KETIKA TAUHID DITOLAK, DAN LANGIT TAK LAGI MENUNGGU

“KETIKA TAUHID DITOLAK, DAN LANGIT TAK LAGI MENUNGGU”

(Surah Hūd: 61–80)


PEMBUKAAN 

الحمدُ للهِ الّذي لا يُعجِزُهُ شيءٌ في الأرضِ ولا في السّماءِ…
Segala puji bagi Allah…
yang tidak pernah lalai,
tidak pernah tertipu oleh penundaan taubat kita…

Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad ﷺ…
yang menangis di malam hari…
bukan karena kurang dunia…
tapi takut umatnya diseret ke neraka

Saudaraku…
malam ini…
kita tidak sedang mendengar kisah orang lain
kita sedang bercermin

Karena kaum Tsamud…
kaum Ibrahim…
kaum Luth…
bukan hanya cerita masa lalu
tetapi peringatan untuk hati yang masih hidup…


BAGIAN I – SERUAN TAUHID YANG LEMBUT, NAMUN DITOLAK (Ayat 61–63) 

Allah berfirman:

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku… sembahlah Allah…
tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia…”

Saudaraku…
perhatikan…
Nabi Shalih tidak datang dengan makian
tidak datang dengan ancaman dulu…

Beliau datang dengan panggilan:
“Ya qawmi… wahai kaumku…”

Panggilan cinta…
panggilan keluarga…
panggilan hati…

Tapi apa jawaban mereka?

“Dulu kami berharap padamu, wahai Shalih…”

Artinya apa?
👉 “Selama kamu tidak mengganggu berhala kami, kami suka padamu.”

Hari ini pun begitu…
agama disukai…
selama tidak melarang maksiat
selama tidak menyentuh kebiasaan
selama tidak mengusik dosa yang dinikmati


BAGIAN II – UNTA ALLAH DAN HATI YANG MEMBANGKANG (Ayat 64–68)

Allah kirim unta betina
bukan untuk diperah…
tapi untuk menguji ketaatan

Allah hanya berkata:
“Jangan ganggu…”

Hanya itu…
bukan shalat 100 rakaat…
bukan jihad…
hanya taat satu larangan

Tapi mereka bunuh…
bukan karena lapar…
tapi karena sombong

Dan Nabi Shalih berkata:

“Bersukarialah kalian tiga hari…”

Saudaraku…
itu bukan izin…
itu vonis

Tiga hari…
langit menunggu…
bumi menahan…
dan ketika perintah turun…

SATU TERIAKAN…
cukup satu…

Tidak ada pasukan…
tidak ada pedang…
tidak ada perlawanan…

SEMUA TUMBANG…

Seolah-olah…
mereka tidak pernah hidup


BAGIAN III – TAMU IBRAHIM & BATAS KASIH SAYANG (Ayat 69–76) 

Ibrahim…
bapak para nabi…
menyambut tamu dengan makanan…
bahkan sebelum bertanya siapa mereka…

Dan ketika tahu…
bahwa azab akan turun pada kaum Luth…

Ibrahim berdebat dengan malaikat

“Bagaimana jika masih ada orang beriman…?”

Ibrahim tidak membela dosa…
tapi mencari celah rahmat

Namun Allah berkata:
“Wahai Ibrahim… ketetapan telah datang…”

Saudaraku…
bahkan doa nabi pun ada batasnya
jika maksiat sudah menjadi budaya…


BAGIAN IV – NABI LUTH DAN FITRAH YANG DIPERKOSA 

Nabi Luth…
sendirian…
berhadapan dengan kaum yang tidak lagi malu

Mereka datang…
bergegas…
tanpa rasa bersalah…

Dan Nabi Luth berkata:

“Inilah putri-putriku… mereka lebih suci bagi kalian…”

Artinya apa…?
👉 “Kembalilah ke fitrah kalian…”

Tapi mereka menjawab:

“Engkau tahu apa yang kami inginkan…”

Astaghfirullah…

Saat manusia bangga pada dosa
saat maksiat dipamerkan…
saat fitrah dihina…

ITU TANDA AZAB SUDAH DEKAT…


PENUTUP 

Saudaraku…
kisah ini bukan dongeng…

Jika Allah menunda azab hari ini…
bukan karena kita aman…
tapi karena Allah masih memberi waktu…

Pertanyaannya…
👉 masihkah kita mau kembali…?


DOA PENUTUP

اللهم…
يا الله…
jika kaum Tsamud binasa karena sombong…
jangan binasakan kami karena dosa kami…

Ya Allah…
jika kaum Luth dihancurkan karena merusak fitrah…
jaga anak-anak kami…
jaga keluarga kami…
jaga hati kami…

Ya Allah…
jangan Engkau turunkan azab
sementara di masjid ini
masih ada air mata taubat…

Ya Allah…
kami mengaku…
kami lalai…
kami menunda taubat…
kami sering tahu kebenaran
tapi memilih kenyamanan…

Ya Allah…
jika Engkau tidak mengampuni kami…
jika Engkau tidak merahmati kami…
kami pasti termasuk orang yang rugi…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ



Tidak ada komentar