JANGAN LUPA DARI MANA KITA BERASAL

🌿 JANGAN LUPA DARI MANA KITA BERASAL

Tafsir QS. Al-Kahf Ayat 37

“Dari Tanah, dari Nutfah, Lalu Menjadi Manusia”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Pada kesempatan ini kita melanjutkan tadabbur kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.

Kita telah menyaksikan bagaimana seorang pemilik kebun yang kaya mulai berubah.

Awalnya dia memiliki kebun.

Kemudian dia merasa memiliki keberhasilan.

Kemudian keberhasilan membuatnya merasa lebih tinggi daripada saudaranya.

Kemudian kekayaan membuatnya berkata:

مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selamanya.”

Kemudian kesombongannya meningkat.

Dia berkata:

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً

“Aku kira hari Kiamat itu tidak akan terjadi.”

Dan puncak kesombongannya adalah:

وَلَئِنْ رُدِدْتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا

“Kalaupun aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik daripada kebun ini.”

Seakan-akan dia berkata:

“Kalau di dunia saja aku kaya, berarti Allah pasti sayang kepada saya. Kalau nanti ada akhirat, pasti saya akan lebih kaya lagi.”

Maka sahabatnya yang beriman menjawab dengan satu pertanyaan yang sangat tajam:

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Apakah engkau ingkar kepada Tuhan yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?”

Perhatikan jamaah...

Dia tidak menjawab:

“Engkau memang kaya.”

Dia tidak berkata:

“Jangan sombong karena aku lebih miskin.”

Tetapi dia membawa pembicaraan kepada pertanyaan yang paling fundamental:

Dari mana engkau berasal?


1. AYAT UTAMA: “AKAFARTA BILLADZĪ KHALAQAKA?”

Allah berfirman:

QS. Al-Kahf: 37

قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَكَفَرْتَ بِالَّذِيْ خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوّٰىكَ رَجُلًاۗ

“Temannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah engkau ingkar kepada Tuhan yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?’”

Ayat ini adalah sebuah teguran sekaligus argumentasi.

Pertanyaannya bukan karena orang beriman itu tidak tahu jawabannya.

Kalimat:

أَكَفَرْتَ؟

“Apakah engkau telah kufur?”

adalah pertanyaan yang mengandung pengingkaran dan kecaman terhadap sikap kufur tersebut.

Seolah-olah dia berkata:

“Bagaimana mungkin engkau mengingkari Allah, padahal tanda-tanda kekuasaan-Nya ada pada dirimu sendiri?”


2. JANGAN TERLALU TINGGI MENILAI DIRI

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Ada penyakit manusia yang sangat berbahaya.

Ketika seseorang belum memiliki apa-apa, dia mudah mengatakan:

“Semua ini dari Allah.”

Tetapi ketika mulai memiliki jabatan:

“Karena kemampuan saya.”

Ketika mulai punya uang:

“Karena kerja keras saya.”

Ketika usaha berkembang:

“Karena strategi saya.”

Ketika rumah bagus:

“Karena saya pandai mencari uang.”

Ketika anak berhasil:

“Karena pendidikan yang saya berikan.”

Sedikit demi sedikit...

“Allah” mengecil dalam ucapan, “saya” membesar dalam kehidupan.

Padahal kalau kita mau jujur...

Sebelum kita mempunyai pekerjaan, siapa yang memberi kita kehidupan?

Sebelum kita mempunyai rumah, siapa yang memberi kita tanah?

Sebelum kita mempunyai uang, siapa yang memberi kita tangan untuk bekerja?

Sebelum kita memiliki ilmu, siapa yang memberi kita akal?

Sebelum kita mampu berjalan, siapa yang menguatkan kaki?

Sebelum kita mampu berbicara, siapa yang memberi kemampuan kepada lidah?

Bahkan sebelum kita mampu mengatakan:

“Saya...”

Allah sudah menciptakan kita.


3. ALLAH MENGINGATKAN ASAL-USUL MANUSIA

Allah berfirman:

QS. Al-Hajj: 5

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan hari kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.”

Perhatikan argumentasi Al-Qur'an.

Allah tidak hanya mengatakan:

“Percayalah kepada kebangkitan.”

Tetapi Allah mengajak manusia berpikir:

Kamu dahulu tidak ada.

Kemudian Allah menjadikanmu ada.

