Kisah Dramatis Desa Nelayan Pelanggar Sabat



Kisah Dramatis Desa Nelayan Pelanggar Sabat

Bayangkan sebuah desa kecil di tepi laut.

Angin laut bertiup lembut.
Gelombang memecah karang.
Langit biru luas tanpa batas.

Desa itu bernama Ailah (sebagian ulama menyebutnya kota di pesisir Laut Merah).

Di sanalah tinggal Bani Israil, sebuah kaum yang telah menerima kitab Taurat.

Allah telah memberi mereka satu aturan penting:

Hari Sabat (Sabtu) adalah hari ibadah.
Tidak boleh bekerja.
Tidak boleh berdagang.
Tidak boleh menangkap ikan.

Allah berfirman:

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ
إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ

Artinya:

“Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang berada di tepi laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat.”
(QS Al-A’raf 163)


Adegan 1 — Keajaiban Laut

Hari Jumat sore…

Para nelayan menatap laut.

Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang aneh.

Air laut dipenuhi ikan.

Ikan besar.
Ikan kecil.
Ikan bergerak seperti awan yang hidup.

Permukaan laut berkilau oleh sisik ikan.

Namun hari itu menjelang Sabtu.

Dan Sabtu adalah hari yang diharamkan untuk menangkap ikan.

Para nelayan gelisah.

Seorang nelayan berkata:

“Lihatlah… ikan-ikan itu… begitu banyak.”

Nelayan lain menjawab dengan sedih:

“Ya… tapi besok Sabat. Kita tidak boleh menangkapnya.”

Mereka pulang dengan hati gelisah.


Adegan 2 — Ujian Allah

Keesokan harinya…

Hari Sabtu.

Subuh baru saja berlalu.

Para nelayan keluar rumah.

Mereka berjalan ke pantai.

Dan mereka terkejut.

Ikan-ikan muncul lebih banyak dari kemarin.

Air laut hampir tidak terlihat karena tertutup ikan.

Allah menggambarkan keadaan itu:

إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا

Artinya:

“Ketika ikan-ikan datang kepada mereka pada hari Sabat dalam keadaan banyak di permukaan air.”
(QS Al-A’raf 163)

Namun anehnya…

Hari Minggu…

Semua ikan menghilang.

Seakan-akan laut itu kosong.

Ini adalah ujian dari Allah.


Adegan 3 — Bisikan Setan

Beberapa nelayan mulai gelisah.

Malam hari mereka berkumpul.

Salah seorang berkata dengan suara pelan:

“Kita tidak boleh menangkap ikan hari Sabtu…”

“Tapi… siapa yang melarang kita menjebaknya sebelum Sabtu?”

Semua terdiam.

Lalu seorang yang lain berkata:

“Kita buat kolam besar.”

“Kita alirkan air laut ke kolam itu hari Jumat.”

“Ikan masuk hari Sabtu…”

“Kita ambil hari Ahad.”

Semua orang saling memandang.

Lalu mereka tertawa.

“Benar! Kita tidak melanggar Sabat!”

Padahal hakikatnya mereka mengakali hukum Allah.


Adegan 4 — Kaum yang Menegur

Di desa itu ada tiga kelompok.

Kelompok pertama:
yang menangkap ikan dengan tipu daya.

Kelompok kedua:
yang menegur mereka.

Kelompok ketiga:
yang diam saja.

Para ulama desa berkata:

“Wahai kaumku! Jangan lakukan ini!”

“Kalian sedang menipu hukum Allah!”

Namun para nelayan menjawab dengan sinis:

“Kami tidak menangkap ikan hari Sabtu.”

“Kami hanya mengambilnya hari Ahad.”

Sebagian orang yang diam berkata kepada para ulama:

“Mengapa kalian menasihati mereka?”

“Mereka tidak akan berubah.”

Para ulama menjawab:

مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ

Artinya:

“Agar kami memiliki alasan di hadapan Tuhan kami.”
(QS Al-A’raf 164)


Adegan 5 — Murka Allah

Tipu daya itu berlangsung lama.

Setiap minggu mereka melakukan hal yang sama.

Kolam dipasang.

Ikan masuk Sabtu.

Diambil Ahad.

Suatu pagi…

Ketika matahari terbit…

Penduduk desa tidak melihat para pelanggar itu keluar rumah.

Orang-orang mulai penasaran.

Mereka mendatangi rumah para nelayan.

Pintu dibuka.

Dan mereka terkejut.

Di dalam rumah itu…

Bukan manusia lagi.

Yang ada hanyalah kera-kera kecil.

Mereka melompat.

Mereka menjerit.

Namun mata mereka penuh ketakutan.

Allah berfirman:

فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Artinya:

“Maka Kami berkata kepada mereka: Jadilah kalian kera yang hina.”
(QS Al-Baqarah 65)


Adegan Menyentuh

Para ulama desa menangis.

Mereka mengenali kera-kera itu.

Itu adalah tetangga mereka.

Itu adalah saudara mereka.

Itu adalah teman mereka.

Namun sekarang…

mereka berubah menjadi kera.

Mereka tidak hidup lama.

Para ulama tafsir mengatakan:

mereka hidup tiga hari saja, lalu mati.

📚 Tafsir Ibnu Katsir
📚 Tafsir At-Thabari


Pelajaran Besar

Kisah ini bukan tentang ikan.

Bukan tentang Sabat.

Ini tentang manusia yang mengakali hukum Allah.


Analogi Modern 

Hari ini manusia melakukan hal yang sama.

Contoh:

Riba diganti nama “bunga bank”

Suap diganti nama “uang terima kasih”

Korupsi diganti nama “fee proyek”

Namanya berubah.

Tapi dosanya tetap.


Humor 

Ada orang bertanya kepada ustadz:

“Ustadz… kalau riba saya ganti nama jadi ‘biaya jasa’, boleh?”

Ustadz jawab:

“Kalau racun tikus kamu ganti nama jadi ‘susu kalsium’, tetap saja mati kalau diminum.”

Jamaah biasanya langsung tertawa.


Penutup 

Ma’asyiral muslimin…

Kisah ini sebenarnya peringatan untuk kita.

Jika manusia:

mempermainkan agama
mengakali hukum Allah
menipu syariat

maka hatinya perlahan berubah.

Walaupun wajahnya tetap manusia…

hatinya bisa menjadi seperti binatang.



Tidak ada komentar