KETIKA KESABARAN DIUJI OLEH SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 72
“KETIKA KESABARAN DIUJI OLEH SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita lanjutkan perjalanan tadabbur kita bersama kisah Nabi Musa عليه السلام dan Khidr.
Sebuah perjalanan yang dari awal sudah mengandung pelajaran besar tentang ilmu, adab, kesabaran, tawadhu, dan keterbatasan manusia dalam memahami takdir Allah.
Pada ayat sebelumnya, Musa telah berjanji:
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا
“Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”
Khidr sudah mengingatkan:
إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”
Musa menjawab:
“Insya Allah saya akan sabar.”
Kemudian dibuatlah kesepakatan:
Jangan bertanya sampai Khidr sendiri menjelaskan.
Tetapi perjalanan baru dimulai.
Mereka naik kapal.
Khidr melubangi kapal.
Musa tidak tahan.
Musa bertanya.
Dan Khidr berkata:
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
Di sinilah kita belajar satu perkara yang sangat dalam:
Kesabaran tidak benar-benar diuji ketika kita memahami semuanya.
Kesabaran diuji ketika:
kita belum memahami.
1. AYAT YANG KITA RENUNGKAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 72
قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Artinya:
“Dia berkata, ‘Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?’”
Perhatikan kata:
أَلَمْ أَقُلْ
“Bukankah sudah aku katakan?”
Khidr mengingatkan Musa pada sesuatu yang telah disepakati sebelumnya.
Seakan-akan Khidr berkata:
“Musa, inilah yang sudah aku katakan kepadamu sejak awal. Engkau akan menghadapi sesuatu yang belum engkau pahami, dan engkau akan kesulitan bersabar.”
2. KENAPA MUSA SULIT BERSABAR?
Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
أَيْ إِنَّكَ يَا مُوسَى لَا تُطِيقُ أَنْ تَصْبِرَ عَلَى مَا تَرَاهُ مِنْ عِلْمِي؛ لِأَنَّ الظَّوَاهِرَ الَّتِي هِيَ عِلْمُكَ لَا تُعْطِيهِ، وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا تَرَاهُ خَطَأً وَلَمْ تُخْبَرْ بِوَجْهِ الْحِكْمَةِ فِيهِ، وَلَا طَرِيقِ الصَّوَابِ.
Artinya:
“Maksudnya, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar terhadap apa yang engkau lihat dari pengetahuanku. Sebab apa yang tampak secara lahiriah, yang menjadi dasar pengetahuanmu, tidak menunjukkan hakikat yang sebenarnya. Bagaimana mungkin engkau bersabar terhadap sesuatu yang engkau lihat sebagai kesalahan sementara engkau belum diberi tahu hikmah di baliknya dan jalan yang benar mengenainya?”[^1]
Subhanallah.
Ini persoalan yang sangat manusiawi.
Kita sering berkata:
“Saya tidak bisa menerima.”
Padahal kadang yang sebenarnya kita maksud:
“Saya belum memahami.”
Ada perbedaan antara:
“Ini pasti salah.”
dengan:
“Saya belum memahami mengapa ini terjadi.”
3. KITA SERING MENILAI BERDASARKAN POTONGAN INFORMASI
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Musa melihat Khidr melubangi kapal.
Informasi yang Musa miliki:
- kapal sedang berjalan,
- ada manusia di dalamnya,
- kapal adalah milik orang miskin,
- Khidr justru merusaknya.
Dengan informasi yang ada, Musa melihat bahaya.
Tetapi ada informasi yang belum Musa ketahui:
Ada seorang raja yang merampas setiap kapal yang masih baik.
Allah baru menjelaskan hikmah itu pada ayat 79.
QS. Al-Kahf: 79
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا
Artinya:
“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap kapal.”
Maka Musa melihat:
kerusakan.
Sedangkan dalam keseluruhan rencana Allah, kerusakan kecil itu menjadi:
perlindungan.
4. KETIDAKTAHUAN KITA SERING MENJADI SUMBER KETIDAKSABARAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Baqarah: 216
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Perhatikan penutup ayat:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ini bukan penghinaan terhadap manusia.
Ini pendidikan bagi manusia.
Allah sedang mengajarkan:
“Pengetahuanmu terbatas.”
Maka jangan jadikan keterbatasan pengetahuan sebagai alasan untuk menuduh Allah tidak adil.
5. KETIKA DOA BELUM DIKABULKAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kadang seseorang berdoa:
“Ya Allah, sembuhkan saya.”
