Ketika Iman Dicampur dengan Hawa Nafsu


Ketika Iman Dicampur dengan Hawa Nafsu

Tafsir QS Al-Baqarah 92–93


1. Pembukaan 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Setelah Allah menjelaskan kesombongan Bani Israil…

Allah membuka satu kisah yang sangat mengejutkan.

Kisah tentang iman yang rusak karena hawa nafsu.

Bani Israil baru saja diselamatkan dari Fir’aun.

Baru saja melihat laut terbelah.

Baru saja menyaksikan mukjizat Nabi Musa.

Tetapi tidak lama kemudian…

mereka melakukan dosa besar.


2. Membaca Ayat

Allah berfirman:

وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ مُوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ

“Sungguh Musa telah datang kepada kalian dengan bukti-bukti yang nyata, kemudian kalian menyembah anak sapi setelah kepergiannya, dan kalian adalah orang-orang zalim.”

(QS Al-Baqarah: 92)

Kemudian Allah berfirman:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ

“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari kalian dan Kami angkat Gunung Thur di atas kalian.”

(QS Al-Baqarah: 93)


3. Kisah Penyembahan Anak Sapi Emas

Ketika Nabi Musa pergi ke Gunung Thur selama 40 hari…

kaumnya ditinggalkan sementara.

Di antara mereka ada seorang bernama Samiri.

Ia membuat patung dari emas.

Patung itu berbentuk anak sapi.

Patung itu dikenal sebagai Golden Calf.

Patung itu bahkan mengeluarkan suara seperti sapi.

Lalu Samiri berkata kepada Bani Israil:

“Ini adalah tuhan kalian… dan tuhan Musa.”

Bayangkan…

kaum yang baru saja melihat laut terbelah…

sekarang menyembah patung.


4. Kepulangan Nabi Musa

Ketika Nabi Musa turun dari gunung…

beliau melihat kaumnya menari-nari di depan patung itu.

Al-Qur’an menggambarkan kemarahan beliau:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا

“Ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan sangat sedih.”

(QS Al-A’raf:150)


5. Dialog Keras Nabi Musa

Nabi Musa berkata:

“Apa yang kalian lakukan setelah aku pergi?”

“Bukankah Allah telah menyelamatkan kalian dari Fir’aun?”

Kemudian beliau memegang saudaranya Harun dan berkata:

“Mengapa engkau tidak mencegah mereka?”

Harun menjawab dengan lembut:

“Wahai saudaraku, aku khawatir jika aku melawan mereka akan terjadi perpecahan.”

Kisah ini dijelaskan oleh para ulama tafsir seperti Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.


6. Kritik Tajam: Iman yang Dicampur Hawa Nafsu

Jamaah…

perhatikan baik-baik.

Bani Israil tidak sepenuhnya meninggalkan agama.

Mereka masih mengaku beriman.

Tetapi mereka mencampur iman dengan hawa nafsu.

Allah berfirman:

قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ

“Katakanlah: sangat buruk apa yang diperintahkan oleh iman kalian itu.”

(QS Al-Baqarah: 93)

Artinya:

kalau iman membuat kita melakukan dosa…

itu bukan iman yang benar.


Humor 

Kadang manusia juga begitu.

Kalau agama sesuai dengan keinginannya…

langsung bilang:

“MasyaAllah… ini dalil yang kuat.”

Kalau agama melarang sesuatu yang dia suka…

langsung berkata:

“Kita harus melihat konteks.”

Jamaah biasanya langsung tertawa.


7. Kisah Dramatis Gunung Sinai

Sekarang kita sampai pada bagian yang sangat menegangkan.

Ketika Bani Israil menolak hukum Taurat…

Allah menunjukkan kekuasaan-Nya.

Allah berfirman:

وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ

“Kami angkat Gunung Thur di atas kalian.”

(QS Al-Baqarah: 93)

Gunung itu dikenal sebagai Mount Sinai.

Para ulama tafsir menjelaskan:

Gunung itu diangkat seperti awan besar di atas kepala mereka.

Bayangkan…

langit tiba-tiba gelap.

Gunung besar menggantung di atas mereka.

Seakan-akan akan jatuh.

Allah berkata kepada mereka:

“Peganglah Taurat dengan sungguh-sungguh.”

Saat itu mereka ketakutan.

Barulah mereka berkata:

“Kami akan taat.”

Tetapi sayangnya…

ketaatan mereka hanya karena takut.

Bukan karena iman.


8. Renungan untuk Umat Sekarang

Saudara-saudaraku…

jangan sampai iman kita seperti itu.

Taat hanya ketika takut.

Taat hanya ketika susah.

Taat hanya ketika sakit.

Tetapi ketika hidup nyaman…

kita melupakan Allah.


Humor 

Ada orang berkata:

“Kalau saya sakit, saya rajin shalat.”

Begitu sembuh…

shalatnya ikut sembuh.

Jamaah biasanya tertawa.


9. Penutup 

Kisah Bani Israil bukan sekadar cerita masa lalu.

Ini adalah cermin untuk kita.

Jangan sampai kita mengaku beriman…

tetapi tetap menyembah “anak sapi emas” zaman modern.

Anak sapi emas zaman sekarang bisa berupa:

uang
jabatan
popularitas
harta

Jika semua itu lebih kita cintai daripada Allah…

maka hati-hati.

Jangan-jangan kita sedang menyembah “anak sapi emas” versi baru.



Tidak ada komentar