Hari Ketika Para Nabi Dibunuh
“Hari Ketika Para Nabi Dibunuh”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Al-Qur’an berulang kali menyebut satu dosa besar Bani Israil:
mereka mengingkari ayat Allah
dan membunuh para nabi.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ
فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, maka kabarkan kepada mereka azab yang pedih.”
(QS Ali Imran:21)
Para ulama tafsir menjelaskan sesuatu yang sangat menggetarkan.
Ada satu masa dalam sejarah Bani Israil…
ketika puluhan nabi dibunuh dalam satu hari.
Riwayat ini disebut oleh banyak ahli tafsir seperti Imam At-Tabari, Ibn Katsir, dan Al-Qurthubi dalam penjelasan ayat di atas.
Gambaran Hari Kelam Itu
Bayangkan sebuah pagi di negeri Bani Israil.
Matahari baru saja terbit.
Pasar mulai ramai.
Orang-orang mulai berdagang.
Tetapi di sudut kota…
para nabi berdiri menyeru manusia:
“Wahai kaumku… kembali kepada Allah!”
Para nabi itu bukan orang yang mencari kekuasaan.
Mereka tidak meminta harta.
Mereka hanya ingin menyelamatkan manusia dari dosa.
Tetapi seruan itu membuat para penguasa marah.
Karena kebenaran selalu mengganggu orang yang hidup dalam kebatilan.
Perintah Kejam Para Penguasa
Para pemimpin Bani Israil berkumpul.
Mereka berkata:
“Para nabi ini mengganggu kekuasaan kita.”
“Para nabi ini merusak tradisi kita.”
“Para nabi ini harus disingkirkan.”
Maka keluarlah perintah yang kejam:
Tangkap mereka.
Para Nabi Dibunuh
Satu nabi ditangkap.
Kemudian nabi kedua.
Kemudian nabi ketiga.
Para nabi itu tidak membawa pasukan.
Tidak membawa pedang.
Mereka hanya membawa wahyu Allah.
Tetapi pada hari itu…
pedang diangkat.
Darah para nabi tertumpah.
Para ulama menyebutkan bahwa sekitar tujuh puluh nabi dibunuh dalam satu hari.
Bayangkan…
satu hari.
Tujuh puluh nabi.
Dibunuh oleh kaumnya sendiri.
Ironi yang Menggetarkan
Yang lebih mengejutkan lagi…
setelah peristiwa itu…
orang-orang Bani Israil kembali ke pasar.
Mereka melanjutkan perdagangan.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa mereka bahkan tetap berdagang seperti biasa setelah membunuh para nabi.
Inilah tanda hati yang telah mati.
Mengapa Mereka Bisa Sampai Seperti Itu?
Saudara-saudaraku…
Tidak ada manusia yang langsung menjadi kejam dalam satu hari.
Hati menjadi keras karena proses panjang.
Dimulai dari:
dosa kecil
kemudian dosa besar
kemudian pembangkangan
kemudian kebencian terhadap kebenaran.
Sampai akhirnya…
kebenaran dianggap musuh.
Allah berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
“Kemudian hati kalian menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras.”
(QS Al-Baqarah:74)
Pelajaran untuk Umat Islam
Kisah ini bukan sekadar sejarah.
Ini peringatan untuk kita.
Jika seseorang terus menolak kebenaran…
suatu hari ia bisa membenci kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً
نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka muncul titik hitam di hatinya.”
(HR Tirmidzi)
Jika dosa itu terus dilakukan…
hati menjadi gelap.
Sampai akhirnya hati mati.
Renungan yang Sangat Dalam
Ma’asyiral muslimin…
Bayangkan jika pada zaman kita…
seorang ulama dibunuh.
Satu orang saja sudah mengguncang dunia.
Tetapi Bani Israil membunuh puluhan nabi dalam satu hari.
Inilah sebabnya Allah menimpakan kepada mereka:
الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ
“kehinaan dan kemiskinan.”
(QS Al-Baqarah:61)
Penutup
Saudara-saudaraku…
Hati manusia sangat rapuh.
Jika jauh dari Al-Qur’an
jika jauh dari dzikir
jika jauh dari taubat
hati bisa menjadi keras.
Karena itu Nabi ﷺ sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ
ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR Tirmidzi)
Post a Comment