Kalau Allah mampu menciptakanmu ketika sebelumnya engkau belum menjadi apa-apa, mengapa engkau menganggap mustahil Allah menghidupkanmu kembali setelah kematian?


4. ARGUMENTASI YANG SANGAT SEDERHANA

Jamaah...

Mari kita renungkan.

Dulu kita tidak punya nama.

Kemudian Allah memberi kita nama.

Dulu kita tidak mempunyai wajah.

Kemudian Allah memberi kita wajah.

Dulu kita tidak memiliki tangan.

Kemudian Allah memberi kita tangan.

Dulu kita tidak mempunyai mata.

Kemudian Allah memberi kita mata.

Dulu kita tidak mempunyai telinga.

Kemudian Allah memberi kita telinga.

Dulu kita tidak mempunyai akal.

Kemudian Allah memberikan akal.

Pertanyaannya:

Siapa yang menciptakan semua itu?

Apakah kita menciptakan diri kita sendiri?

Tidak.

Kalau seseorang menciptakan dirinya sendiri, berarti dia harus sudah ada sebelum dia ada.

Dan itu mustahil.

Maka keberadaan kita sendiri merupakan tanda bahwa ada Zat Yang Menciptakan kita.

Itulah Allah.


5. TAFSIR IMAM ATH-THABARI

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ، يَعْنِي خَلَقَ أَبَاكَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ، ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ، يَقُولُ: ثُمَّ أَنْشَأَكَ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ، ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Apakah engkau mengingkari Zat yang menciptakanmu dari tanah—yakni menciptakan ayahmu, Adam, dari tanah—kemudian dari nutfah, yakni kemudian menciptakanmu dari nutfah laki-laki dan perempuan, lalu menyempurnakanmu menjadi seorang manusia?”

Kemudian Ath-Thabari menghubungkan argumentasi itu dengan kebangkitan: Zat yang mampu menciptakan manusia sejak awal tentu mampu mengembalikannya setelah kematian.

Pelajarannya:

Allah mengajak manusia melihat penciptaan pertama untuk membuktikan kemampuan-Nya melakukan penciptaan kembali.

Kalau membuat sesuatu dari nol saja Allah mampu, apalagi menghidupkan kembali sesuatu yang pernah Dia ciptakan.


6. TAFSIR IBNU KATSIR: LIHATLAH DIRIMU SENDIRI!

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan sahabat mukmin itu merupakan teguran keras terhadap kekufuran dan ketertipuan orang kaya tersebut.

Beliau berkata:

يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَمَّا أَجَابَهُ صَاحِبُهُ الْمُؤْمِنُ، وَاعِظًا لَهُ وَزَاجِرًا عَمَّا هُوَ فِيهِ مِنَ الْكُفْرِ بِاللَّهِ وَالِاغْتِرَارِ

“Allah mengabarkan jawaban sahabatnya yang beriman, yang menasihatinya dan mencegahnya dari kekufuran kepada Allah serta ketertipuannya.”

Ibnu Katsir kemudian menjelaskan bahwa manusia mengetahui dirinya:

فَإِنَّهُ مَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ إِلَّا وَيَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ مَعْدُومًا ثُمَّ وُجِدَ

“Tidak ada seorang pun dari makhluk kecuali mengetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada kemudian menjadi ada.”

Dan keberadaan itu tidak mungkin terjadi karena dirinya sendiri.

Maka...

Keberadaan kita adalah salah satu tanda terbesar kekuasaan Allah.


7. TAFSIR AS-SA'DI: DUNIA BUKAN HASIL KEKUATANMU SENDIRI

Syaikh As-Sa'di memberikan penjelasan yang sangat indah.

Beliau berkata:

فَهُوَ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْكَ بِنِعْمَةِ الْإِيجَادِ وَالْإِمْدَادِ، وَوَاصَلَ عَلَيْكَ النِّعَمَ، وَنَقَلَكَ مِنْ طَوْرٍ إِلَى طَوْرٍ

“Dialah yang menganugerahkan kepadamu nikmat penciptaan dan pemeliharaan, terus-menerus melimpahkan nikmat kepadamu, dan memindahkanmu dari satu fase kehidupan kepada fase yang lain.”

Lalu As-Sa'di mengatakan:

فَلَمْ تَحْصُلْ لَكَ الدُّنْيَا بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، بَلْ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْكَ

“Engkau tidak memperoleh kenikmatan dunia semata-mata karena daya dan kekuatanmu sendiri, tetapi karena karunia Allah kepadamu.”

