Ketika Allah Memberikan Kekuasaan dan Segala Sarana

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 84

Ketika Allah Memberikan Kekuasaan dan Segala Sarana

Tema:

Kekuasaan adalah Amanah, Ilmu adalah Sarana, dan Ikhtiar adalah Jalan


A. PEMBUKAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Pada ayat 83, Allah memperkenalkan kisah Dzulkarnain:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain.”

Kemudian pada ayat 84 Allah langsung memberikan satu informasi yang sangat penting:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kedudukan yang kuat kepadanya di bumi.”

Dan:

وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.”

Perhatikan.

Sebelum Al-Qur'an menceritakan perjalanan Dzulkarnain ke barat dan timur, Allah terlebih dahulu menjelaskan modal yang diberikan kepadanya:

kekuasaan,

kemampuan,

ilmu,

sarana,

dan jalan untuk mencapai tujuan.

Tetapi semua itu berasal dari Allah.

Maka tema besar ayat ini adalah:

JANGAN SOMBONG KETIKA MEMILIKI SARANA, KARENA SARANA ITU PEMBERIAN ALLAH.


B. MEMBACA AYAT

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

QS. Al-Kahf: 84

اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا ۙ

Artinya:

“Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya untuk mencapai segala sesuatu.”

Ayat ini menampilkan dua pemberian Allah:

1. مَكَّنَّا

Allah memberikan tamkīn — kekuasaan, kedudukan dan kemampuan untuk berbuat.

2. سَبَبًا

Allah memberikan sebab, sarana dan jalan untuk mencapai tujuan.

Dua hal ini sangat penting:

Kekuasaan tanpa sarana sulit digunakan.

Sarana tanpa kemampuan juga sulit dimanfaatkan.

Dan semuanya pada hakikatnya berasal dari Allah.


C. APA MAKNA “مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ”?

Kata:

مَكَّنَّا

berasal dari akar kata م ك ن.

Maknanya berkaitan dengan memberikan kedudukan yang kuat, kemampuan dan kesempatan untuk menguasai atau melakukan sesuatu.

Ibn Kathir menjelaskan:

أَعْطَيْنَاهُ مُلْكًا عَظِيمًا مُمَكَّنًا

“ Kami memberinya kerajaan/kekuasaan yang besar dan kokoh.”

Ibn Kathir kemudian menjelaskan bahwa Dzulkarnain diberi berbagai sarana yang biasanya dimiliki oleh para penguasa, seperti pasukan dan perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai keadaan.

Namun kita harus berhati-hati.

Al-Qur'an tidak memberi kita rincian lengkap tentang luas kerajaan Dzulkarnain, jumlah pasukannya, bentuk istananya, atau detail teknologi yang dimilikinya.

Yang ditekankan adalah:

Allah memberinya kemampuan untuk melaksanakan tugasnya.


D. KEKUASAAN BUKAN BUKTI BAHWA SESEORANG LEBIH MULIA

Jamaah yang dirahmati Allah...

Ini penting.

Kalau Allah memberikan seseorang:

  • jabatan,
  • kekayaan,
  • kecerdasan,
  • pengaruh,
  • popularitas,
  • teknologi,
  • kemampuan berbicara,
  • banyak pengikut,

jangan langsung menganggap:

“Berarti Allah lebih mencintai saya.”

Belum tentu.

Karena semua itu bisa menjadi:

نِعْمَةٌ

nikmat,

tetapi juga bisa menjadi:

فِتْنَةٌ

ujian.

Allah berfirman:

QS. Al-Anfal: 28

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Maka:

jabatan adalah ujian,

kekayaan adalah ujian,

ilmu adalah ujian,

kekuasaan adalah ujian.


E. APA ITU “سَبَبًا”?

Allah berfirman:

وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Dan Kami memberikan kepadanya dari segala sesuatu suatu sebab.”

Kata:

سَبَب

secara bahasa berarti sesuatu yang menjadi penghubung menuju tujuan.

