Keluarga di Bawah Amanah Langit: Hak dan Tanggung Jawab Suami–Istri
“Keluarga di Bawah Amanah Langit: Hak dan Tanggung Jawab Suami–Istri”
I. PEMBUKAAN
Alhamdulillāh…
Segala puji hanya milik Allah ﷻ,
Dzat yang menciptakan kita berpasang-pasangan,
bukan agar saling melukai,
tetapi agar saling menenangkan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
manusia paling lembut kepada keluarganya,
paling penyabar kepada istrinya,
dan paling adil dalam memimpin rumah tangga.
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Rumah tangga bukan sekadar akad,
tapi amanah.
Bukan sekadar cinta,
tapi ibadah panjang yang diuji setiap hari.
Hari ini, kita tidak sedang mencari siapa yang paling benar,
tetapi siapa yang paling siap bertanggung jawab di hadapan Allah.
II. LANDASAN IMAN: KELUARGA ADALAH UJIAN
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini tidak menyebut hanya suami,
dan tidak hanya istri.
Yang dipanggil: orang-orang beriman.
Artinya:
- Suami tidak selamat sendirian
- Istri tidak bisa berlindung sendiri
- Anak bukan hanya titipan, tapi saksi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”
Rumah tangga adalah medan hisab tercepat.
Dosa paling sering lahir bukan di masjid,
tetapi di rumah, saat emosi dilepas dan adab dilupakan.
III. HAK SUAMI ATAS ISTRI
Hadirin…
Islam tidak menzalimi perempuan,
tetapi menempatkannya dalam kemuliaan adab.
Hak suami bukan untuk menindas,
tetapi agar rumah tidak kehilangan arah.
1. Hak ditaati dalam ketaatan kepada Allah
Selama bukan maksiat, istri menjaga perintah suami.
Bukan karena takut suami,
tetapi karena taat kepada Allah.
2. Hak dijaga kehormatan dan amanahnya
Istri menjaga diri, kehormatan, dan harta suami,
saat suami ada maupun tidak ada.
3. Hak dilayani dengan adab
Pelayanan bukan perbudakan,
tetapi ibadah yang sunyi dan sering tidak terlihat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang istri menjaga shalatnya, puasanya, kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”
Wahai para istri…
Allah melihat lelahmu,
bahkan ketika suamimu lupa mengucap terima kasih.
IV. HAK ISTRI ATAS SUAMI
Namun…
Islam lebih dahulu menegur suami sebelum menuntut istri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya kepada keluarganya.”
Perhatikan…
Bukan yang paling banyak hafalannya,
tapi yang paling lembut di rumahnya.
1. Hak dinafkahi dari yang halal
Bukan besar kecilnya,
tetapi halalnya.
Makanan haram:
- mengeraskan hati istri
- merusak doa anak
- mematikan keberkahan rumah
2. Hak diperlakukan dengan lemah lembut
Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul istri.
Tidak membentak.
Tidak merendahkan.
Padahal beliau adalah pemimpin umat.
3. Hak diajari agama
Bukan hanya disuruh taat,
tetapi dibimbing menuju surga.
Suami yang membiarkan istrinya jahil agama,
sedang menyiapkan kesaksian buruk untuk dirinya sendiri.
4. Hak disabari kekurangannya
Umar bin Khattab رضي الله عنه bersabar kepada istrinya,
karena ia sadar:
- istrinya penjaga neraka baginya
- pelayan rumahnya
- ibu dari anak-anaknya
Wahai para suami…
Berapa kali kita menuntut,
tapi lupa berterima kasih?
V. KESEIMBANGAN: BUKAN SIAPA PALING BENAR, TAPI SIAPA PALING IKHLAS
Rumah tangga hancur bukan karena kurang cinta,
tetapi karena terlalu banyak tuntutan dan sedikit pengorbanan.
Suami ingin dihormati,
istri ingin dimengerti.
Jika dua-duanya menunggu,
maka rumah berubah menjadi medan dingin.
Namun jika salah satu mengalah karena Allah,
maka malaikat mencatatnya sebagai ibadah besar.
VI. DOA
Hadirin yang dirahmati Allah…
Malam ini,
kita tidak sedang membicarakan pasangan orang lain,
tetapi pasangan yang akan menjadi saksi kita di akhirat.
Bayangkan… Saat kita ditanya Allah:
- “Bagaimana engkau memperlakukan istrimu?”
- “Bagaimana engkau taat kepada suamimu?”
Tidak ada jawaban bersama.
Masing-masing sendiri di hadapan Allah.
DOA
Allāhumma yā Allah…
Ampuni dosa kami sebagai suami…
yang sering keras kepada istri kami…
Ampuni dosa kami sebagai istri…
yang sering membantah dan melukai hati suami kami…
Yā Allah…
Jika rumah kami pernah menjadi tempat maksiat,
jadikan ia kembali rumah dzikir…
Jika lisan kami saling menyakiti,
lembutkanlah dengan takut kepada-Mu…
Jika cinta kami memudar,
hidupkan kembali dengan iman…
Yā Allah…
Jangan jadikan pasangan kami sebagai sebab kami masuk neraka,
tetapi jadikan ia pegangan tangan menuju surga…
Satukan kami dalam ridha-Mu,
wafatkan kami dalam husnul khatimah,
dan kumpulkan kami kembali di surga-Mu…
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn…
Post a Comment