DZIKIR: AMAL RINGAN YANG MENGGUNCANG TIMBANGAN

“DZIKIR: AMAL RINGAN YANG MENGGUNCANG TIMBANGAN”


Pembukaan 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…
Segala puji hanya milik Allah,
yang menyelamatkan hati-hati yang lemah dengan dzikir,
yang menguatkan jiwa-jiwa rapuh dengan tasbih,
yang mengangkat dosa-dosa besar dengan kalimat yang kecil di lisan.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,
kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang masih diberi kesempatan mengucapkan:
“Subhanallah…”

Hadirin yang dirahmati Allah,
malam ini kita tidak sedang bicara politik,
tidak sedang bicara ekonomi,
tidak sedang bicara dunia…

👉 Kita sedang bicara tentang amalan yang paling diremehkan, tapi paling berat di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman:
Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim.”

(HR. Abu Hurairah)

Ringan di lisan…
berat di timbangan…
dicintai Allah…


Kita Sibuk, Tapi Kosong 

Hadirin…
kita ini sibuk sekali.

Bangun tidur → HP
Mau tidur → HP
Di jalan → HP
Di masjid → HP (modus “cek jam”)

Ironisnya…
lisan kita capek komentar, tapi malas dzikir.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar
lebih aku cintai daripada seluruh dunia yang disinari matahari.”

(HR. Abu Hurairah)

Kalau Nabi ﷺ hidup hari ini,
beliau tidak iri pada rumah kita,
tidak iri pada kendaraan kita,
tapi mungkin… sedih melihat lidah kita yang jarang menyebut Allah.


Dzikir Itu Perisai, Bukan Hiasan 

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Ambillah perisai kalian!”

Para sahabat kaget: “Apakah dari musuh, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Bukan. Dari api neraka.”

Lalu beliau menyebut: Subhanallah – Alhamdulillah – La ilaha illallah – Allahu Akbar – La haula wa la quwwata illa billah

Saudaraku…
kita pasang CCTV di rumah,
kita pasang alarm di motor,
tapi kita lupa pasang perisai untuk kubur.

👉 Dzikir itu bukan hiasan bibir orang saleh.
Dzikir itu benteng orang berdosa.


Dzikir Sejak Awal Penciptaan 

Ibnu Abbas meriwayatkan:
Saat Allah menciptakan ‘Arsy, para malaikat kewalahan memikulnya.
Allah berfirman:

“Ucapkanlah: Subhanallah.”

Maka ringanlah ‘Arsy itu.

Saat Adam ‘alaihis salam bersin, Allah mengilhamkan:

“Alhamdulillah.”

Saat kaum Nuh tenggelam dalam syirik:

“La ilaha illallah.”

Saat Ibrahim melihat tebusan kurban:

“Allahu Akbar.”

Dan saat Nabi ﷺ kagum:

“La haula wa la quwwata illa billah.”

Hadirin…
dzikir ini lebih tua dari dosa kita.
Lebih agung dari masalah kita.
Lebih luas dari luka hidup kita.


Dzikir Saat Tak Punya Apa-apa 

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya Rasulullah, orang-orang bersedekah, tapi aku tidak punya apa-apa…”

Maka beliau hanya berdzikir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kalimat-kalimat itu lebih baik bagimu daripada satu mud emas yang disedekahkan.”

👉 Kalau tangan tak mampu memberi,
👉 jangan biarkan lisan ikut miskin.


Penutup 

Ibnu Mas‘ud berkata: Allah memberi harta kepada yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai,
tapi Allah hanya memberi iman kepada yang Dia cintai.

Dan ciri iman itu…
lisannya hidup dengan dzikir.


DOA 

(dipimpin pelan, bertahap, jamaah diajak ikut)

1. Pembukaan Taubat

Istighfar perlahan 3×
(jamaah ikut)

2. Dzikir Timbangan Amal

Bersama-sama:

Subhanallahi wa bihamdih (33×)
Subhanallahil ‘Azhim (33×)

3. Dzikir Perisai Neraka

Dipandu perlahan:

Subhanallah
Alhamdulillah
La ilaha illallah
Allahu Akbar
La haula wa la quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Azhim

4. Dzikir Hati 

“Diam… sebut nama Allah di hati masing-masing…”

5. Doa 

Ya Allah…
jika dzikir kami sedikit, ampuni…
jika hati kami lalai, maafkan…
jika lisan kami kering, basahi…

Jadikan kalimat-kalimat ini
teman kami di kubur,
pemberat timbangan kami,
dan perisai kami dari neraka…

Tidak ada komentar