Para ulama tafsir menjelaskan maknanya dengan beberapa ungkapan.

Ath-Thabari menukil penafsiran dari Ibn Abbas dan sejumlah ulama salaf bahwa:

وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

أَيْ عِلْمًا

“Yakni ilmu.”

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Dzulkarnain diberi pengetahuan tentang hal-hal yang menjadi sarana untuk mencapai apa yang ia tuju.

Jadi sabab bukan sekadar benda.

Ia dapat berupa:

  • ilmu;
  • kemampuan;
  • jalan;
  • alat;
  • manusia;
  • strategi;
  • pengalaman;
  • organisasi;
  • teknologi;
  • kesempatan.

F. PELAJARAN BESAR:

ALLAH MEMBERIKAN HASIL MELALUI SEBAB

Jamaah...

Perhatikan pola Al-Qur'an.

Allah bisa saja memberikan sesuatu secara langsung.

Tetapi Allah sering mengajarkan manusia untuk menggunakan asbab — sebab-sebab.

Misalnya:

Allah memberikan kesembuhan.

Tetapi kita tetap berobat.

Allah memberikan rezeki.

Tetapi kita tetap bekerja.

Allah memberikan ilmu.

Tetapi kita tetap belajar.

Allah memberikan kemenangan.

Tetapi kita tetap berusaha.

Allah memberikan keberhasilan pendidikan.

Tetapi guru tetap mengajar.

Orang tua tetap mendidik.

Anak tetap belajar.

Inilah keseimbangan Islam:

Beriman kepada Allah.

Mengambil sebab.

Kemudian bertawakal kepada Allah.


G. HADIS:

“BERUSAHALAH PADA APA YANG BERMANFAAT BAGIMU”

Rasulullah ﷺ bersabda:

HR. Muslim no. 2664

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, jangan berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, niscaya akan terjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan,’ karena perkataan ‘seandainya’ membuka jalan bagi setan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2664.

Perhatikan urutannya:

احْرِصْ

“Bersungguh-sungguhlah.”

عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Pada sesuatu yang bermanfaat bagimu.”

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Mintalah pertolongan kepada Allah.”

وَلَا تَعْجِزْ

“Jangan merasa lemah.”

Ini adalah formula luar biasa:

Usaha + doa + tawakal + tidak menyerah.


H. JANGAN MENUNGGU KEAJAIBAN TANPA USAHA

Ada orang berkata:

“Saya tawakal kepada Allah.”

Tetapi tidak mau belajar.

“Saya tawakal.”

Tetapi tidak mau bekerja.

“Saya tawakal.”

Tetapi tidak mau memperbaiki strategi.

Ini bukan tawakal yang benar.

Tawakal bukan meninggalkan sebab.

Tawakal adalah:

mengambil sebab yang benar, kemudian menyerahkan hasil kepada Allah.

Dzulkarnain diberi:

سَبَبًا

sebab.

Dan pada ayat berikutnya:

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

“Lalu dia mengikuti/menggunakan suatu sebab.”

Jadi ayat 84 tidak berhenti pada:

Allah memberinya sarana.

Tetapi ayat 85 menunjukkan:

Dzulkarnain menggunakan sarana itu.


I. KOMENTAR AS-SA'DI:

SARANA HARUS DIGUNAKAN

As-Sa‘di menjelaskan:

وَأَتْبَعَ سَبَبًا

bahwa Dzulkarnain menggunakan sebab-sebab yang Allah berikan kepadanya.

Beliau memberikan penjelasan yang sangat penting:

فَلَيْسَ كُلُّ مَنْ عِنْدَهُ شَيْءٌ مِنَ الْأَسْبَابِ يَسْلُكُهُ

“Tidak setiap orang yang memiliki suatu sarana mampu menempuhnya.”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa ketika kemampuan dan penggunaan sebab bertemu, tujuan dapat tercapai.

Pelajarannya:

Memiliki kesempatan belum tentu berhasil.