Belum sembuh.
Dia berkata:
“Mengapa Allah belum menjawab?”
Kadang seseorang berdoa:
“Ya Allah, berikan saya pekerjaan.”
Belum mendapatkan pekerjaan.
Dia berkata:
“Mengapa Allah menutup pintu?”
Kadang seseorang meminta:
“Ya Allah, pertahankan hubungan ini.”
Tetapi hubungan itu berakhir.
Lalu dia bertanya:
“Mengapa?”
Kita tidak boleh mengklaim mengetahui hikmah khusus dari setiap kejadian.
Tetapi kita boleh memegang prinsip:
Allah mengetahui, kita tidak mengetahui.
Dan seorang mukmin belajar untuk berkata:
“Ya Allah, aku belum memahami rencana-Mu, tetapi aku percaya Engkau Maha Bijaksana.”
Itulah tawakal.
6. BERSABAR BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH BERTANYA
Ini perlu diperjelas.
Musa bertanya.
Musa tidak langsung memahami.
Tetapi pertanyaannya muncul karena melihat sesuatu yang secara lahiriah membahayakan manusia.
Maka jangan memahami kisah ini sebagai:
“Orang sabar tidak boleh bertanya.”
Bukan.
Islam justru menganjurkan bertanya ketika tidak tahu.
Allah berfirman:
QS. An-Nahl: 43
فَاسْـَٔلُوٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Jadi kesabaran bukan berarti:
berhenti berpikir.
Kesabaran berarti:
tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum pengetahuan kita cukup.
7. JANGAN SAMAKAN SABAR DENGAN PASIF
Jamaah,
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Sabar bukan berarti:
“Sudahlah, tidak perlu melakukan apa-apa.”
Sabar adalah kemampuan menahan diri agar tetap berada di jalan yang benar.
Allah berfirman:
QS. Al-'Ashr: 1–3
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Sabar berjalan bersama:
iman, amal saleh, dan kebenaran.
Jadi sabar bukan kelemahan.
Sabar adalah kekuatan untuk tetap benar ketika keadaan sulit.
8. RASULULLAH ﷺ MENJELASKAN NILAI KESABARAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.
Artinya:
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
(HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053).
Perhatikan:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar.”
Artinya, kesabaran dapat dilatih.
Jangan berkata:
“Saya memang orangnya tidak sabar.”
Tidak.
Mulailah berlatih.
Sedikit demi sedikit.
Menahan marah.
Menahan lisan.
Menahan diri dari prasangka.
Menahan diri dari keputusan tergesa-gesa.
Menahan diri ketika doa belum terwujud.
9. SABAR ITU DILATIH SEBELUM DATANG UJIAN
Jamaah,
Ada orang berkata:
“Nanti kalau ada masalah, saya akan sabar.”
Tetapi sabar bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika ujian datang.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar.”
Mulailah melatih kesabaran sebelum masalah besar datang.
Latih dengan:
- sabar dalam belajar,
- sabar mendidik anak,
- sabar menghadapi pasangan,
- sabar menghadapi murid,
- sabar dalam pekerjaan,
- sabar ketika dikritik,
- sabar ketika tidak dipuji,
- sabar ketika hasil belum sesuai harapan.
10. RASULULLAH ﷺ BAHKAN MEMUJI KESABARAN MUSA
Ada sesuatu yang sangat menarik.
Setelah menceritakan kisah Musa dan Khidr, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا أَنَّهُ صَبَرَ حَتَّى يَقُصَّ اللَّهُ عَلَيْنَا مِنْ أَخْبَارِهِمَا.
Artinya:
“Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh, kami ingin sekali seandainya Musa bersabar sehingga Allah menceritakan kepada kita lebih banyak tentang kisah keduanya.”
(HR. Al-Bukhari; juga diriwayatkan Muslim).
Perhatikan!
Nabi ﷺ mengatakan:
يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى
“Semoga Allah merahmati Musa.”
Bukan:
“Musa adalah orang yang buruk.”
Bukan.
Bukan pula:
“Musa tidak memiliki adab.”
Tetapi Nabi ﷺ memahami bahwa Musa berada dalam sebuah perjalanan pembelajaran yang sangat berat.
11. MUSA TIDAK GAGAL SEBAGAI NABI
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ini penting.
Jangan membaca kisah Musa sebagai kisah seorang nabi yang “gagal”.
Musa adalah nabi dan rasul Allah.