Masya Allah...

Kalimat ini sangat penting.

Kita bekerja, tetapi Allah yang memberi kemampuan bekerja.

Kita berusaha, tetapi Allah yang memberi kemampuan untuk berusaha.

Kita berdagang, tetapi Allah yang memberi pembeli.

Kita mengajar, tetapi Allah yang memberikan ilmu dan kemampuan berbicara.

Kita bertani, tetapi Allah yang menurunkan hujan.

Kita membangun rumah, tetapi Allah yang memberikan kesehatan dan rezeki.

Maka usaha itu benar.

Ikhtiar itu wajib.

Tetapi jangan sampai ikhtiar membuat kita lupa kepada Pemberi kemampuan untuk berikhtiar.


8. AL-QUR'AN MENGAJARKAN: “DARI TANAH KITA BERASAL”

Allah berfirman:

QS. Taha: 55

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari tanah itulah Kami menciptakan kamu, dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.”

Ada tiga perjalanan manusia:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ

“Darinya Kami menciptakan kamu.”

Kita berasal dari tanah.

Kemudian:

وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ

“Kepadanya Kami mengembalikan kamu.”

Kita kembali ke tanah.

Kemudian:

وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari sana Kami mengeluarkan kamu kembali.”

Itulah kebangkitan.

Maka hidup manusia tidak berhenti di dunia.


9. ALLAH MENGULANGI ARGUMEN INI DALAM AL-BAQARAH

Allah berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

QS. Al-Baqarah: 28

Ibnu Katsir menjelaskan:

يَقُولُ تَعَالَى مُحْتَجًّا عَلَى وُجُودِهِ وَقُدْرَتِهِ، وَأَنَّهُ الْخَالِقُ الْمُتَصَرِّفُ فِي عِبَادِهِ

“Allah menjadikan keadaan manusia sebagai argumentasi atas keberadaan-Nya dan kekuasaan-Nya, dan bahwa Dia adalah Pencipta yang mengatur hamba-hamba-Nya.”

Jadi tubuh kita adalah ayat.

Kehidupan kita adalah ayat.

Kelahiran kita adalah ayat.

Kematian kita adalah ayat.

Dan kebangkitan adalah janji Allah.


10. HADIS: SEMUA MANUSIA BERMULA DARI ADAM

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ

“Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh permukaan bumi. Maka anak keturunan Adam datang sesuai dengan keadaan tanah tersebut. Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam dan di antara itu; ada yang lembut dan ada yang keras; ada yang buruk dan ada yang baik.”

HR. Abu Dawud no. 4693 dan At-Tirmidzi no. 2955. At-Tirmidzi menilainya hasan shahih.

Perhatikan jamaah...

Kalau asal kita sama-sama dari Adam.

Kalau asal kita sama-sama dari tanah.

Kalau akhirnya kita semua kembali kepada tanah.

Lalu atas dasar apa manusia menyombongkan diri?

Karena rumah?

Karena mobil?

Karena jabatan?

Karena pangkat?

Karena gelar?

Karena rekening?

Karena keturunan?

Karena banyak pengikut?

Tanah tetap tanah.

Yang membedakan manusia bukan kemewahan dunianya.

Yang membedakan manusia adalah iman dan ketakwaannya.


11. JANGAN MERENDAHKAN ORANG KARENA MISKIN

Ada sesuatu yang sangat menarik dalam kisah ini.

Pemilik kebun memandang rendah sahabatnya karena hartanya sedikit.

Tetapi sahabat yang beriman tidak membalas dengan berkata:

“Memang kamu kaya, tapi saya lebih hebat.”

Dia mengembalikan ukuran kemuliaan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”

HR. Muslim no. 2564.

Maka jangan ukur manusia hanya dari apa yang terlihat.

Ada orang rumahnya sederhana tetapi hatinya mulia.

Ada orang pakaiannya biasa tetapi sujudnya luar biasa.

Ada orang tidak punya jabatan tetapi doanya diterima Allah.

Ada orang tidak terkenal di bumi tetapi terkenal di langit.

Dan ada pula orang yang terkenal di bumi tetapi tidak punya nilai di sisi Allah.