Memiliki ilmu belum tentu diamalkan.

Memiliki teknologi belum tentu produktif.

Memiliki jabatan belum tentu menjadi pemimpin yang baik.

Memiliki uang belum tentu bermanfaat.

Yang menentukan adalah bagaimana sarana itu digunakan.


J. ILMU ADALAH SALAH SATU “SEBAB” TERBESAR

Ath-Thabari menukil dari Ibn Abbas:

عِلْمًا

“Ilmu.”

Ini sangat menarik.

Allah tidak hanya memberikan Dzulkarnain kekuasaan.

Allah memberinya ilmu tentang bagaimana menggunakan kekuasaan tersebut.

Karena:

Kekuasaan tanpa ilmu berbahaya.

Ilmu tanpa amal tidak menghasilkan.

Amal tanpa ilmu bisa salah arah.

Maka seorang pemimpin membutuhkan ilmu.

Guru membutuhkan ilmu.

Orang tua membutuhkan ilmu.

Pedagang membutuhkan ilmu.

Bahkan seorang pelajar membutuhkan ilmu untuk menggunakan waktu dan kemampuannya.


K. AL-QUR'AN:

ALLAH MENINGGIKAN ORANG BERILMU

Allah berfirman:

QS. Al-Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya:

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu merupakan salah satu sarana yang Allah gunakan untuk mengangkat manusia.

Tetapi ayat ditutup dengan:

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Artinya ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan.

Ilmu harus melahirkan amal.


L. KEKUASAAN DAN ILMU HARUS BERTEMU DENGAN AMANAH

Jamaah...

Kalau seseorang memiliki:

ilmu + kekuasaan + sarana

tetapi tidak memiliki amanah,

maka ia bisa menjadi bahaya.

Sebaliknya:

orang yang memiliki amanah tetapi tidak memiliki ilmu,

bisa melakukan kebaikan dengan cara yang salah.

Maka idealnya:

علم + قدرة + أمانة

Ilmu + kemampuan + amanah.

Inilah salah satu pelajaran besar dari Dzulkarnain.


M. HADIS:

SETIAP ORANG ADALAH PEMIMPIN

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا...

Artinya:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...”

Hadis ini muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Maka jangan berpikir:

“Saya bukan raja seperti Dzulkarnain.”

Tidak.

Kita semua mempunyai wilayah tanggung jawab.


N. GURU JUGA MEMILIKI “مَكَّنَّا”

Seorang guru mungkin tidak memiliki kerajaan.

Tetapi Allah memberinya:

kelas.

murid.

ilmu.

otoritas.

waktu.

pengaruh.

Itu semua adalah bentuk kecil dari:

مَكَّنَّا لَهُ

“Allah memberikan kemampuan/kedudukan.”

Maka seorang guru harus bertanya:

“Untuk apa Allah memberi saya kemampuan mengajar?”

Jawabannya bukan:

“Supaya saya berkuasa atas murid.”

Tetapi:

Supaya saya membantu mereka tumbuh.


O. ORANG TUA JUGA MEMILIKI “سَبَبًا”

Allah memberi orang tua berbagai sebab:

  • pendidikan;
  • pengalaman;
  • penghasilan;
  • rumah;
  • lingkungan;
  • komunikasi;
  • teladan;
  • doa.

Maka jangan berkata:

“Saya tidak bisa mendidik anak.”

Lihat kembali sebab-sebab yang Allah berikan.

Mungkin belum digunakan dengan maksimal.


P. TEKNOLOGI JUGA ADALAH “سَبَب”

Di zaman kita, Allah memberikan manusia sesuatu yang dahulu tidak dimiliki:

teknologi.

Internet.

Komputer.

Smartphone.

Kecerdasan buatan.

Platform pembelajaran.

Perangkat komunikasi.

Semua itu bisa menjadi:

سَبَبٌ لِلْخَيْرِ

sarana kebaikan,

atau:

سَبَبٌ لِلشَّرِّ

sarana keburukan.

