Ketika Bani Israil Membunuh Para Nabi

Ketika Bani Israil Membunuh Para Nabi

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Dosa Bani Israil tidak berhenti pada keluhan terhadap nikmat Allah.

Tidak berhenti pada kufur nikmat.

Tidak berhenti pada pembangkangan terhadap Nabi Musa.

Tetapi dosa mereka sampai pada tingkat yang sangat mengerikan.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar…”
(QS Ali Imran:21)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Bani Israil adalah umat yang paling banyak membunuh nabi.

Imam Ibnu Katsir menulis:

“Tidak ada umat yang lebih banyak membunuh nabi selain Bani Israil.”
(Tafsir Ibn Kathir)


Kisah Nabi Zakariya

Saudara-saudaraku…

Mari kita bayangkan satu peristiwa yang sangat memilukan.

Malam yang gelap di negeri Bani Israil.

Langit sunyi.

Angin berhembus pelan.

Di tengah malam itu ada seorang nabi tua.

Rambutnya memutih.

Tubuhnya lemah.

Tetapi hatinya penuh iman.

Dialah Nabi Zakariya.

Beliau adalah seorang nabi yang sangat lembut.

Allah berfirman tentang doanya:

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

“Ya Tuhanku, tulangku telah lemah dan kepalaku dipenuhi uban.”
(QS Maryam:4)

Beliau berdakwah kepada Bani Israil.

Menyeru mereka kembali kepada Allah.

Tetapi sebagian dari mereka membenci dakwah itu.


Perburuan Nabi

Suatu hari…

Para penguasa Bani Israil memutuskan sesuatu yang kejam.

Mereka berkata:

“Zakariya harus dibunuh.”

Pasukan mulai mencari beliau.

Nabi Zakariya berlari.

Seorang nabi tua…

berlari menyelamatkan diri.

Beliau bersembunyi di sebuah pohon besar.

Menurut riwayat ulama tafsir seperti Al-Qurthubi dan Ibn Kathir, pohon itu terbelah dan menyembunyikan beliau.

Tetapi seorang pengkhianat memberi tahu musuhnya.

Mereka datang membawa gergaji besar.

Mereka menggergaji pohon itu.

Dan nabi Allah yang mulia itu…

terbunuh.


Saat bagian ini dibacakan di mimbar biasanya jamaah mulai hening dan terkejut.


Kisah Nabi Yahya

Yang lebih menyedihkan lagi…

Bani Israil tidak berhenti sampai di situ.

Mereka juga membunuh Nabi Yahya.

Nabi Yahya adalah putra Nabi Zakariya.

Seorang pemuda yang sangat suci.

Allah memujinya dalam Al-Qur’an:

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Kami memberinya hikmah sejak masih kecil.”
(QS Maryam:12)

Beliau hidup sangat zuhud.

Tidak mencintai dunia.

Tidak mencintai kekuasaan.

Yang beliau lakukan hanyalah menyeru manusia kepada Allah.

Tetapi suatu hari…

beliau menegur seorang raja yang ingin menikahi perempuan yang haram baginya.

Teguran itu membuat raja murka.

Raja itu akhirnya memerintahkan sesuatu yang mengerikan.

Kepala Nabi Yahya dipenggal.

Riwayat ini disebut oleh banyak ulama tafsir seperti Ibn Katsir dan Al-Qurthubi.


Betapa Kerasnya Hati Mereka

Saudara-saudaraku…

Bayangkan…

Seorang nabi…

dibunuh oleh kaumnya sendiri.

Nabi yang membawa wahyu.

Nabi yang ingin menyelamatkan mereka dari neraka.

Tetapi mereka membalasnya dengan pedang.

Karena itu Allah berfirman:

ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Itu terjadi karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
(QS Al-Baqarah:61)


Pelajaran Besar untuk Umat Islam

Kisah ini bukan sekadar sejarah.

Ini peringatan bagi kita.

Ketika hati manusia:

sering menolak kebenaran
sering melawan perintah Allah
sering melampaui batas

maka hati itu bisa menjadi sangat keras.

Allah berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian hati kalian menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras.”
(QS Al-Baqarah:74)


Renungan yang Mengguncang

Saudara-saudaraku…

Bani Israil tidak membunuh nabi dalam satu hari.

Tidak dalam satu malam.

Itu terjadi karena hati mereka sudah lama jauh dari Allah.

Dosa demi dosa.

Pelanggaran demi pelanggaran.

Sampai akhirnya hati mereka mati.


Penutup Renungan

Karena itu para ulama berkata:

“Dosa kecil yang terus diulang dapat menghancurkan hati.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً
نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka muncul titik hitam di hatinya.”
(HR Tirmidzi)

Jika dosa itu terus dilakukan…

titik hitam itu semakin banyak.

Sampai hati menjadi gelap.



Tidak ada komentar