Tuli, Bisu, Buta — Tapi Punya Telinga, Lisan, dan Mata

Materi Ceramah Tafsir

QS Al-Baqarah Ayat 18

“Tuli, Bisu, Buta — Tapi Punya Telinga, Lisan, dan Mata”

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
“(Mereka) tuli, bisu, lagi buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 18)


I. Mukadimah: Ini Bukan Cacat Fisik

Ayat ini bukan bicara tentang difabel fisik.
Ini tentang cacat hati.

Mereka:

  • Punya telinga → tapi tak mau mendengar kebenaran
  • Punya lisan → tapi tak mau berkata jujur
  • Punya mata → tapi tak mau melihat tanda-tanda Allah

Ini penyakit paling bahaya.
Karena orang yang sadar sakit bisa berobat.
Tapi orang yang merasa sehat padahal sakit… susah disembuhkan!


II. Dalil Pendukung dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِي الصُّدُوْرِ
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)

Dan juga:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.”
(QS. Al-A’raf: 179)


III. Tafsir Para Ulama

📖 Imam Ibn Kathir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm beliau menjelaskan:
Mereka tuli dari mendengar kebenaran, bisu dari mengucapkan kebenaran, dan buta dari melihat jalan hidayah.
(Tafsir Ibn Kathir, 1/69)

📖 Imam At-Ṭabari

Dalam Jāmi’ al-Bayān:
Maknanya adalah penolakan total terhadap kebenaran hingga mereka tidak lagi memiliki kesiapan untuk kembali.
(Jāmi’ al-Bayān, Tafsir QS 2:18)

📖 Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān:
Ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan menolak kebenaran dapat mematikan fungsi ruhani manusia.
(Al-Jāmi’, 1/212)


IV. Hadits Tentang Hati yang Tertutup

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ... فَإِنْ تَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ الرَّانُ
“Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, hatinya dibersihkan. Jika ia terus berbuat dosa, maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3334, hasan shahih)

Itulah proses jadi “tuli, bisu, buta”.

Awalnya cuma titik.
Lama-lama blackout total.


V. Mengapa Mereka Tidak Kembali?

Allah menutup ayat dengan:

فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
“Mereka tidak dapat kembali.”

Karena kebiasaan menolak nasihat membuat hati membeku.

Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras.”
(QS. Al-Baqarah: 74)

Hati kalau sudah keras…
Nasihat masuk mental.

Seperti air disiram ke batu.
Tidak meresap.


VI. Humor Tajam Biar Melek

Kadang kita ini begini:

Kalau dengar gosip…
Subhanallah… telinganya tajam sekali!

Tapi kalau dengar nasihat…
Langsung sinyal hilang.

Kalau lihat diskon…
Matanya 4K Ultra HD!

Tapi kalau lihat ayat Al-Qur’an…
Resolusinya 144p.

Kalau ngomong soal orang lain…
Lisannya lancar kayak komentator bola.

Tapi kalau disuruh dzikir…
Loading…

Itu namanya:
Sehat jasmani, error rohani.


VII. Refleksi untuk Diri

Jangan-jangan:

  • Kita sering hadir di majelis… tapi hati tidak hadir.
  • Kita sering dengar ayat… tapi tidak masuk ke dada.
  • Kita tahu kebenaran… tapi menunda taubat.

Ingat…

Orang yang tuli fisik masih bisa masuk surga.
Orang yang buta fisik bisa jadi wali Allah.

Tapi orang yang tuli hati…
Susah menerima hidayah.


VIII. Ulasan Ruhani Mendalam

Ibnul Qayyim dalam Ighāthatul Lahfān menjelaskan:
Hati memiliki tiga kondisi: hidup, sakit, atau mati.
Hati yang mati tidak lagi merasakan lezatnya ketaatan dan pahitnya maksiat.
(Ighāthatul Lahfān, 1/9)

Kalau maksiat sudah terasa biasa…
Itu tanda alarm hati mulai rusak.


IX. Pesan Penutup

Jamaah sekalian…

Jangan tunggu hati jadi keras.
Jangan tunggu nasihat tak lagi menyentuh.

Kalau hari ini masih bisa menangis saat dengar ayat…
Itu tanda hati masih hidup.

Kalau hari ini masih gelisah saat berdosa…
Itu tanda cahaya belum padam.


Doa Penutup

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami tuli dari kebenaran.
Jangan Engkau jadikan kami bisu dari kejujuran.
Jangan Engkau jadikan kami buta dari hidayah-Mu.

Ya Allah…
Lembutkan hati kami.
Hidupkan jiwa kami.
Bimbing kami kembali sebelum Engkau tutup pintu taubat.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Tidak ada komentar