Ketika Allah Mengubah Manusia Menjadi Kera


“Ketika Allah Mengubah Manusia Menjadi Kera”

(Tafsir QS Al-Baqarah 65–66)


PEMBUKAAN 

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

Segala puji bagi Allah…

Rabb yang menciptakan manusia dari tanah.

Rabb yang memberi kita iman.

Rabb yang masih membuka pintu taubat sampai detik ini.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ.


Jamaah yang dimuliakan Allah…

Hari ini kita akan membuka satu kisah dalam Al-Qur’an yang sangat menggetarkan.

Kisah sebuah desa.

Kisah sebuah dosa.

Kisah sebuah azab yang mengubah manusia menjadi binatang.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ
فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Sesungguhnya kalian telah mengetahui orang-orang yang melanggar hari Sabat, maka Kami berkata kepada mereka: jadilah kalian kera yang hina.”

(QS Al-Baqarah 65)


Jamaah…

Ini bukan dongeng.

Ini bukan legenda.

Ini adalah peringatan dari Allah untuk seluruh manusia sampai hari kiamat.


BAGIAN 1

DESA NELAYAN DI TEPI LAUT 

Bayangkan sebuah desa tua.

Desa nelayan di tepi laut.

Sebagian mufasir menyebutnya berada di pesisir Laut Merah.

Rumah-rumah sederhana dari kayu.

Perahu-perahu kecil berjejer di pantai.

Setiap pagi para lelaki pergi melaut.

Anak-anak berlari di pasir.

Para wanita menjemur ikan.

Hidup mereka sederhana.


Tetapi Allah memberi mereka satu ujian.

Satu perintah.

Satu larangan.


Hari Sabtu…

mereka tidak boleh bekerja.

Tidak boleh menangkap ikan.

Hari itu khusus untuk ibadah.


Tetapi sesuatu yang aneh terjadi.

Setiap Sabtu…

laut dipenuhi ikan.

Ikan meloncat-loncat di permukaan air.

Seolah-olah laut sedang menggoda mereka.


Tetapi hari lain…

ikan itu menghilang.

Seolah laut menjadi kosong.


Allah sedang menguji iman mereka.


BAGIAN 2

AWAL TIPU DAYA 

para nelayan berkumpul di sebuah rumah.

Lampu minyak menyala redup.

Mereka berbicara dengan suara pelan.


Seorang nelayan berkata:

“Kita miskin…”

“Anak-anak kita lapar…”

“Tapi ikan hanya muncul hari Sabtu.”


Nelayan lain berkata:

“Taurat melarang menangkap ikan Sabtu.”


Lalu seorang yang licik berkata:

“Siapa bilang kita menangkap ikan Sabtu?”

“Kita hanya membuat kolam sebelum Sabtu…”

“Ikan masuk sendiri…”

“Kita ambil hari Ahad.”


Mereka saling berpandangan.

Dan perlahan…

senyum muncul di wajah mereka.


“Ya… itu bukan melanggar!”

“Kita tidak memancing Sabtu!”


Jamaah…

di sinilah dosa dimulai.

Bukan dengan pemberontakan.

Tetapi dengan akal licik terhadap hukum Allah.


BAGIAN 3

PERINGATAN ORANG SALEH 

Di desa itu ada orang-orang yang takut kepada Allah.

Mereka datang memperingatkan.


“Wahai kaumku!”

“Jangan mempermainkan hukum Allah!”

“Ini tipu daya!”

“Allah melihat kalian!”


Tetapi para nelayan menertawakan mereka.

Salah seorang berkata sinis:

“Kalian terlalu takut!”

“Ini hanya cara pintar.”


Salah seorang orang saleh berkata dengan air mata:

“Kalian sedang berjalan menuju azab.”

Tetapi tidak ada yang mendengar.


BAGIAN 4

MALAM AZAB 

Suatu malam…

langit desa itu terasa aneh.

Angin berhenti.

Udara menjadi berat.

