Bahaya Memilah-milah Kebenaran
Materi Ceramah Tafsir Surah Al-Ḥijr Ayat 90
“Bahaya Memilah-milah Kebenaran”
Pembukaan
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du…
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Pada malam hari ini kita akan membahas ayat yang sangat relevan dengan zaman sekarang. Ayat tentang orang-orang yang “memilah-milah” agama. Mau ambil yang enak saja, yang cocok dengan hawa nafsu saja.
Kalau ayat tentang rezeki dibaca keras-keras: “MasyaAllah… indah sekali…”
Tapi kalau ayat tentang salat: “Waduh… sensitif ini…”
Kalau ayat tentang surga: “Aamiin!”
Kalau ayat tentang larangan maksiat: “Tolong jangan nyinggung pribadi ya ustaz…”
Padahal agama itu bukan prasmanan. Islam bukan warteg: “Saya ambil yang rendang saja, sayur pahitnya tidak mau.”
Ayat yang Dibahas
Firman Allah Ta’ala
Surah Al-Ḥijr ayat 90
اَللّٰهُ تَعَالَى يَقُوْلُ:
كَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَى الْمُقْتَسِمِيْنَۙ
“Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang yang memilah-milah (Kitab Allah).”
Makna “Al-Muqtasimīn”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “al-muqtasimīn” adalah orang-orang yang memperlakukan wahyu sesuka hati.
Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata
“Mereka membagi-bagi Al-Qur’an; sebagian mereka benarkan dan sebagian mereka dustakan.”
📚 Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Hijr ayat 90.
Imam Al-Qurṭubi رحمه الله menjelaskan
“Mereka memberi nama buruk kepada Al-Qur’an; ada yang menyebut sihir, syair, dongeng, dan sebagainya.”
📚 Rujukan: Al-Jāmi’ li Aḥkāmil Qur’ān.
Kebiasaan Orang Musyrik terhadap Al-Qur’an
Allah berfirman:
Surah Al-Anbiyā’ ayat 5
بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ
“Mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) mimpi-mimpi kacau, bahkan Muhammad mengada-adakannya, bahkan dia hanyalah seorang penyair.’”
Mereka bingung sendiri.
Kadang bilang sihir.
Kadang bilang dongeng.
Kadang bilang syair.
Seperti orang zaman sekarang kalau kalah debat di media sosial:
- “Hoaks!”
- “Editan!”
- “Settingan!”
- “AI itu!”
Pokoknya asal jangan mengaku kalah. 😂
Bahaya Memilih Agama Sesuai Nafsu
Firman Allah Ta’ala
Surah Al-Baqarah ayat 85
اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain?”
Jamaah sekalian…
Ini penyakit lama, tapi sekarang makin modern.
- Mau ayat motivasi → share.
- Ayat sedekah → posting.
- Ayat hijab → “jangan menghakimi!”
- Ayat riba → “itu kan konteks zaman dulu…”
Na’udzubillah.
Hadis tentang Kewajiban Tunduk kepada Syariat
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
📚 Riwayat an-Nawawi dalam Al-Arba’in, dinilai hasan oleh sebagian ulama.
Penjelasan Imam Nawawi رحمه الله
Iman bukan sekadar percaya di mulut.
Tetapi tunduk kepada syariat walaupun berat bagi hawa nafsu.
Penyakit Zaman Sekarang: “Islam Sesuai Mood”
Kadang orang sekarang:
- kalau lagi susah → rajin tahajud.
- kalau lagi kaya → hilang ke masjid.
Pas ujian: “Ya Allah tolong…”
Pas lulus: “Siapa Allah? Saya sibuk healing…”
😂
Ada juga:
- bio Instagram: “Bismillah hijrah”
- tapi posting berikutnya joget tiga jam.
Hijrahnya seperti sinyal WiFi di gunung: muncul… hilang… muncul… hilang… 😂
Tafsir Mendalam Ayat
Allah memperingatkan umat Nabi Muhammad ﷺ agar jangan seperti umat terdahulu.
Karena kebinasaan bukan hanya akibat maksiat fisik, tetapi juga akibat:
- mempermainkan agama,
- menolak sebagian hukum Allah,
- dan mengikuti hawa nafsu.
Imam Al-Maraghi رحمه الله berkata
“Orang yang membagi-bagi agama akan kehilangan petunjuk karena ia tidak menerima kebenaran secara utuh.”
📚 Rujukan: Tafsir Al-Maraghi.
Al-Qur’an Harus Diterima Secara Menyeluruh
Firman Allah Ta’ala
Surah Al-Baqarah ayat 208
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”
Bukan:
- Islam hari Jumat saja.
- Islam saat Ramadan saja.
- Islam kalau lagi ada kamera saja. 😂
Humor
Ada orang bilang:
“Ustaz, saya ini hatinya baik walaupun belum salat.”
Saya jawab: “Kalau motor bagus tapi gak pernah diisi bensin… ya tetap mogok, Pak…” 😂
Ada lagi: “Yang penting kan hati.”
Kalau semua pakai hati:
- ujian SIM pakai hati,
- bayar listrik pakai hati,
- ditilang bilang: “Pak polisi, hati saya sebenarnya hijau…”
Ya gak bisa juga. 😂
Agama itu bukan cuma rasa.
Agama itu taat.
Pelajaran Besar dari Ayat Ini
1. Jangan memilah ayat sesuai hawa nafsu
Terima semua ajaran Allah.
2. Jangan meremehkan Al-Qur’an
Karena orang-orang sebelum kita binasa akibat mempermainkan wahyu.
3. Hati-hati dengan syubhat zaman modern
Sekarang banyak orang:
- pintar bicara,
- viral,
- followers jutaan, tapi menggiring manusia agar meragukan syariat.
4. Jadilah Muslim kaffah
Bukan Muslim musiman.
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah…
Al-Qur’an bukan untuk dipilih-pilih.
Bukan untuk dicocokkan dengan hawa nafsu.
Tetapi kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan Al-Qur’an.
Kalau kita mencintai seluruh ayat Allah, maka Allah akan muliakan hidup kita.
Tetapi kalau kita mulai memilih:
- yang cocok diambil,
- yang tidak cocok dibuang,
maka itu jalan kehancuran umat terdahulu.
Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ
آمين يا رب العالمين.
Post a Comment