Teknologinya sendiri bukan tujuan.

Yang menentukan adalah:

siapa yang menggunakannya dan untuk apa.


Q. JANGAN MENYALAHKAN ALAT

Ada orang berkata:

“HP merusak anak.”

Belum tentu HP-nya.

Yang harus ditanya:

Bagaimana HP digunakan?

HP dapat menjadi:

  • alat belajar;
  • alat membaca Al-Qur'an;
  • alat komunikasi;
  • alat bekerja;
  • alat dakwah.

Tetapi dapat juga menjadi:

  • alat maksiat;
  • alat ghibah;
  • alat fitnah;
  • alat pemborosan waktu.

Jadi:

Sarana mengikuti tujuan.


R. KEMAMPUAN BUKAN MILIK MUTLAK KITA

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 78

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا ۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”

Kita lahir tanpa ilmu.

Kemudian Allah memberi:

pendengaran,

penglihatan,

akal dan hati.

Maka jangan sombong dengan kecerdasan.

Jangan sombong dengan gelar.

Jangan sombong dengan jabatan.

Jangan sombong dengan kemampuan.

Karena semuanya:

مِنَ اللَّهِ

“Dari Allah.”


S. ORANG SOMBONG MELIHAT SARANA, ORANG BERIMAN MELIHAT PEMBERI SARANA

Ini perbedaan besar.

Orang sombong berkata:

“Saya berhasil karena saya hebat.”

Orang beriman berkata:

“Alhamdulillah, Allah memberi saya kemampuan.”

Orang sombong berkata:

“Saya punya jabatan karena saya pantas.”

Orang beriman berkata:

“Ini amanah dari Allah.”

Orang sombong berkata:

“Saya punya banyak ilmu.”

Orang beriman berkata:

“Allah yang mengajarkan saya.”

Orang sombong melihat:

sarana.

Orang beriman melihat:

Musabbib al-Asbāb — Allah, Zat yang menciptakan dan memberi seluruh sebab.


T. PELAJARAN DARI NABI SULAIMAN

Allah memberikan Nabi Sulaiman kekuasaan luar biasa.

Tetapi perhatikan bagaimana beliau berbicara.

QS. An-Naml: 40

قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Artinya:

“Dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.’”

Inilah mentalitas seorang pemimpin beriman.

Ketika mendapatkan kemampuan:

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia Tuhanku.”

Bukan:

“Ini karena saya hebat.”


U. DZULKARNAIN DAN SULAIMAN:

KEKUASAAN YANG TIDAK MELAHIRKAN KESOMBONGAN

Kisah Dzulkarnain akan memperlihatkan seorang manusia yang memiliki kekuatan besar.

Kisah Sulaiman juga memperlihatkan seorang nabi yang memiliki kerajaan luar biasa.

Namun Al-Qur'an tidak mengajarkan kita untuk mengagumi kekuasaan semata.

Al-Qur'an mengajarkan:

bagaimana kekuasaan ditundukkan kepada Allah.

Ini yang paling penting.


V. JANGAN HANYA MEMINTA HASIL, MINTALAH “ASBĀB”

Kadang kita berdoa:

“Ya Allah, jadikan saya sukses.”

Bagus.

Tetapi tambahkan:

“Ya Allah, berikan saya ilmu untuk sukses.”

“Berikan saya kemampuan.”

“Berikan saya kesempatan.”

“Berikan saya guru yang baik.”

“Berikan saya lingkungan yang baik.”

“Berikan saya strategi yang benar.”

“Berikan saya kekuatan untuk menjalankannya.”

Karena Allah berfirman:

وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Allah memberikan sebab-sebab.


W. EMPAT JENIS SEBAB YANG PERLU KITA CARI

1. Sebab ilmu

Belajar.

Membaca.

Bertanya.

Berguru.

2. Sebab amal

Berlatih.

Bekerja.

Mencoba.

Mengulang.

3. Sebab manusia

Membangun hubungan baik.

Bekerja sama.

