Satu Anak Panah yang Mengantar ke Surga



“Satu Anak Panah yang Mengantar ke Surga”


Pembukaan

الحمد لله رب العالمين…
نحمده ونستعينه ونستغفره،
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Pada malam yang mulia ini,
kita duduk bukan karena kuatnya iman kita,
tetapi karena Allah masih memberi kita kesempatan
untuk mendengar peringatan…

Betapa banyak orang yang dulu duduk di masjid,
hari ini sudah terbaring di liang lahat…
Betapa banyak yang dulu mendengar ayat dan hadits,
hari ini hanya amalnya yang berbicara…

Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,
kepada keluarganya, sahabatnya,
dan kepada orang-orang yang mengikuti jejak jihadnya
hingga hari kiamat…


Mukadimah 

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Islam ini tidak dibangun oleh orang-orang lemah,
Islam ini tidak tegak oleh mereka yang hanya mencintai dunia,
Islam ini tegak dengan pengorbanan, kesiapan, dan kekuatan.

Dan malam ini,
kita tidak sedang membicarakan senjata…
kita sedang membicarakan hati yang siap membela agama Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”
(diulang Nabi ﷺ tiga kali)

Mengapa Nabi mengulanginya?
Karena umat ini mudah lupa
Karena umat ini mudah lalai


Satu Anak Panah, Tiga Orang Masuk Surga 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memasukkan ke dalam surga dengan satu anak panah, tiga orang:
orang yang memanah,
orang yang membuatnya dengan niat pahala,
dan orang yang membantu dengannya.”

Satu… anak… panah…

Bukan ribuan rakaat,
bukan harta yang menggunung,
tetapi satu panah yang keluar dari hati yang ikhlas.

Ma’asyiral muslimin…

Berapa banyak amal kita yang besar di mata manusia,
namun ringan di sisi Allah…
Dan betapa banyak amal yang tampak kecil,
tetapi beratnya melebihi Gunung Uhud.

Apakah kita pernah menangis,
karena merasa tidak pernah melakukan apa pun
untuk kemuliaan Islam
?


Keutamaan yang Dicintai Nabi ﷺ 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Memanahlah dan berkendaralah.
Dan jika kalian memanah, itu lebih aku cintai
daripada kalian berkendara.”

Saudaraku…

Ini bukan soal busur dan kuda,
ini soal kesungguhan dan kesiapan.

Hari ini umat Islam tak kekurangan jumlah,
tetapi kekurangan jiwa yang siap berkorban.

Kita pandai bicara,
pandai menilai,
pandai menyalahkan…

Tetapi ketika Islam dihina,
Al-Qur’an dilecehkan,
umat dizalimi…

berapa banyak dari kita yang diam?


Sa‘d bin Abi Waqqash dan Doa Nabi 

Pada perang Uhud,
Rasulullah ﷺ berkata kepada Sa‘d:

“Panahlah wahai Sa‘d,
ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Kalimat ini…
tidak Nabi ﷺ ucapkan kepada siapa pun selain Sa‘d…

Lalu Nabi berdoa:

“Ya Allah, tepatkan panahnya dan kabulkan doanya.”

Dan ketahuilah…

Tidak ada doa Nabi ﷺ yang tertolak.

Maka Sa‘d dikenal sebagai
orang yang doanya mustajab.

Siapa kita di hadapan Allah?
Amal apa yang bisa kita banggakan?


Kemuliaan dan Kehinaan Umat 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kemuliaan ada pada ubun-ubun kuda,
dan kehinaan ada pada ekor sapi.”

Artinya…

Ketika umat ini sibuk dengan jihad dan persiapan,
Allah angkat derajat mereka…

Tetapi ketika umat ini hanya sibuk
dengan dunia, harta, dan kenyamanan…

Allah biarkan mereka terhina.

Bukankah kita melihatnya hari ini?
Bukankah umat Islam diremehkan?
Bukankah darah kaum muslimin murah?

Bukan karena Islam lemah,
tetapi karena umatnya menjauh dari sunnah kekuatan.


Meninggalkan Memanah = Meninggalkan Sunnah 

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa meninggalkan memanah
setelah ia diajari,
maka sungguh ia telah meninggalkan satu sunnah.”

Saudaraku…

Berapa banyak sunnah yang kita tinggalkan
karena merasa tidak penting…

Padahal itulah sebab kelemahan kita.

Islam bukan agama yang lembek,
Islam bukan agama yang hanya pandai menangis…

Islam adalah agama kesiapan, kehormatan, dan kekuatan.


Janji Surga yang Membuat Hati Hancur 

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Anas:

“Barang siapa memanah dengan niat
mengharap wajah Allah dan kemuliaan Islam,
maka untuk setiap lemparan
ia mendapatkan seorang bidadari,
dibangunkan baginya tenda dari mutiara putih,
dan panah itu lebih berat dari Gunung Uhud
di hari kiamat.”

Ya Allah…
di mana kita dari janji ini?

Apakah hati kita masih bergetar
ketika mendengar surga?

Ataukah dunia telah menutup mata kita?


 Doa 

Ya Allah…
kami lemah,
kami penuh dosa,
kami terlalu cinta dunia…

Kami tidak meminta mati sebagai syuhada
karena kami tahu iman kami rapuh…

Tetapi ya Allah…
jangan Engkau matikan kami
dalam keadaan membenci agama-Mu…

Ya Allah…
jangan Engkau cabut iman kami
saat dunia lebih kami cintai
daripada Islam…

Ya Allah…
jika kami belum mampu berjihad dengan jiwa,
maka jangan Engkau cabut niat jihad dari hati kami…

Ya Allah…
bangkitkan umat ini…
bangkitkan keberanian umat ini…
bangkitkan kehormatan Islam ini…

Rabbana la tuzigh qulubana ba‘da idh hadaytana…
Rabbana taqabbal minna…
Innaka Antas-Sami‘ul ‘Alim…



Tidak ada komentar