Yang terjadi adalah:
Musa sedang belajar sesuatu yang belum beliau ketahui.
Dan Allah mengajarkan kepada kita melalui kisah tersebut.
Kesalahan atau ketidaktepatan dalam suatu situasi pembelajaran tidak otomatis menjadikan seseorang buruk.
Yang penting adalah:
mau memperbaiki diri.
Mau mengakui:
“Saya keliru.”
Mau berkata:
“Maaf.”
Mau melanjutkan belajar.
12. AYAT BERIKUTNYA MENUNJUKKAN KELAPANGAN HATI MUSA
Setelah Khidr berkata:
أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
Musa tidak berkata:
“Saya tidak salah!”
Musa tidak berkata:
“Saya lebih tahu!”
Musa tidak mempertahankan egonya.
Tetapi Musa berkata pada ayat berikutnya:
قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ
“Dia berkata, ‘Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku.’”
Ini menunjukkan salah satu akhlak besar seorang penuntut ilmu:
ketika diingatkan, ia mau memperbaiki diri.
13. ORANG YANG BERILMU TIDAK HARUS SELALU MENANG DALAM PERDEBATAN
Jamaah,
Kadang masalah kita bukan karena tidak tahu.
Tetapi karena tidak mau mengakui ketika salah.
Kita merasa harga diri kita turun kalau mengatakan:
“Saya keliru.”
Padahal sebenarnya kalimat:
“Saya keliru.”
adalah salah satu tanda kedewasaan.
Murid yang baik bukan murid yang tidak pernah salah.
Murid yang baik adalah murid yang:
mau belajar dari kesalahan.
14. IMAM ATH-THABARI: MASALAHNYA ADALAH KETERBATASAN PENGETAHUAN
Ath-Thabari menjelaskan ayat ini:
أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا عَلَى مَا تَرَى مِنْ أَفْعَالِي، لِأَنَّكَ تَرَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا.
Artinya:
“Bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar terhadap apa yang engkau lihat dari perbuatanku, karena engkau melihat sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh.”[^2]
Jadi akar persoalannya bukan semata-mata:
Musa tidak sabar.
Tetapi:
Musa melihat sesuatu tanpa mengetahui seluruh informasi yang melatarbelakanginya.
Ini pelajaran yang sangat penting.
15. KADANG KITA MARAH KARENA INFORMASI KITA TIDAK LENGKAP
Jamaah,
Coba perhatikan kehidupan kita.
Berapa banyak kemarahan muncul karena salah paham?
Seseorang tidak membalas pesan.
Kita marah.
Padahal mungkin dia sedang sibuk.
Seseorang tidak menyapa.
Kita tersinggung.
Padahal mungkin dia tidak melihat.
Anak mendapat nilai rendah.
Kita memarahinya.
Padahal mungkin ia belum memahami materi.
Seorang teman tidak hadir.
Kita menyimpulkan dia tidak peduli.
Padahal mungkin ada masalah yang tidak kita ketahui.
Maka sebelum marah, tanyakan:
“Apakah saya sudah mengetahui seluruh faktanya?”
Kalau belum:
berhenti sejenak.
Tarik napas.
Tanyakan.
Dengarkan.
Tabayyun.
16. ALLAH MEMERINTAHKAN TABAYYUN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Hujurat: 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Maka:
berita belum tentu fakta.
persepsi belum tentu kenyataan.
apa yang tampak belum tentu seluruh cerita.
Dan:
reaksi pertama kita belum tentu keputusan terbaik kita.
17. KISAH MUSA MENGAJARKAN “EPISTEMIC HUMILITY” — RENDAH HATI TERHADAP ILMU
Jamaah yang dirahmati Allah,
Istilah sederhananya:
“Saya tahu bahwa pengetahuan saya terbatas.”
Musa adalah seorang nabi.
Tetapi Allah tetap mengajarkan kepada beliau bahwa ada ilmu yang belum beliau miliki.
Dalam hadis sahih, Khidr mengatakan kepada Musa:
يَا مُوسَى، إِنِّي عَلَىٰ عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ، وَأَنْتَ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ اللَّهُ لَا أَعْلَمُهُ.
Artinya:
“Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki sebagian ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Hadis ini terdapat dalam kisah Musa dan Khidr dalam Shahih Al-Bukhari.
Perhatikan keseimbangannya.
Bukan:
“Khidr mengetahui semuanya.”
Bukan.
Musa juga memiliki ilmu.
Khidr memiliki ilmu.