Meminta nasihat.

Membangun tim.

4. Sebab spiritual

Doa.

Istighfar.

Salat.

Sedekah.

Tawakal.

Karena manusia bukan hanya membutuhkan strategi.

Manusia membutuhkan pertolongan Allah.


X. JANGAN BERHENTI KARENA SARANA BELUM SEMPURNA

Ada orang berkata:

“Saya belum punya fasilitas.”

“Saya belum punya modal.”

“Saya belum punya komputer.”

“Saya belum punya banyak murid.”

“Saya belum punya tim.”

Jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti total.

Mulailah dengan sebab yang ada.

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Bersungguh-sungguhlah pada sesuatu yang bermanfaat bagimu.”

Jangan menunggu semuanya sempurna.

Mulai dari apa yang ada.

Perbaiki sambil berjalan.

Evaluasi sambil berkembang.


Y. TETAPI JANGAN MENGHALALKAN SEGALA CARA

Ada satu hal penting.

Islam memerintahkan kita mengambil sebab.

Tetapi:

tidak semua sebab boleh digunakan.

Kita tidak boleh berkata:

“Yang penting berhasil.”

Tidak.

Dalam Islam ada:

tujuan yang halal

dan

cara yang halal.

Misalnya:

ingin kaya adalah boleh.

Tetapi mencuri tidak boleh.

Ingin menang adalah boleh.

Tetapi menipu tidak boleh.

Ingin terkenal adalah boleh.

Tetapi membuat fitnah tidak boleh.

Ingin memiliki jabatan adalah boleh.

Tetapi menyuap tidak boleh.

Tujuan yang baik tidak menghalalkan cara yang haram.


Z. AS-Sa'DI:

KEMAMPUAN + PENGGUNAAN YANG BENAR

As-Sa‘di memberikan pelajaran yang sangat relevan:

فَإِذَا اجْتَمَعَتِ الْقُدْرَةُ عَلَى السَّبَبِ الْحَقِيقِيِّ وَالْعَمَلُ بِهِ حَصَلَ الْمَقْصُودُ

“Apabila kemampuan terhadap sebab yang benar bertemu dengan penggunaan sebab tersebut, tercapailah tujuan.”

Kalimat ini dapat kita jadikan prinsip pendidikan:

Potensi + ilmu + latihan + tindakan = perkembangan.

Seorang siswa mungkin cerdas.

Tetapi kalau tidak belajar, potensinya tidak berkembang.

Seorang guru mungkin pintar.

Tetapi kalau tidak mempersiapkan pembelajaran, hasilnya tidak maksimal.

Seorang pemimpin mungkin punya visi.

Tetapi tanpa pelaksanaan, visi tinggal visi.


AA. PELAJARAN UNTUK PARA GURU

Guru jangan hanya bertanya:

“Apakah saya punya ilmu?”

Tetapi:

“Apakah saya menggunakan ilmu itu?”

Apakah ilmu itu masuk ke:

  • modul ajar?
  • pembelajaran?
  • evaluasi?
  • bimbingan siswa?
  • keteladanan?

Karena ilmu yang hanya tersimpan di kepala belum tentu menjadi manfaat.


AB. PELAJARAN UNTUK PARA SISWA

Wahai anak-anak...

Allah memberikan kepada kalian:

  • mata;
  • telinga;
  • akal;
  • waktu;
  • guru;
  • buku;
  • internet;
  • teknologi.

Itu semua adalah asbāb.

Jangan gunakan semuanya hanya untuk hiburan.

Gunakan untuk:

belajar,

berlatih,

berkarya,

beribadah.

Kalian tidak perlu menunggu dewasa untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Mulailah sekarang.


AC. PELAJARAN UNTUK PARA PEMIMPIN

Kalau Allah memberikan jabatan:

jangan bertanya:

“Apa keuntungan saya?”

Tanyakan:

“Apa manfaat yang bisa saya berikan?”

Karena kekuasaan adalah amanah.

