TAUHID VS TRADISI: Ketika Warisan Leluhur Mengalahkan Kebenaran
“TAUHID VS TRADISI: Ketika Warisan Leluhur Mengalahkan Kebenaran”
I. PEMBUKAAN (5–10 menit)
Opening emosional:
“Saudara-saudaraku… tidak semua yang diwariskan itu benar.
Tidak semua yang turun-temurun itu diridhai Tuhan.”
Humor pembuka ringan:
“Kalau semua warisan itu benar, maka warisan kolesterol juga harus kita pertahankan dengan bangga dong… ‘Ini kolesterol keluarga kami!’”
II. TAUHID TIDAK PERNAH BERDASAR TRADISI
📖 QS Az-Zukhruf: 21–22
Arab:
أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِّن قَبْلِهِ فَهُم بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ
Terjemah ringkas:
“Apakah Kami pernah memberi mereka kitab sebelum Al-Qur’an yang menyuruh menyembah selain Allah? Tidak. Tapi mereka berkata: Kami mengikuti agama nenek moyang kami.”
🔍 Tafsir Ulama
- Imam Ath-Thabari: ini hujjah palsu kaum musyrik; taqlid tanpa dalil (Tafsir Ath-Thabari).
- Ibnu Katsir: mayoritas kesesatan umat muncul karena membela tradisi, bukan kebenaran (Tafsir Ibnu Katsir, Az-Zukhruf).
🎯 Pesan Tauhid:
➡️ Tauhid itu dalil, bukan silsilah.
➡️ Benar bukan karena tua, tapi karena wahyu.
Humor:
“Kalau nenek moyang salah arah, masa kita ikut? Kalau GPS bapak kita rusak, masa kita bilang: ‘Ini GPS warisan keluarga!’” 🤭
III. POLA ABADI KAUM SOMBONG
📖 QS Az-Zukhruf: 23
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا…
Terjemah:
“Setiap kali Allah mengutus nabi, yang menentang pertama kali adalah orang-orang kaya dan mapan.”
🔍 Tafsir:
- Al-Qurthubi: orang yang nyaman dengan dunia paling berat menerima tauhid (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an).
- Fakhruddin Ar-Razi: kemapanan sering melahirkan ketakutan kehilangan status.
Humor pahit-manis:
“Yang nolak dakwah biasanya bukan yang lapar… tapi yang takut omzet turun.” 😅
IV. IBRAHIM: TELADAN TAUHID MELAWAN MAYORITAS
📖 QS Az-Zukhruf: 26–27
إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ • إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي
Terjemah:
“Aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Allah yang menciptakanku.”
🔍 Tafsir:
- Ibnu Taimiyah: tauhid menuntut bara’ (berlepas diri) sebelum wala’ (Majmu’ Fatawa).
- Hasan Al-Bashri: “Tauhid itu keberanian menentang ramai demi kebenaran.”
🎯 Pelajaran: ➡️ Tauhid kadang membuat kita sendirian, tapi Allah bersama kita.
Humor reflektif:
“Ibrahim sendirian melawan satu kota. Kita? Sendirian karena beda grup WA aja sudah galau.” 😂
V. DUNIA BUKAN TANDA CINTA ALLAH
📖 QS Az-Zukhruf: 33–35 (intisari)
Terjemah makna:
Seandainya tidak takut manusia kafir semua, Allah akan beri orang kafir rumah perak dan emas.
🔍 Tafsir:
- Ibnu Katsir: dunia itu murahan di sisi Allah.
- Imam Ahmad: “Dunia di tangan orang kafir bukan kemuliaan, tapi ujian.”
📜 Hadis Pendukung
Arab:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ…
Terjemah:
“Jika dunia sebanding sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya orang kafir tak diberi seteguk air.”
📚 HR. Tirmidzi
Humor:
“Rumah mewah bukan bukti iman. Bisa jadi… bukti cicilan 25 tahun.” 😆
VI. BAHAYA BERPIALING DARI AL-QUR’AN
📖 QS Az-Zukhruf: 36
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا
Terjemah:
“Siapa berpaling dari Al-Qur’an, Allah biarkan setan jadi temannya.”
🔍 Tafsir:
- Al-Baghawi: maksiat yang terus-menerus melahirkan pendamping setan.
- Ibnul Qayyim: hati tanpa dzikir adalah rumah kosong, pasti ditempati setan (Al-Wabil Ash-Shayyib).
Humor menohok:
“Kalau rumah kosong kemasukan maling, jangan salahkan maling. Salahin rumahnya kosong.” 😬
VII. PENUTUP
“Tauhid bukan sekadar kalimat.
Ia adalah keberanian meninggalkan salah, meski diwariskan.
Tauhid bukan sekadar yakin…
tapi setia sampai mati.”
🌧️ DOA
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على التوحيد
Ya Allah… jika kami tersesat karena tradisi, luruskan kami…
Jika kami jauh karena dunia, dekatkan kami…
Jika hati kami keras, pecahkan dengan cahaya tauhid…
Jangan jadikan kami generasi yang membela nenek moyang,
tapi mengkhianati kebenaran…
📚 KITAB RUJUKAN UTAMA
- Tafsir Ath-Thabari
- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir Al-Qurthubi
- Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyah
- Al-Wabil Ash-Shayyib – Ibnul Qayyim
- Shahih Tirmidzi
Post a Comment