Tetapi:
Allah memiliki ilmu yang sempurna.
18. ILMU KITA HANYALAH SEDIKIT
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Isra': 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Maka seorang yang semakin belajar seharusnya semakin rendah hati.
Karena semakin luas cakrawala ilmu:
semakin terlihat luasnya sesuatu yang belum diketahui.
19. SABAR DALAM BELAJAR
Jamaah,
Ayat ini juga sangat relevan bagi para siswa dan penuntut ilmu.
Kadang murid berkata:
“Saya tidak mengerti.”
Kemudian berhenti.
Padahal belajar membutuhkan waktu.
Kadang materi pertama belum dipahami.
Materi kedua juga belum.
Materi ketiga mulai terbuka.
Tiba-tiba beberapa minggu kemudian:
“Oh... ternyata maksudnya ini!”
Itulah ilmu.
Tidak semuanya langsung dipahami.
Maka jangan cepat menyerah.
20. SABAR BAGI GURU
Guru juga membutuhkan sabar.
Mengajar bukan pekerjaan sekali menjelaskan lalu semua murid langsung paham.
Ada murid yang cepat.
Ada murid yang membutuhkan pengulangan.
Ada murid yang perlu contoh.
Ada murid yang perlu praktik.
Ada murid yang perlu didampingi secara personal.
Maka guru perlu mengingat:
Tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi.
Tetapi:
mengantarkan murid dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dan dari belum baik menjadi lebih baik.
Itu membutuhkan kesabaran.
21. SABAR BAGI ORANG TUA
Orang tua juga demikian.
Anak tidak berubah hanya dengan satu nasihat.
Kadang kita sudah mengatakan:
“Jangan begitu!”
Besok diulangi.
Kita katakan lagi.
Diulangi lagi.
Kita kecewa.
Tetapi pendidikan memang membutuhkan proses.
Nabi ﷺ sendiri mendidik umat secara bertahap.
Maka jangan menyerah dalam mendidik.
22. SABAR BUKAN BERARTI MENYUKAI SEMUA YANG TERJADI
Ini penting.
Sabar bukan berarti:
“Saya harus suka dengan musibah.”
Tidak.
Sabar berarti:
ketika sesuatu yang tidak kita sukai terjadi, kita tetap tidak keluar dari ketaatan kepada Allah.
Kita boleh sedih.
Kita boleh menangis.
Kita boleh merasa berat.
Tetapi jangan sampai kesedihan membuat kita:
- berburuk sangka kepada Allah,
- meninggalkan salat,
- melakukan maksiat,
- menzalimi orang lain,
- atau mengambil keputusan secara gegabah.
23. TIGA MACAM SABAR
Para ulama menjelaskan bahwa sabar mencakup beberapa bentuk.
Pertama: Sabar dalam ketaatan
Tetap salat meskipun berat.
Tetap belajar meskipun sulit.
Tetap bekerja dengan amanah meskipun tidak dipuji.
Kedua: Sabar meninggalkan maksiat
Menahan diri dari:
- ghibah,
- fitnah,
- zina,
- riba,
- marah,
- dendam,
- dan segala sesuatu yang Allah haramkan.
Ketiga: Sabar menghadapi takdir yang tidak disukai
Ketika sakit.
Ketika kehilangan.
Ketika gagal.
Ketika rencana tidak sesuai harapan.
Inilah sabar yang sangat berat.
24. JANGAN MENUNTUT JAWABAN ALLAH SECEPAT KITA MENUNTUT JAWABAN MANUSIA
Jamaah,
Manusia sering berkata:
“Saya ingin tahu sekarang!”
“Mengapa sekarang belum?”
“Mengapa Allah tidak menjelaskan?”
Padahal Allah tidak berkewajiban membuka seluruh hikmah takdir-Nya kepada kita.
Kisah Musa dan Khidr menunjukkan:
ada hikmah yang baru dijelaskan setelah peristiwa berlalu.
Kita baru mengetahui alasan kapal dilubangi setelah perjalanan berlanjut.
Maka boleh jadi:
jawaban atas “mengapa” dalam hidup kita baru kita pahami setelah kita melewati prosesnya.
Dan ada pula perkara yang mungkin tidak kita pahami di dunia.
Karena itu seorang mukmin tidak hanya hidup dengan:
“Saya harus memahami semuanya.”
Tetapi hidup dengan:
“Saya harus tetap beriman kepada Allah meskipun belum memahami semuanya.”