Dan Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”


AD. PELAJARAN UNTUK PARA ORANG TUA

Allah telah memberikan kepada orang tua berbagai sarana untuk mendidik anak.

Tetapi jangan hanya menggunakan:

perintah.

Gunakan juga:

keteladanan.

Jangan hanya menggunakan:

hukuman.

Gunakan juga:

komunikasi.

Jangan hanya menggunakan:

nasihat.

Gunakan juga:

doa.

Karena mendidik anak membutuhkan banyak sebab.


AE. KEKUASAAN TERBESAR ADALAH MENGUASAI DIRI

Jamaah...

Ada orang mampu menguasai orang lain.

Tetapi tidak mampu menguasai emosinya.

Ada orang mampu memimpin perusahaan.

Tetapi tidak mampu memimpin hawa nafsunya.

Ada orang mampu memerintah banyak orang.

Tetapi tidak mampu memerintah dirinya untuk salat tepat waktu.

Maka jangan hanya mengejar:

tamkīn di luar diri.

Carilah juga:

tamkīn di dalam diri.

Kemampuan mengendalikan:

  • marah;
  • syahwat;
  • kesombongan;
  • malas;
  • iri;
  • dendam;
  • cinta dunia.

Karena manusia yang paling kuat bukan yang paling banyak menguasai orang lain.

Tetapi yang mampu menguasai dirinya dalam ketaatan kepada Allah.


AF. KEKUATAN SEJATI ADALAH KEKUATAN YANG TERARAH

Hadis Muslim tadi mengatakan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah.”

Namun Nabi ﷺ langsung memberikan arahan:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Bersungguh-sungguhlah pada sesuatu yang bermanfaat.”

Jadi kekuatan bukan sekadar tenaga.

Kekuatan harus diarahkan kepada manfaat.

Kuat tetapi salah arah = bahaya.

Pintar tetapi salah arah = bahaya.

Kaya tetapi salah arah = bahaya.

Berkuasa tetapi salah arah = bahaya.

Berteknologi tetapi salah arah = bahaya.


AG. RUMUS QS. AL-KAHF AYAT 84

Kalau kita sederhanakan ayat ini menjadi sebuah rumus:

اللَّهُ → مَكَّنَ → سَبَبًا → عَمَلٌ → نَتِيجَةٌ

Allah memberi → kemampuan → sarana → usaha → hasil.

Tetapi manusia tidak boleh melupakan:

hasil tetap berada di tangan Allah.

Karena itu kita:

berusaha tanpa sombong,

berencana tanpa merasa paling menentukan,

bekerja tanpa meninggalkan doa,

menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi,

memiliki kekuasaan tanpa menyembah kekuasaan.


AH. RENUNGAN

Jamaah yang dirahmati Allah...

Coba malam ini kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apa saja yang Allah berikan kepada saya?”

Mungkin:

ilmu.

keluarga.

pekerjaan.

kesehatan.

waktu.

jabatan.

jaringan pertemanan.

teknologi.

kemampuan berbicara.

pengalaman.

uang.

kesempatan.

Semua itu adalah:

سَبَبًا

Sarana.

Pertanyaannya:

Untuk apa kita menggunakannya?


AI. JANGAN SAMPAI NIKMAT BERUBAH MENJADI PETAKA

Allah memberi seseorang kemampuan berbicara.

Kalau digunakan untuk dakwah:

menjadi pahala.

Kalau digunakan untuk menghina:

menjadi dosa.

Allah memberi seseorang uang.

Kalau digunakan untuk sedekah:

menjadi pahala.

Kalau digunakan untuk maksiat:

menjadi dosa.

Allah memberi seseorang teknologi.

Kalau digunakan untuk ilmu:

menjadi pahala.

Kalau digunakan untuk kemaksiatan:

menjadi dosa.

Jadi masalahnya bukan hanya:

“Apa yang Allah berikan?”

Tetapi:

“Apa yang saya lakukan dengan pemberian itu?”