12. KEKAYAAN BUKAN MASALAH — KESOMBONGANLAH YANG BERBAHAYA

Jamaah...

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa orang kaya pasti buruk.

Tidak.

Abdurrahman bin Auf kaya.

Utsman bin Affan kaya.

Abu Bakar juga memiliki harta.

Banyak sahabat Nabi adalah orang-orang yang berkecukupan.

Masalahnya bukan:

“Berapa banyak hartamu?”

Tetapi:

“Siapa yang menguasai hatimu: harta atau Allah?”

Harta di tangan bisa menjadi amal.

Tetapi harta di hati bisa menjadi bencana.

Mobil di garasi tidak masalah.

Tetapi kalau mobil membuat kita meremehkan orang lain, itu masalah.

Rumah besar tidak masalah.

Tetapi kalau rumah membuat kita lupa masjid, itu masalah.

Jabatan tidak masalah.

Tetapi kalau jabatan membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah, itu masalah.


13. KALIMAT “AKU” YANG BERBAHAYA

Kisah ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dengan kalimat:

“Saya berhasil karena saya.”

Boleh mengatakan:

“Saya bekerja keras.”

Tetapi jangan lupa:

“Allah yang memberi saya kemampuan untuk bekerja keras.”

Boleh mengatakan:

“Saya mendapatkan rezeki karena usaha.”

Tetapi tambahkan dalam hati:

“Allah yang membuka pintu rezeki.”

Boleh mengatakan:

“Saya berhasil mendidik anak.”

Tetapi jangan lupa:

“Allah yang memberikan hidayah dan taufik.”

Sebab manusia hanya memiliki ikhtiar.

Allah memiliki takdir.

Manusia merencanakan.

Allah menentukan.

Manusia mengetuk pintu.

Allah yang membukakan.


14. KENAPA SAHABATNYA MENGINGATKAN ASAL-USUL MANUSIA?

Karena kesombongan biasanya muncul ketika manusia lupa dua hal:

Pertama: lupa dari mana dia berasal.

Dari tanah.

Dari nutfah.

Dari sesuatu yang tidak layak dibanggakan.

Kedua: lupa ke mana dia akan kembali.

Kepada Allah.

Maka orang yang mengingat awal dan akhir hidupnya akan lebih mudah rendah hati.

Dari tanah.

Hidup beberapa puluh tahun.

Kemudian kembali ke tanah.

Lalu dibangkitkan.

Kemudian berdiri di hadapan Allah.


15. RENUNGAN: ANDAI MANUSIA MELIHAT DIRINYA KETIKA BELUM LAHIR

Coba bayangkan jamaah...

Sebelum kita lahir, kita tidak bisa berkata:

“Saya mau lahir di keluarga ini.”

Kita tidak memilih:

siapa ayah kita,

siapa ibu kita,

di mana kita lahir,

warna kulit kita,

tinggi badan kita,

kapan kita lahir.

Semua itu Allah tentukan.

Kemudian kita tumbuh.

Allah memberikan pendengaran.

Allah memberikan penglihatan.

Allah memberikan akal.

Allah memberikan kesempatan.

Allah memberikan rezeki.

Allah memberikan orang-orang yang membantu kita.

Lalu setelah semua itu...

manusia berkata:

“Ini semua karena saya.”

Maka ayat ini datang:

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ؟

“Apakah engkau mengingkari Zat yang menciptakanmu?”


16. JANGAN SAMPAI KITA SEPERTI PEMILIK KEBUN

Jamaah yang dirahmati Allah...

Yang perlu kita takutkan bukan sekadar menjadi orang miskin.

Yang lebih perlu kita takutkan adalah:

menjadi orang kaya tetapi lupa kepada Allah.

Bukan sekadar takut tidak punya jabatan.

Yang harus ditakutkan adalah:

punya jabatan tetapi kehilangan tawadhu.

Bukan hanya takut kehilangan harta.

Tetapi takut:

harta membuat kita kehilangan akhirat.

Bukan hanya takut bisnis bangkrut.

Tetapi takut:

iman yang bangkrut.

Karena kalau bisnis bangkrut, kita masih bisa memulai lagi.

Tetapi kalau umur habis...

Tidak ada restart.

Tidak ada kesempatan kedua.


17. KEMATIAN AKAN MENGEMBALIKAN SEMUA STATUS

Hari ini seseorang disebut:

“Direktur.”

