SABAR MENGHADAPI MUSIBAH
SABAR MENGHADAPI MUSIBAH
1. PEMBUKAAN (HIDUP & NYENTIL)
Jamaah rahimakumullah…
Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bebas dari musibah.
Yang beda cuma:
- ada yang musibahnya kelihatan
- ada yang musibahnya disimpan di dada
Ada yang kehilangan:
- orang tua
- pasangan
- anak
- harta
- kesehatan
- atau… kehilangan ketenangan hidup
➡️ Pertanyaannya bukan “kenapa saya?”
➡️ Tapi: “bagaimana sikap saya?”
2. MUSIBAH ADALAH TAKDIR, SIKAP KITA PILIHAN
📖 Dalil Al-Qur’an
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 155)
Artinya:
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
📌 Kata kuncinya: “bi syai’in” → sedikit dulu
Kalau sedikit saja kita sudah tidak sabar, bagaimana yang besar?
🎓 Komentar Ulama
Imam Ibn Katsir رحمه الله:
“Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah tanda perhatian Allah kepada hamba-Nya.”
📚 Tafsir Ibn Katsir, 1/215
3. HADITS EMAS: SURAT RASULULLAH ﷺ KEPADA MU’ADZ
Hadits yang Anda bawakan (no. 340) adalah sangat agung.
🕌 Teks Inti Hadits
إِنَّ نُفُوسَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَهَالِينَا وَأَوْلَادَنَا… مِنْ مَوَاهِبِ اللَّهِ… وَعَوَارِيهِ الْمُسْتَوْدَعَةِ
Artinya:
“Sesungguhnya jiwa, harta, keluarga, dan anak-anak kita adalah pemberian Allah dan titipan.”
📌 Poin penting:
- Titipan → boleh dipakai
- Tapi wajib siap dikembalikan
😄 Humor Nyentil
Kita ini sering:
- titipan motor lecet → marah
- titipan anak Allah diambil → marah ke Allah
Padahal yang punya titipan itu Allah 😅
🎓 Ulasan Abu Laits As-Samarqandi
Beliau menjelaskan:
Orang yang berpikir tentang kematian dirinya sendiri, tidak akan berlebihan dalam bersedih.
📚 Tanbîh al-Ghâfilîn
➡️ Musibah jadi ringan, kalau kita ingat: “sebentar lagi giliran saya”
4. JANGAN SALAH ALAMAT: MENGELUH KE ALLAH ATAU TENTANG ALLAH?
📜 Hadits Anas bin Malik (no. 341)
مَنْ أَصْبَحَ يَشْكُو مُصِيبَتَهُ فَإِنَّمَا يَشْكُو اللَّهَ
Artinya:
“Siapa yang mengeluhkan musibahnya, maka ia sedang mengeluhkan Allah.”
📌 Bukan berarti tidak boleh curhat,
tapi jangan protes pada takdir.
😄 Humor Ringan
Curhat itu:
- “Ya Allah, aku lelah” ✅
Protes itu: - “Ya Allah, kenapa sih aku terus?” ❌
Beda tipis… tapi akibatnya beda jauh.
5. ANAK MENINGGAL: BUKAN HILANG, TAPI MENDAHULUI
📖 Hadits Abu Hurairah (no. 342)
مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَلِجَ النَّارَ
Artinya:
“Siapa yang kehilangan tiga anak, tidak akan masuk neraka kecuali sekadar lewat.”
📌 Anak itu bukan hilang, tapi menunggu orang tuanya di akhirat.
🎓 Ulasan Imam An-Nawawi
“Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah bagi orang tua yang sabar.”
📚 Syarh Shahih Muslim
6. SABAR PALING MAHAL: SAAT DETIK PERTAMA
📜 Hadits (no. 348)
الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Artinya:
“Sabar yang paling bernilai adalah pada benturan pertama.”
😄 Humor Relate: Setelah 7 hari:
- semua orang sudah bilang: “yang sabar ya…”
Tapi pahala terbesar justru saat belum ada yang menenangkan.
7. MENANGIS BOLEH, MERATAPI DILARANG
📜 Hadits wafatnya Ibrahim putra Nabi ﷺ (no. 349)
الْقَلْبُ يَحْزَنُ وَالْعَيْنُ تَدْمَعُ وَلَا نَقُولُ مَا يُسْخِطُ الرَّبَّ
Artinya:
“Hati bersedih, mata menangis, tapi kami tidak mengatakan yang dimurkai Allah.”
📌 Islam tidak melarang air mata
Islam melarang:
- meratap
- menyalahkan takdir
- histeris berlebihan
8. SABAR ITU TIGA LEVEL (Hadits no. 352)
1️⃣ Sabar dalam taat → 600 derajat
2️⃣ Sabar menjauhi maksiat → 300 derajat
3️⃣ Sabar menghadapi musibah → 900 derajat
😄 Humor:
Makanya orang kena musibah itu bonus poinnya gede
asal… tidak hangus karena marah
9. PENUTUP NASIHAT (MENUSUK HALUS)
Ibnul Mubarak berkata:
“Musibah itu satu. Kalau dijeriti, jadi dua: musibah + hilangnya pahala.”
📚 Az-Zuhd
10. PENUTUP HUMOR RENDAH HATI
Musibah itu seperti cabe:
- sedikit → pedas
- banyak → nangis
Tapi kalau sudah biasa…
lama-lama lidah iman kita kuat 😄
KITAB RUJUKAN UTAMA
- Tanbîh al-Ghâfilîn – Abu Laits As-Samarqandi
- Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi
- Tafsir Ibn Katsir
- Madarijus Salikin – Ibnul Qayyim
- Az-Zuhd – Abdullah bin Mubarak
Post a Comment