AJ. PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 84 mengajarkan kita lima prinsip besar.

Pertama:

Kekuasaan adalah pemberian Allah.

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya Kami memberi kedudukan kepadanya di bumi.”

Kedua:

Ilmu dan kemampuan adalah pemberian Allah.

وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Kami memberikan kepadanya berbagai sebab.”

Ketiga:

Manusia harus menggunakan sebab.

Ayat berikutnya berkata:

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

“Lalu dia mengikuti suatu sebab.”

Keempat:

Jangan bergantung kepada sebab.

Bergantunglah kepada Allah yang menciptakan sebab.

Kelima:

Gunakan seluruh kemampuan untuk kebaikan.

Karena suatu hari semua kemampuan itu akan ditanya:

Dari mana engkau mendapatkannya?

Untuk apa engkau menggunakannya?

Siapa yang mendapatkan manfaat darinya?


AK. KALIMAT PENUTUP

Jamaah...

Jangan berkata:

“Saya tidak punya apa-apa.”

Lihat kembali.

Allah sudah memberi kita:

akal.

waktu.

ilmu.

kesempatan.

tenaga.

keluarga.

guru.

teman.

teknologi.

rezeki.

Itulah sebagian asbāb.

Maka jangan menunggu menjadi Dzulkarnain untuk bermanfaat.

Mulailah menggunakan sebab-sebab kecil yang Allah berikan kepada kita.

Seorang guru mengajar satu anak.

Seorang ayah mendidik satu keluarga.

Seorang siswa belajar satu halaman.

Seorang ibu mendoakan satu anak.

Seorang pemimpin memperbaiki satu kebijakan.

Seorang Muslim membantu satu saudaranya.

Jangan meremehkan sebab kecil.

Karena Allah yang memberi sebab kecil itu adalah Allah yang Mahabesar.

Dan jangan sombong dengan keberhasilan.

Karena ayat ini tidak berkata:

“Dzulkarnain menciptakan semua kemampuannya sendiri.”

Allah berfirman:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ

“Kami-lah yang memberikan kedudukan kepadanya.”

Maka ketika berhasil:

Alhamdulillah.

Ketika belum berhasil:

Berusaha lagi.

Ketika mendapat kemampuan:

Gunakan untuk kebaikan.

Ketika mendapat kekuasaan:

Jadikan amanah.

Ketika mendapat ilmu:

Amalkan.

Dan dalam setiap langkah:

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Mintalah pertolongan kepada Allah.”


AL. DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

Artinya:

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.”

اللَّهُمَّ اسْتَعْمِلْنَا فِي طَاعَتِكَ، وَلَا تَسْتَبْدِلْنَا، وَاجْعَلْ مَا أَعْطَيْتَنَا مِنْ قُوَّةٍ وَعِلْمٍ وَمَالٍ وَوَقْتٍ سَبَبًا لِطَاعَتِكَ وَخِدْمَةِ عِبَادِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, gunakanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu. Jangan gantikan kami dengan orang lain. Jadikan kekuatan, ilmu, harta dan waktu yang Engkau berikan kepada kami sebagai sarana untuk menaati-Mu dan melayani hamba-hamba-Mu.”

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَفِي عِلْمِنَا، وَفِي أَعْمَالِنَا، وَفِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا.

Artinya:

“Ya Allah, berkahilah waktu kami, ilmu kami, amal kami, keluarga kami dan anak-anak kami.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْ قُوَّتَنَا فِي طَاعَتِكَ، وَعِلْمَنَا فِي خِدْمَةِ دِينِكَ، وَأَعْمَالَنَا فِي مَرْضَاتِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan jangan pula sebagai batas ilmu kami. Jadikan kekuatan kami untuk menaati-Mu, ilmu kami untuk melayani agama-Mu, dan amal kami untuk mencari keridaan-Mu.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


FOOTNOTE DAN RUJUKAN

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 84. Ayat menjadi dasar pembahasan tentang tamkīn (pemberian kemampuan/kedudukan) dan sabab (sarana/jalan untuk mencapai tujuan).