Besok...

mungkin hanya disebut:

“Jenazah.”

Hari ini seseorang dipanggil:

“Pak Haji.”

Besok:

“Almarhum.”

Hari ini seseorang memiliki banyak rekening.

Besok...

yang dibawa hanya amal.

Hari ini seseorang memiliki banyak rumah.

Besok...

rumahnya hanya beberapa meter.

Hari ini seseorang memiliki banyak pakaian.

Besok...

hanya kain kafan.

Hari ini seseorang sibuk menjaga penampilan.

Besok...

yang dipertanggungjawabkan adalah amal.

Maka jangan terlalu bangga dengan sesuatu yang sebentar lagi ditinggalkan.


18. DUNIA TIDAK BOLEH MENJADI ALAT UNTUK MENGUKUR KEMULIAAN

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

QS. Al-Hujurat: 13

Kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dengan:

  • jumlah hartanya,
  • luas rumahnya,
  • merek kendaraannya,
  • banyak pengikutnya,
  • tinggi jabatannya,
  • popularitasnya.

Tetapi dengan:

تقوى — takwa.


19. DARI “AKU” MENUJU “ALLAH”

Inilah perubahan terbesar yang harus terjadi dalam hidup seorang mukmin.

Sebelum mendapat nikmat:

“Ya Allah, berikan.”

Setelah mendapat nikmat:

“Ini karena saya.”

Ini berbahaya.

Seharusnya:

Sebelum mendapat nikmat:

“Ya Allah, berikan.”

Setelah mendapat nikmat:

“Alhamdulillah, ini dari-Mu.”

Ketika berhasil:

الحمد لله

Ketika mendapat rezeki:

الحمد لله

Ketika anak berhasil:

الحمد لله

Ketika usaha berkembang:

الحمد لله

Ketika sembuh:

الحمد لله

Ketika mendapat jabatan:

الحمد لله

Karena semakin besar nikmat yang kita terima, seharusnya semakin besar rasa syukur kita.


20. RENUNGAN UNTUK ORANG TUA

Ayat ini juga sangat penting bagi pendidikan anak.

Jangan hanya mengajarkan anak:

“Kamu harus sukses.”

Ajarkan:

“Kalau kamu sukses, jangan lupa Allah.”

Jangan hanya mengatakan:

“Belajarlah supaya kamu kaya.”

Tetapi katakan:

“Belajarlah supaya ilmumu bermanfaat.”

Jangan hanya:

“Cari pekerjaan yang gajinya besar.”

Tetapi:

“Carilah pekerjaan yang halal dan membawa keberkahan.”

Jangan hanya:

“Jadilah orang hebat.”

Tetapi:

“Jadilah hamba Allah yang taat.”

Karena anak yang hanya diajarkan mengejar dunia bisa menjadi orang sukses yang kehilangan arah.


21. TIGA PERTANYAAN UNTUK DIRI KITA

Sebelum tidur malam ini, coba tanyakan kepada diri sendiri:

Pertanyaan pertama:

Dari mana saya berasal?

Jawabannya:

Dari Allah yang menciptakan saya.

Pertanyaan kedua:

Untuk apa saya hidup?

Untuk beribadah kepada Allah.

Pertanyaan ketiga:

Ke mana saya akan kembali?

Kepada Allah.

Kalau tiga pertanyaan ini benar-benar hidup dalam hati kita...

kita tidak akan mudah sombong.


22. PESAN TERBESAR AYAT 37

Jamaah...

QS. Al-Kahf ayat 37 mengajarkan satu prinsip:

ORANG YANG INGAT ASAL-USULNYA AKAN LEBIH MUDAH MERENDAHKAN HATINYA DI HADAPAN ALLAH.

Kita berasal dari tanah.

Kita tumbuh dengan kehendak Allah.

Kita hidup dengan rezeki Allah.

Kita bernapas dengan izin Allah.

Kita sehat karena pertolongan Allah.

Kita bekerja dengan kemampuan dari Allah.

Kita memiliki harta karena karunia Allah.

Dan suatu hari...

semua akan kita tinggalkan.

Yang tinggal bersama kita hanyalah amal.


23. PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah...

Mari kita kembali kepada percakapan dua pemilik kebun.

Orang kaya berkata:

“Lihat kebunku.”

Orang beriman menjawab:

“Lihat siapa yang menciptakanmu.”