Anjing-anjing desa menggonggong tanpa henti.

Sebagian orang tidak bisa tidur.

Hati mereka gelisah.

Tetapi mereka tidak tahu kenapa.


Tiba-tiba…

sebuah jeritan terdengar dari sebuah rumah.

Jeritan yang sangat aneh.


Orang-orang berlari keluar.

Dan mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka beku.


Seorang lelaki jatuh di tanah.

Tubuhnya gemetar.

Tangannya mengecil.

Punggungnya membungkuk.

Wajahnya berubah.

Matanya menonjol.

Mulutnya memanjang.


Dia berubah menjadi kera.


Dia mencoba berbicara.

Tetapi yang keluar hanyalah lengkingan binatang.


Jeritan lain terdengar.

Rumah lain.

Orang lain.


Seluruh desa berubah menjadi kekacauan dan ketakutan.


ADEGAN PALING MENGGETAR

KAN 

Seorang anak kecil keluar rumah.

Ia melihat seekor kera di depan rumah.

Kera itu menangis.

Air matanya mengalir.


Anak itu mendekat.

Dan tiba-tiba ia berhenti.

Matanya membesar.

Tubuhnya gemetar.


Ia mengenali kera itu.


Itu ibunya.


Ibunya mencoba memeluknya.

Tetapi tangannya sekarang tangan kera.

Ibunya menangis.

Tetapi yang keluar hanya jeritan binatang.


Anak itu menangis histeris.

“Ibu…!”

“Ibu…!”


Tetapi ibunya tidak bisa lagi menjawab.


BAGIAN 5

AKHIR YANG MENYERAMKAN 

Para mufasir menyebutkan…

Mereka tetap hidup tiga hari.

Mereka tidak makan.

Tidak minum.

Tidak punya keturunan.

Dan mereka mati.


Allah berfirman:

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا

“Kami jadikan itu sebagai pelajaran bagi orang-orang sebelum dan sesudahnya.”

(QS Al-Baqarah 66)


Jamaah…

Allah tidak menceritakan kisah ini untuk menghibur kita.

Allah menceritakan kisah ini untuk menyelamatkan kita.


PESAN UNTUK KITA 

Mereka tidak menyembah berhala.

Mereka hanya mengakali hukum Allah.

Tetapi itu cukup untuk mendatangkan azab.


Sekarang kita bertanya kepada diri kita.

Apakah kita pernah meremehkan dosa?

Apakah kita pernah berkata:

“Ah… ini dosa kecil.”


Rasulullah ﷺ bersabda:

إياكم ومحقرات الذنوب

“Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil.”

(HR Ahmad)


MUNAJAT 

Sekarang jamaah…

tundukkan kepala.

Pejamkan mata.

Bayangkan dosa-dosa kita.


اللهم لك الحمد حتى ترضى

Ya Allah…

Engkau memberi kami kehidupan.

Tetapi kami sering melupakan-Mu.


Ya Allah…

berapa banyak malam kami lalui tanpa sujud kepada-Mu.

Berapa banyak waktu kami habiskan tanpa mengingat-Mu.


Ya Allah…

kami datang malam ini membawa dosa yang sangat banyak.

Jika Engkau tidak mengampuni kami…

siapa lagi yang akan mengampuni kami?


Ya Allah…

ampuni dosa kami.

Dosa mata kami.

Dosa lisan kami.

Dosa hati kami.


Ya Allah…

jangan Engkau jadikan hati kami keras.

Jangan Engkau matikan kami dalam keadaan bermaksiat.


Ya Allah…

jika malam ini Engkau masih memberi kami umur…

jadikan sisa hidup kami lebih taat kepada-Mu.


Ya Allah…

ampuni kedua orang tua kami.

Ampuni guru-guru kami.

Ampuni saudara-saudara kami.


Ya Allah…

kumpulkan kami di surga-Mu bersama Nabi Muhammad ﷺ.


ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا


Amin Ya Rabbal ‘Alamin.



Tidak ada komentar