[2] Tafsir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, QS. Al-Kahf: 84. Ath-Thabari menjelaskan “وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا” dengan makna bahwa Allah memberinya pengetahuan mengenai sarana yang dapat digunakan untuk mencapai apa yang dituju. Ia juga menukil dari Ibn Abbas bahwa sabab bermakna “عِلْمًا” — “ilmu.”

[3] Tafsir Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Al-Kahf: 84. Ibn Kathir menjelaskan tamkīn sebagai pemberian kerajaan/kekuasaan yang besar beserta berbagai sarana yang dibutuhkan seorang penguasa. Ia juga menukil sejumlah pendapat salaf bahwa sabab mencakup ilmu dan sarana/jalan yang memudahkan pencapaian tujuan.

[4] Tafsir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, QS. Al-Kahf: 84–85. As-Sa‘di menekankan bahwa Allah memberi Dzulkarnain sebab-sebab untuk mencapai tujuan, kemudian Dzulkarnain benar-benar menggunakan sebab tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa kemampuan terhadap sebab dan penggunaan sebab harus bertemu agar tujuan dapat tercapai.

[5] Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 84. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa sabab pada asalnya bermakna tali, kemudian digunakan untuk segala sesuatu yang menjadi sarana mencapai sesuatu yang lain. Ia juga menukil beberapa penafsiran salaf tentang ilmu dan sarana yang dibutuhkan seorang raja.

[6] Sahih Muslim no. 2664. Hadis Abu Hurairah رضي الله عنه: “الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ...” dan perintah “احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ” — bersungguh-sungguh pada sesuatu yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah pada kelemahan.

[7] Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, hadis “كُلُّكُمْ رَاعٍ”. Hadis ini menjadi dasar bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai wilayah yang Allah amanahkan kepadanya.

[8] QS. Al-Anfal: 28. Harta dan anak dapat menjadi ujian; karena itu nikmat tidak boleh membuat seseorang lupa bahwa semua pemberian Allah merupakan amanah.

[9] QS. Al-Mujadilah: 11. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ayat ini mendukung pembahasan bahwa ilmu merupakan salah satu sarana terpenting yang harus digunakan untuk kebaikan.

[10] QS. An-Nahl: 78. Pendengaran, penglihatan dan hati merupakan pemberian Allah. Karena itu kemampuan manusia tidak boleh melahirkan kesombongan, melainkan syukur.

[11] QS. An-Naml: 40. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menisbatkan keberhasilannya kepada karunia Allah: “هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي” — “Ini termasuk karunia Tuhanku.” Ini menjadi prinsip penting agar kemampuan dan keberhasilan tidak melahirkan kesombongan.


CATATAN PENTING TENTANG DZULKARNAIN

Al-Qur'an memastikan bahwa Dzulkarnain mendapatkan tamkīn dan berbagai asbāb, tetapi tidak memberikan seluruh rincian sejarah kehidupannya. Para mufasir memiliki sejumlah perbedaan dalam menjelaskan identitas historisnya dan rincian sarana yang diberikan kepadanya. Karena itu, rincian seperti jumlah pasukan, luas kerajaan, teknologi tertentu, atau identifikasi pasti Dzulkarnain dengan tokoh sejarah tertentu tidak boleh diperlakukan sebagai fakta Al-Qur'an.

Bahkan Ibn Kathir memperingatkan agar kisah-kisah Israiliyat yang tidak memiliki dasar kuat tidak dijadikan pegangan ketika Al-Qur'an dan Sunnah telah memberikan informasi yang cukup.

Pesan paling penting QS. Al-Kahf: 84:

اللَّهُ يُعْطِي السَّبَبَ، وَالْعَبْدُ يَسْعَى، وَالنَّتِيجَةُ بِيَدِ اللَّهِ

“Allah memberikan sarana, manusia berusaha, dan hasil berada di tangan Allah.”

Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Tidak ada komentar