Orang kaya berkata:

“Ini tidak akan hancur.”

Orang beriman mengingatkan:

“Dunia akan berakhir.”

Orang kaya berkata:

“Kalau aku kembali kepada Allah, pasti aku mendapatkan yang lebih baik.”

Orang beriman mengajaknya berpikir:

“Bagaimana mungkin engkau merasa aman dari Allah, sementara engkau sendiri adalah makhluk ciptaan-Nya?”

Maka jangan hanya melihat:

apa yang kita punya.

Lihatlah:

siapa yang memberikannya.

Jangan hanya melihat:

seberapa tinggi kita sekarang.

Ingatlah:

dari mana kita berasal.

Jangan hanya memikirkan:

bagaimana menambah harta.

Pikirkan:

bagaimana menambah amal.

Jangan hanya takut:

kehilangan dunia.

Takutlah:

kehilangan akhirat.

Karena pada akhirnya...

kita semua akan kembali.

Allah berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Darinya Kami menciptakan kamu, kepadanya Kami mengembalikan kamu, dan darinya Kami mengeluarkan kamu sekali lagi.”

Maka mari kita hidup dengan rendah hati.

Kalau Allah memberi kita harta, jadikan harta sebagai jalan menuju surga.

Kalau Allah memberi kita ilmu, jadikan ilmu sebagai jalan menuju ketaatan.

Kalau Allah memberi kita jabatan, jadikan jabatan sebagai amanah.

Kalau Allah memberi kita keluarga, jadikan keluarga sebagai jalan menuju surga.

Dan kalau suatu hari Allah mengambil semuanya...

semoga hati kita tetap berkata:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

Ya Allah...

Jangan Engkau jadikan dunia memenuhi tangan kami tetapi mengosongkan hati kami.

Jangan Engkau jadikan harta sebagai sebab kami jauh dari-Mu.

Jangan Engkau jadikan keberhasilan sebagai sebab kami sombong.

Jadikan kami hamba yang ketika diberi nikmat bersyukur, ketika diuji bersabar, ketika berdosa segera bertaubat, dan ketika dipanggil menghadap-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا مُتَوَاضِعِينَ، شَاكِرِينَ، قَانِعِينَ، تَائِبِينَ، مُحْسِنِينَ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]:37. Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa sahabat mukmin mengingatkan lawan bicaranya tentang asal penciptaan dan bahwa kenikmatan dunia tidak diperoleh semata-mata dengan kekuatan manusia, melainkan dengan karunia Allah.

[2] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:37. Ath-Thabari menjelaskan “مِنْ تُرَابٍ” berkaitan dengan penciptaan Adam dari tanah dan “مِنْ نُطْفَةٍ” berkaitan dengan penciptaan keturunannya dari nutfah, kemudian Allah menyempurnakannya menjadi manusia.

[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:37. Beliau menjadikan keberadaan manusia dari keadaan sebelumnya tidak ada sebagai salah satu argumentasi atas adanya Pencipta dan kekuasaan-Nya.

[4] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:37. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa sahabat mukmin tersebut mengingatkan bahwa penciptaan manusia pertama merupakan sesuatu yang lebih menakjubkan daripada penciptaan kembali setelah kematian.

[5] Al-Qur'an, QS. Al-Hajj [22]:5. Ayat ini secara eksplisit menghubungkan tahapan penciptaan manusia dengan argumentasi tentang kebangkitan.

[6] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]:28. Allah menggunakan penciptaan dan penghidupan manusia sebagai hujjah terhadap orang yang mengingkari Allah dan kebangkitan.

[7] Al-Qur'an, QS. Taha [20]:55: مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ.

[8] HR. Abu Dawud no. 4693 dan At-Tirmidzi no. 2955, dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه, tentang penciptaan Adam dari segenggam tanah. At-Tirmidzi menilai hadis tersebut hasan shahih.

[9] HR. Muslim no. 2564, dari Abu Hurairah رضي الله عنه: إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ. Hadis ini menjadi dasar penting bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan semata-mata rupa dan harta, tetapi hati dan amal.

Inti pesan QS. Al-Kahf 37:

“Jangan terlalu bangga dengan apa yang kita miliki, sampai kita lupa kepada siapa kita berutang kehidupan.”

Dari tanah kita berasal. Kepada tanah kita kembali. Dan kepada Allah kita akan mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan kita.

Tidak ada komentar