKAN MATA, TAPI HATI
(Al-Hajj: 46)
Teks Arab
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Terjemah
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.”
Komentar Ulama
- Al-Ghazali:
“Hati adalah raja, jika rusak maka rusak seluruh anggota.”
📚 Ihya’ Ulumuddin
Hadis Pendukung
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً...
“Dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik seluruh tubuh.”
📚 HR. Bukhari & Muslim
Contoh Nyata
- Orang berpendidikan tinggi tapi menipu
- Rajin ibadah tapi zalim pada keluarga
IV. AZAB ALLAH TAK PERNAH TERLAMBAT
(Al-Hajj: 47–48)
Allah menegaskan: penangguhan bukan pembiaran.
Dalil
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Jangan kira Allah lalai dari perbuatan orang zalim.”
(QS. Ibrahim: 42)
Pelajaran
- Allah memberi waktu untuk tobat
- Jika waktu habis → hukuman pasti
V. AL-QUR’AN: UJIAN BAGI YANG SAKIT HATI
(Al-Hajj: 52–55)
Ayat ini menjelaskan:
- Godaan setan tak bisa merusak wahyu
- Tapi menjadi ujian bagi hati yang rusak
Komentar Ulama
- Ibnu Taimiyyah:
“Fitnah tidak merusak orang beriman, tapi membuka siapa yang munafik.”
📚 Majmu’ Fatawa
Contoh Kekinian
- Al-Qur’an dijadikan bahan dipelintir
- Agama dijadikan alat kepentingan
VI. KEADILAN TERAKHIR DI HARI KIAMAT
(Al-Hajj: 56–57)
Dalil
الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
“Kekuasaan pada hari itu hanyalah milik Allah.”
Pesan Penting
- Tak ada jabatan
- Tak ada harta
- Tak ada pembela palsu
VII. HIJRAH, PENGORBANAN, DAN JANJI SURGA
(Al-Hajj: 58–59)
Hadis
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
“Siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah ganti dengan yang lebih baik.”
📚 HR. Ahmad
Contoh Nyata
- Hijrah dari riba
- Hijrah dari maksiat
- Hijrah dari lingkungan buruk
VIII. MEMBELA DIRI DENGAN ADIL
(Al-Hajj: 60)
Islam bukan agama lemah, tapi agama adil.
Komentar Ulama
- Imam Asy-Syafi’i:
“Memaafkan lebih utama, tapi membela diri adalah hak.”
📚 Al-Umm
PENUTUP PESAN UTAMA
- Kekuasaan = amanah
- Hati = penentu keselamatan
- Dunia = ujian
- Akhirat = kepastian
KITAB RUJUKAN UTAMA
- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir Al-Qurthubi
- Mafatih al-Ghaib – Ar-Razi
- Ihya’ Ulumuddin – Al-Ghazali
- Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyyah
- Shahih Bukhari & Muslim
Post a Comment