25. TETAPI JANGAN GUNAKAN “SABAR” UNTUK MEMBENARKAN KEZALIMAN
Jamaah,
Ini juga sangat penting.
Jika seseorang dizalimi, kita tidak boleh mengatakan:
“Sabar saja, jangan lakukan apa-apa.”
Sabar tidak berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Jika hak harus diperjuangkan melalui jalan yang dibenarkan syariat, maka perjuangkan.
Jika kemungkaran harus dicegah, cegah sesuai kemampuan dan aturan yang benar.
Jika masalah membutuhkan nasihat, berikan nasihat.
Jika membutuhkan bantuan pihak yang berwenang, mintalah bantuan.
Jadi:
sabar bukan pasif.
Sabar adalah:
tetap berada di jalan Allah ketika menghadapi kesulitan.
26. PELAJARAN DARI KALIMAT “أَلَمْ أَقُلْ”
Khidr berkata:
أَلَمْ أَقُلْ
“Bukankah sudah kukatakan?”
Ada unsur mengingatkan.
Namun kita lihat bagaimana kisah ini berakhir.
Tidak ada penghinaan kepada Musa.
Tidak ada:
“Saya sudah bilang!”
“Makanya dengarkan saya!”
“Kamu memang keras kepala!”
Tidak.
Ini juga pelajaran bagi guru dan orang tua.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita boleh mengingatkan.
Tetapi jangan menjadikan kesalahan itu kesempatan untuk merendahkan harga dirinya.
27. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KITA UNTUK TIDAK MEMPERMALUKAN ORANG
Dalam mendidik, Rasulullah ﷺ menggunakan hikmah.
Beliau bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا.
Artinya:
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Prinsip ini sangat penting bagi pendidik.
Ketika murid salah:
koreksi.
Tetapi jangan:
hancurkan harga dirinya.
Ketika anak keliru:
nasihati.
Tetapi jangan:
labeli dirinya sebagai anak gagal.
28. KESABARAN TIDAK LAHIR DARI KEKUATAN MANUSIA SAJA
Kita tidak boleh hanya berkata:
“Saya harus kuat.”
Tetapi mintalah pertolongan Allah.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 153
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Perhatikan:
اسْتَعِينُوا
“Mohonlah pertolongan.”
Artinya kesabaran bukan hanya hasil kemauan kita.
Kita meminta kepada Allah:
“Ya Allah, jadikan aku sabar.”
29. DOA KETIKA KITA BELUM MEMAHAMI TAKDIR
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ketika kita menghadapi sesuatu yang belum kita pahami, kita bisa berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي لَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ تَعْلَمُ، وَإِنِّي ضَعِيفٌ، وَأَنْتَ الْقَوِيُّ، فَاهْدِنِي وَاصْرِفْ عَنِّي السُّوءَ، وَارْزُقْنِي الصَّبْرَ وَالرِّضَا.
“Ya Allah, aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau mengetahui. Aku lemah, sedangkan Engkau Mahakuat. Maka berilah aku petunjuk, jauhkanlah keburukan dariku, dan karuniakanlah kepadaku kesabaran dan keridaan.”
Ini adalah doa dengan makna yang baik; jangan menganggap seluruh lafaz di atas sebagai hadis Nabi ﷺ.
30. RENUNGAN TERAKHIR
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita kembali kepada ayat:
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
Kalimat ini seakan-akan menjadi cermin untuk kita.
Ketika hidup tidak sesuai rencana:
bisakah kita bersabar?
Ketika doa belum terwujud:
bisakah kita bersabar?
Ketika orang lain tidak memahami kita:
bisakah kita bersabar?
Ketika mendidik anak terasa berat:
bisakah kita bersabar?
Ketika mengajar murid yang sulit:
bisakah kita bersabar?
Ketika belajar terasa lambat:
bisakah kita bersabar?
Ketika kita belum memahami hikmah sebuah kejadian:
bisakah kita tetap percaya kepada Allah?
31. JANGAN MENILAI CERITA SEBELUM CERITANYA SELESAI
Inilah pelajaran yang sangat indah dari kisah Musa dan Khidr.
Pada ayat 71:
kapal dilubangi.
Tampak seperti kerusakan.
Pada ayat 72:
Musa ditegur karena tidak sabar.
Tetapi cerita belum selesai.
Pada ayat 79:
baru kita mengetahui:
ternyata lubang itu adalah bagian dari penyelamatan.
Maka:
Jangan menilai satu halaman sebelum membaca keseluruhan cerita.
