Rabu, 25 Februari 2015

Melacak Virus Kemunafikan



Melacak Virus Kemunafikan

Nifaq adalah penyakit yang berbahaya dan membinasakan. Orang yang telah terserang penyakit ini tidak mungkin mendapatkan keberuntungan selamanya, kecuali jika bertaubat. Di dalam hati mereka terdapat penyakit dan Allah menambah lagi penyakitnya itu, karena mereka adalah pendusta.

Itulah munafiqin, penjual akhirat dengan kesenangan sesaat di dunia, berpura-pura menampakkan keislaman, namun hatinya memendam kekufuran dan keingkaran yang tak terhingga. Allah telah membongkar kedok dan isi hati mereka, bahwasanya mereka adalah orang yang benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah sehingga perbuatan baik yang mereka tampakkan tidaklah bermakna, lenyap hilang begitu saja di hadapan Allah. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya,
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. 47:9)
Berdusta dalam setiap ucapan, mengkhianati janji, curang di dalam perdebatan, tidak mau bersikap inshaf (adil), senang dengan penyelewengan dan enggan terhadap ayat adalah sebagian sifat mereka.

Kalau di ajak melakukan kebaikan mereka lari, ketika melihat harta dan gemerlap dunia mereka berkerumun, tidak memegang sumpah, tidak mensyukuri nikmat dan di dadanya menyimpan kekufuran. Hati mereka gelap dan hitam pekat, tidak ada cahaya Islam dan tauhid, bahkan terselimuti kesyirikan, kekufuran dan kemaksiatan. Selalu menuruti hawa nafsu dan syahwat, enggan berbuat taat kepada Allah dan RasulNya, bahkan justru membelakanginya.

Dalam lembaran yang terbatas ini kami sampaikan beberapa ciri-ciri orang munafiq, bukan untuk diikuti, namun agar jangan sampai sifat-sifat tersebut melekat pada diri kita. Sebagaimana yang sering diungkapkan, bahwa kita mengetahui keburukan bukan untuk dikerjakan, namun agar dapat berhati-hati, barangsiapa tidak mengatahui keburukan, maka sangat mungkin akan terjerumus ke dalamnya.
Di antara sifat-sifat tersebut adalah:

A. Berdusta

Dusta adalah sifat yang paling dominan dari seorang munafik, dan kedustaan terbesar adalah mengatakan keimanan, padahal hatinya ingkar. Ahlun nifaq selalu identik dengan kedustaan yang senantiasa melekat pada mereka, di mana pun berada dalam setiap gerak dan diamnya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. 63:1)

Setiap muslim yang suka berdusta berarti telah terkena virus kemunafik-an, maka hendaklah segera mengobati penyakit ini dan menjauh sejauh-jauhnya. Seorang salaf mengatakan, "Termasuk dosa terbesar adalah lisan yang banyak berdusta (al-lisan al kadzub).

B. Membuat Kerusakan di Bumi

Setiap kali mereka membuat kerusakan di muka bumi, mereka menyangka telah melakukan perbaikan. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memberitahukan tentang mereka melalui firman Nya, yang artinya:
"Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. 2:11-12)

Kerusakan orang munafik yang paling mendasar adalah mendahulukan akal dan hawa nafsu daripada syariat Allah. Mereka menyangka sedang memperbaiki atau meluruskan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Mereka mengutak atik ayat dan hadits beserta pemahamannya dengan alasan penyegaran dan pembaharuan, dan fenomena ini akan terus berkembang dari masa ke masa. Jadi yang mereka maksudkan dengan ishlah (perbaikan) adalah segala yang mengikuti akal dan pendapat mereka, bukan syariat Islam.

