Adab Ulama dan Penuntut Ilmu terhadap Kekuasaan


Adab Ulama dan Penuntut Ilmu terhadap Kekuasaan


Pembukaan (±10 menit)

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

Asyhadu an lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Ilmu adalah cahaya.
Dan cahaya itu paling berbahaya jika diletakkan di dekat api kekuasaan.

Banyak orang rusak bukan karena bodoh,
tetapi karena ilmunya mendekat kepada dunia.
Banyak orang jatuh bukan karena miskin,
tetapi karena ingin dihormati oleh penguasa.

Maka para ulama salaf sangat takut pada satu hal:
takut ilmunya mati sebelum jasadnya mati.


Bagian I – Kedudukan Ilmu dan Ulama 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ»
“Para ulama adalah pemegang amanah para rasul…”

Tetapi hadis itu tidak berhenti di situ.

«مَا لَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَلَمْ يَدْخُلُوا فِي الدُّنْيَا»
“…selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak tenggelam dalam urusan dunia.”

Hadirin…
Ini bukan celaan kepada kekuasaan,
tetapi peringatan keras bagi hati orang berilmu.

Karena ilmu itu amanah,
dan amanah paling berat adalah amanah lisan di hadapan penguasa.


Bagian II – Bahaya Mendekat kepada Kekuasaan 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا ازْدَادَ رَجُلٌ مِنَ السُّلْطَانِ قُرْبًا إِلَّا ازْدَادَ مِنَ اللَّهِ بُعْدًا»
“Tidaklah seseorang semakin dekat dengan penguasa, kecuali ia semakin jauh dari Allah.”

Mengapa?

Karena:

  • Lidah mulai ditimbang dengan jabatan
  • Kebenaran mulai dihitung dengan fasilitas
  • Dakwah mulai disesuaikan dengan undangan

Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه berkata:

“Seseorang masuk menemui penguasa dengan membawa agamanya,
lalu keluar tanpa membawa agamanya.”

Ditanya: Bagaimana bisa?
Ia menjawab:

“Karena ia meridhakan penguasa dengan sesuatu yang dimurkai Allah.”

Hadirin…
Agama tidak dicuri dari tangan,
tetapi ditukar dengan pujian.


Bagian III – Sikap Ulama Salaf 

Umar bin Khattab رضي الله عنه gemetar ketika mendengar hadis tentang pemimpin yang dihisab di atas jembatan Jahannam.

Abu Hanifah رحمه الله menolak jabatan, lalu berkata kepada penguasa:

“Jika aku jujur, aku memang tidak layak.
Jika aku dusta, maka haram engkau mengangkatku.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

“Seseorang yang menjauhi penguasa, meski amalnya hanya yang wajib,
lebih utama daripada orang yang dekat dengan penguasa meski ia puasa, qiyam, haji, dan jihad.”

Kenapa?

Karena fitnah kekuasaan itu sunyi tapi mematikan.
Ia tidak berisik, tapi menggerogoti keikhlasan.


Bagian IV – Adab Penuntut Ilmu di Zaman Fitnah 

Hudzaifah رضي الله عنه berkata:

“Waspadalah kalian dari pintu-pintu fitnah.”
Ditanya: Apa itu pintu fitnah?
Ia menjawab:
“Pintu-pintu para penguasa.”

Adab penuntut ilmu:

  1. Menjaga jarak hati, meski dekat secara fisik
  2. Tidak menjual dalil untuk kepentingan
  3. Tidak memoles kezaliman dengan ayat
  4. Tidak membungkam kebenaran demi keamanan
  5. Tidak membenarkan kebatilan demi jabatan

Karena ilmu yang diam saat kebenaran dibutuhkan
adalah ilmu yang sedang sekarat.


Bagian V – Tangisan Muhasabah 

Hadirin…
Mari kita bertanya pada diri kita:

  • Apakah kita mencintai pujian lebih dari kejujuran?
  • Apakah kita takut kehilangan akses lebih dari takut kehilangan Allah?
  • Apakah kita berdakwah karena amanah… atau karena undangan?

Ibnu Umar رضي الله عنه berkata:

“Kami menganggap berbicara berbeda di hadapan penguasa sebagai kemunafikan.”

Jika salaf saja takut munafik,
bagaimana dengan kita…?


DOA 

اللهم يا الله، يا ربنا…

Ampuni kami jika ilmu kami lebih kami banggakan daripada kami amalkan.
Ampuni kami jika lisan kami lembut kepada manusia, tapi keras kepada kebenaran.

اللهم إنا نعوذ بك من علم لا ينفع،
ومن قلب لا يخشع،
ومن نفس لا تشبع،
ومن دعاء لا يُسمع.

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami ulama yang menjual ayat-Mu.
Jangan Engkau jadikan kami penuntut ilmu yang mengejar dunia dengan agama.

Ya Allah…
Selamatkan agama kami dari fitnah kekuasaan.
Selamatkan lisan kami dari dusta yang dibungkus hikmah palsu.
Selamatkan hati kami dari cinta jabatan yang membinasakan.

اللهم إن كان قربنا من السلطان يبعدنا عنك، فأبعدنا عنه.
وإن كان بعدنا عنه يقربنا إليك، فقربنا إليك.

Ya Allah…
Wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha,
bukan dalam keadaan Engkau murka.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا،
وهب لنا من لدنك رحمة،
إنك أنت الوهاب.

وصلى الله على نبينا محمد،
وعلى آله وصحبه أجمعين.
والحمد لله رب العالمين.



Tidak ada komentar