Dalam kehidupan:
Kita baru mengalami satu hari.
Allah mengetahui seluruh umur kita.
Kita melihat satu kejadian.
Allah mengetahui seluruh akibatnya.
Kita melihat satu pintu tertutup.
Allah mengetahui pintu lain yang sedang dibuka.
Kita melihat kehilangan.
Allah mengetahui apa yang sedang diselamatkan.
32. PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 72 mengajarkan kepada kita:
Pertama
Kesabaran diuji ketika kita menghadapi sesuatu yang belum kita pahami.
Kedua
Keterbatasan pengetahuan manusia menyebabkan kita mudah salah menilai.
Ketiga
Orang berilmu harus tetap rendah hati.
Keempat
Bertanya bukan lawan dari sabar; yang harus dihindari adalah tergesa-gesa menyimpulkan.
Kelima
Sabar harus dilatih, bukan hanya diucapkan.
Keenam
Ketika kita salah, jangan pertahankan ego; akui dan perbaiki.
Ketujuh
Jangan menggunakan kisah Musa dan Khidr untuk membenarkan kemungkaran atau klaim ilmu gaib.
Kedelapan
Ketika hikmah takdir belum terlihat, peganglah firman Allah:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Maka ketika hidup terasa membingungkan, jangan buru-buru berkata:
“Allah tidak sayang kepada saya.”
Katakan:
“Saya belum memahami hikmahnya.”
Ketika doa belum terkabul:
“Saya belum memahami waktunya.”
Ketika jalan tertutup:
“Saya belum mengetahui ke mana Allah sedang mengarahkan saya.”
Dan ketika hati terasa berat:
“Allah tahu apa yang saya tidak tahu.”
Kemudian bersabarlah.
Berusahalah.
Berdoalah.
Dan terus berjalan.
Karena boleh jadi:
apa yang hari ini kita anggap sebagai luka, ternyata sedang menjadi jalan keselamatan.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْيَقِينَ، وَالْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا جَهِلْنَا، وَذَكِّرْنَا مَا نَسِينَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَهُدًى.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ جَهْلَنَا سَبَبًا لِسُوْءِ ظَنِّنَا بِكَ.
اللَّهُمَّ إِذَا لَمْ نَفْهَمْ حِكْمَتَكَ فَارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ.
اللَّهُمَّ إِذَا ابْتَلَيْتَنَا فَصَبِّرْنَا، وَإِذَا أَعْطَيْتَنَا فَاشْكُرْنَا، وَإِذَا مَنَعْتَنَا فَارْزُقْنَا الرِّضَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَقُولَ إِذَا جَهِلْنَا: اللَّهُ أَعْلَمُ، وَإِذَا أَخْطَأْنَا: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، وَإِذَا ابْتُلِينَا: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، وَإِذَا أَشْكَلَ عَلَيْنَا شَيْءٌ: رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[^1]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 72. Al-Qurthubi menerangkan bahwa Musa sulit bersabar karena apa yang tampak menurut pengetahuannya berbeda dengan hakikat yang belum dijelaskan kepadanya.
[^2]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 72. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Khidr mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar terhadap perbuatan yang dilihatnya karena belum mengetahui hakikat dan penjelasannya.
[^3]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 72. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Khidr mengingatkan kembali persyaratan yang telah disepakati; tindakan melubangi kapal dilakukan dengan tujuan tertentu yang belum diketahui Musa.
[^4]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīts al-Anbiyā’, hadis kisah Musa dan Khidr, no. 3401. Hadis tersebut memuat dialog Musa dan Khidr serta rangkaian perjalanan mereka.
[^5]: Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang kisah Musa dan Khidr, termasuk penjelasan tentang perbedaan ilmu Musa dan Khidr serta keluasan ilmu Allah. Kisah tersebut juga diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
[^6]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1469; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1053, hadis Abu Sa'id Al-Khudri tentang keutamaan sabar. Lafaz pokoknya: وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.
[^7]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang kisah Musa dan Khidr, bagian penutup yang berbunyi: يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا أَنَّهُ صَبَرَ حَتَّى يَقُصَّ اللَّهُ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا.
[^8]: Ibn Hajar Al-'Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, pembahasan hadis kisah Musa dan Khidr serta makna kesabaran dalam perjalanan tersebut.
[^9]: As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, Tafsir QS. Al-Kahf: 67–72, tentang keterbatasan manusia dalam memahami hikmah dan perlunya kesabaran dalam menerima proses pembelajaran.
Post a Comment