AZAB YANG MENJADI PELAJARAN SEPANJANG ZAMAN


“AZAB YANG MENJADI PELAJARAN SEPANJANG ZAMAN”

Tafsir QS. Al-Baqarah: 66


1. Pembukaan Ceramah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

أما بعد...

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Pada ayat sebelumnya Allah menceritakan desa nelayan Bani Israil yang melanggar Sabat, lalu Allah mengubah mereka menjadi kera.

Tetapi cerita itu tidak berhenti di situ.

Allah menjelaskan mengapa kisah itu dicatat dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

Al-Baqarah ayat 66

فَجَعَلْنٰهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“Maka Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”


2. Makna Kata “نَكَالًا”

Ulama tafsir menjelaskan kata نَكَالًا (nakālan) berarti:

  • hukuman keras
  • yang bertujuan mencegah orang lain melakukan dosa yang sama

Tafsir Ibnu Katsir

قال ابن كثير

أي جعلنا هذه العقوبة عبرة وزاجرة لمن قبلهم ومن بعدهم

“Allah menjadikan hukuman itu sebagai pelajaran dan pencegah bagi orang sebelum dan sesudah mereka.”

(Tafsir Ibn Kathir, 1/216)

Artinya…

Kisah ini bukan sekadar sejarah.

Ini peringatan untuk umat manusia sampai hari kiamat.


3. Mengapa Allah Ceritakan Kisah Ini?

Allah sendiri menjelaskan dalam Al-Qur’an:

Surah Yusuf ayat 111

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya

“Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”


Ibnu Taimiyah menjelaskan:

القصص القرآني ليس للتسلية بل للعبرة

“Kisah dalam Al-Qur’an bukan untuk hiburan tetapi untuk pelajaran.”

(Majmu’ Fatawa, 13/347)


4. Pelajaran Besar Dari Kisah Sabat

Pelajaran 1

Jangan Mengakali Hukum Allah

Bani Israil tidak menangkap ikan Sabtu.

Tetapi mereka menjebak ikan hari Jumat dan mengambilnya hari Ahad.

Secara hukum manusia mereka merasa “kami tidak melanggar”.

Tetapi Allah melihat niat dan tipu daya mereka.


Rasulullah bersabda:

Hadis

لاَ تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَتِ الْيَهُودُ فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللَّهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

Artinya

“Jangan kalian melakukan seperti yang dilakukan orang Yahudi: menghalalkan yang haram dengan berbagai tipu daya.”

(HR Ahmad)


Ibnul Qayyim berkata:

الحيل لا تغير حكم الله

“Tipu daya tidak akan mengubah hukum Allah.”

(I’lamul Muwaqqi’in, 3/135)


Humor ringan

Kadang manusia pintar sekali mencari celah hukum.

Misalnya:

Ada orang berkata:

“Ustadz saya tidak riba kok.”

“Kenapa?”

“Saya pinjam uang ke teman 1 juta… balikin 1,2 juta… tapi itu bukan bunga… itu hadiah.”

Jamaah ketawa…

Padahal malaikat di langit berkata:

“Itu bukan hadiah… itu riba paket hemat.”


5. Allah Melihat Tipu Daya Hamba

Allah berfirman:

Surah Al-An’am ayat 123

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللّٰهُ

“Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya mereka.”


Imam Al-Qurthubi berkata:

من احتال على محارم الله عوقب بنقيض قصده

“Siapa yang menipu hukum Allah akan dihukum dengan kebalikan dari tujuannya.”

(Tafsir Qurthubi, 7/307)


6. Azab Sebagai Pelajaran Sepanjang Zaman

Allah berfirman:

فَجَعَلْنٰهَا نَكَالًا

“Kami jadikan itu sebagai hukuman yang menjadi pelajaran.”


Ibnu Abbas berkata:

عبرة لمن بعدهم

“Pelajaran bagi generasi setelah mereka.”

(Tafsir At-Tabari)


Artinya…

Kalau ada orang berkata:

“Itu kan cerita orang dulu.”

Jawabannya:

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk museum sejarah.

Al-Qur’an diturunkan untuk memperingatkan kita.


7. Siapa Yang Mengambil Pelajaran?

Ayat ini ditutup dengan:

وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ

“Pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”


Kenapa hanya orang bertakwa?

Karena orang takwa mudah tersentuh hatinya.


Allah berfirman:

Surah Az-Zumar ayat 23

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ

“Kulit orang yang takut kepada Allah merinding ketika mendengarnya.”


Sedangkan hati yang keras…

walaupun dengar ceramah 3 jam tetap saja berkata:

“Bagus ceramahnya.”

“Pelajarannya apa?”

“Tidak tahu… tapi lucu ustadznya.”


8. Contoh Tipu Daya Modern

Kalau kita jujur…

tipu daya seperti Bani Israil masih ada sampai sekarang.

Contoh:

• korupsi pakai istilah “fee proyek”
• riba pakai istilah “margin bank”
• suap pakai istilah “uang terima kasih”


Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

سموا الربا بغير اسمه

“Mereka mengganti nama riba dengan nama lain.”

(Hilyatul Auliya)


Humor sedikit lagi:

Ada orang berkata:

“Ini bukan suap ustadz.”

“Ini uang pelicin.”

Saya bilang:

“Kalau mobil pakai pelicin wajar…
tapi kalau jabatan pakai pelicin… itu oli neraka.”

Jamaah biasanya langsung ngakak.


9. Kisah Ulama Tentang Kejujuran

Imam Ahmad pernah ditanya:

“Apa yang paling berat dalam agama?”

Beliau menjawab:

الإخلاص

“Kejujuran kepada Allah.”


Karena manusia sering tidak melawan hukum Allah secara terang-terangan.

Tetapi mengakali hukum Allah.


10. Kesimpulan 

Dari ayat ini kita belajar 4 hal:

1. Kisah Al-Qur’an adalah pelajaran

bukan sekadar sejarah.

2. Mengakali hukum Allah adalah dosa besar

3. Azab Allah bisa menjadi peringatan bagi generasi setelahnya.

4. Hanya orang bertakwa yang mengambil pelajaran.


Penutup 

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Allah menceritakan kisah desa Sabat bukan untuk menakut-nakuti saja.

Tetapi agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

Karena manusia yang cerdas bukan yang tahu banyak sejarah.

Tetapi yang belajar dari sejarah.



Tidak ada komentar