Wara’: Jalan Sunyi Para Kekasih Allah


Wara’: Jalan Sunyi Para Kekasih Allah


PEMBUKAAN 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره،
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Di zaman ini, agama sering diukur dari banyaknya ibadah lahir.
Siapa yang shalatnya panjang, puasanya sering, sedekahnya besar—dianggap paling dekat dengan Allah.

Namun para salaf berkata:
bukan banyaknya amal yang menentukan, tapi bersih atau tidaknya hati dan kehati-hatian dalam agama.

Karena itulah para ulama membuka bab yang agung ini dengan satu nama:
BAB AL-WARA’.


MAKNA WARA’ MENURUT SALAF 

Abdullah bin Mutharrif berkata:

“Engkau akan menjumpai dua orang; yang satu lebih banyak puasa, shalat, dan sedekahnya, tetapi yang satunya lebih besar pahalanya.”
Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
“Karena ia lebih kuat wara’-nya.”

Wara’ artinya:

  • menjaga diri dari haram
  • menjauhi syubhat
  • dan berhati-hati agar tidak menyakiti Allah walau dalam perkara kecil

Wara’ bukan soal pakaian.
Bukan soal penampilan.
Tapi soal rasa takut di hati.


WARA’ ADALAH INTI IBADAH 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian shalat sampai membungkuk seperti busur, dan berpuasa sampai seperti tali busur, semua itu tidak bermanfaat kecuali dengan wara’.”

Maka:

  • shalat tanpa wara’ → hampa
  • puasa tanpa wara’ → sia-sia
  • ilmu tanpa wara’ → petaka

Karena Allah tidak melihat banyaknya gerakan,
tapi kejujuran hati dan kebersihan diri dari dosa.


WARA’ LEBIH TINGGI DARI SEKADAR IBADAH SUNNAH 

Allah Ta‘ala berfirman dalam hadits qudsi:

“Tinggalkan apa yang Aku larang, niscaya engkau menjadi orang yang paling wara’.”

Para ulama berkata:

“Meninggalkan satu dosa lebih berat di sisi Allah daripada melakukan seribu amal sunnah.”

Mengapa? Karena amal sunnah bisa bercampur riya’,
sedangkan meninggalkan dosa murni karena takut kepada Allah.


WARA’ PARA SAHABAT 

Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه berkata:

“Kami meninggalkan sembilan persepuluh perkara halal karena takut terjatuh ke dalam syubhat.”

Bayangkan… Hari ini kita:

  • yang jelas haram saja masih dikerjakan
  • yang syubhat justru dibela
  • yang halal dipaksakan walau melukai orang lain

Inilah perbedaan zaman.


Kisah Umar dan Minyak Kaum Muslimin

Ketika anak Umar mengusap sisa minyak milik kaum muslimin ke rambutnya, Umar langsung mencukur rambut anaknya.

Mengapa? Karena wara’ tidak kenal toleransi dalam amanah umat.


WARA’ PARA ULAMA SALAF 

Abdullah bin Mubarak berkata:

“Meninggalkan satu keping uang haram lebih baik daripada bersedekah seratus ribu keping.”

Dan ketika ia tak sengaja membawa pulang pena pinjaman, ia menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengembalikannya.

Hari ini? Pulpen masjid dibawa pulang tanpa rasa bersalah.
Uang titipan diambil dengan dalih “nanti diganti”.

Inilah matinya wara’.


HALAL, HARAM, DAN SYUBHAT 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat.”

Barang siapa menjaga diri dari syubhat:

  • selamat agamanya
  • bersih kehormatannya
  • tenang hidupnya

Barang siapa meremehkan syubhat:

  • cepat jatuh ke haram
  • hatinya mengeras
  • doanya terhalang

TANDA-TANDA ORANG YANG MEMILIKI WARA’ 

Al-Faqih Abu Laits menyebutkan tanda wara’, di antaranya:

  • menjaga lisan dari ghibah
  • menjauhi su’uzhan
  • menundukkan pandangan
  • jujur dalam ucapan
  • tidak ujub
  • menjaga shalat tepat waktu
  • istiqamah di atas sunnah

Wara’ bukan satu amalan,
tapi cara hidup.


WARA’ MELAHIRKAN KEBAHAGIAAN

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

“Wara’ dalam agama adalah tanda kebahagiaan.”

Mengapa? Karena orang yang wara’:

  • tidurnya tenang
  • doanya ringan
  • hidupnya sederhana
  • hatinya bersih

PENUTUP 

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Jika hari ini:

  • shalat terasa berat
  • doa terasa jauh
  • hati terasa gelap

Bukan karena kurang ibadah… tapi mungkin karena kurang wara’.

Mari kita jujur pada diri sendiri:

  • apa yang selama ini kita anggap sepele
  • justru menjadi penghalang cahaya iman

DOA 

اللهم يا الله…
kami datang dengan hati yang penuh dosa…
dengan amal yang sedikit…
dengan wara’ yang hampir hilang…

Ya Allah…
kami mengaku…
sering meremehkan yang haram…
sering bermain di wilayah syubhat…
sering menenangkan diri dengan dalih dan alasan…

Ya Allah…
hidupkan kembali rasa takut kami kepada-Mu…
hidupkan kembali rasa malu kami di hadapan-Mu…

Ya Allah…
jika lisan kami kotor, bersihkanlah…
jika pandangan kami liar, tundukkanlah…
jika hati kami keras, lembutkanlah…

Ya Allah…
jadikan kami hamba-hamba-Mu yang wara’…
yang takut kepada-Mu dalam sepi maupun ramai…
yang jujur meski tak ada yang melihat…

Ya Allah…
jangan Engkau cabut rasa takut ini dari hati kami…
karena jika rasa takut ini Engkau cabut…
maka binasalah kami…

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وصلّى الله على نبينا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين
والحمد لله رب العالمين

Aamiin… Aamiin ya Rabbal ‘alamin…



Tidak ada komentar