Modal mereka adalah ucapan yang manis dan humanis, penampilan yang keren dan meyakinkan, sehingga dengan itu mereka mudah untuk mengelabuhi orang dan menyembunyikan kemunafikannya.
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

C. Merendahkan Orang yang Berpegang dengan Syari'at Islam

Ini adalah sifat yang sangat klasik dan terus ada hingga kini, para munafiqin sangat benci terhadap orang yang berpegang teguh dengan syari'at Islam. Mereka beranggapan, bahwa tunduk terhadap syariat adalah kedu-nguan, kebodohan dan kehinaan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman artinya,
“Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman". Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. 2:13)

D. Menyebarkan Keraguan Terhadap Segala yang Berkaitan dengan Islam

Mereka terus mencari celah agar manusia ragu dan bahkan anti terhadap ajaran Islam entah itu dakwahnya, berbagai kegiatannya, jihad dan amal baik yang lain. Allah telah menggambarkan mereka tatkala menggembosi kaum muslimin di dalam perang Ahzab, mereka mengatakan, bahwa Allah dan RasulNya hanya memberikan janji bohong.

Begitu pula munafikin di masa kini, merekapun tak segan-segan membuat propaganda untuk mengaburkan ajaran Islam. Seperti ucapan mereka, bahwa jilbab hanyalah adat orang Arab, pengekangan terhadap hak wanita, kemudian hukum rajam dan qishash adalah pelanggaran HAM dan lain sebagainya.

E. Berpenampilan Menipu

Yakni mulut mereka manis, penampilan mereka menarik dan meyakinkan, namun hati mereka amat dengki terhadap Islam dan kaum mukmin. Hidup mereka tergantung kepada orang, tak mampu berdiri tegak menunjukkan sikap dan jati diri, sehingga Allah menyifati mereka sebagai batang kayu yang tersandar. Ketika berada di kalangan mukmin berlagak mukmin dan ketika berkumpul dengan orang kafir mereka menampakkan keasliannya sebagai orang kafir.

F. Tidak Percaya Kepada Allah dan Tidak Membenarkan Janji Nya

Salah satu fakta yang menunjukkan hal itu adalah tatkala terjadi perang Ahzab, orang-orang munafik senantiasa berprasangka buruk kepada Allah. Berbeda dengan orang mukmin, “Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". (QS.33: 22)

Berkali-kali orang munafik menampakkan sikap tidak percaya terhadap Allah dan Rasul Nya, sebagaimana yang terjadi juga dalam perang Tabuk, mereka menyampaikan alasan yang dibuat-buat, agar dapat pulang ke rumah mereka.

G. Riya'

Mereka tidak melakukakan ibadah kecuali dengan keadaan terpaksa, malas mengerjakan shalat. Mereka mengerjakannya hanya sekedar sebagai kedok untuk menutupi kemunafikannya di hadapan kaum muslimin. Demikian pula di dalam membayar zakat, infak dan lain-lain sekedar untuk mengelabuhi orang-orang mukmin. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman menyifati mereka,
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali”. (QS. 4:142)
Ada pun tentang infak yang mereka keluarkan, maka Allah telah membeberkan,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. 9:54)
Mereka telah rugi serugi-ruginya di dunia dan di akhirat, di dunia telah bersusah payah beramal, shalat, melakukan ini dan itu, namun statusnya tetap sebagai orang kafir yang kekal di neraka.

H. Senang Memecah Belah Kaum Muslimin

Mereka lakukan itu dengan berbagai cara dan strategi, di antaranya adalah:

§  Menghalangi Orang untuk Berinfak
Sebagaimana yang pernah mereka ucapkan kepada kaum Anshar ketika kaum Muhajirin sampai di Madinah. “Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)" (QS. 63: 7)
Sehingga jika kesenjangan sosial di kalangan kaum muslimin mencolok, maka sangat mudah bagi mereka menyulutkan permusuhan.
§  Memprovokasi Orang dengan Berita Dusta
Ini juga pernah terjadi pada masa Rasulullah, yakni ketika terjadi fitnah yang mendera keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang terkenal dengan haditsatul ifk yang dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Allah menjelaskan kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, bahwa yang menghembuskan fitnah adalah "thaifah minkum" mereka ikut shalat dengan kaum muslimin dan bergabung bersama barisannya.
§  Menyeru Kepada Budaya Jahiliyah
Seperti fanatisme golongan dan kesukuan, berpecah belah dan membentuk kelompok sendiri yang meyempal dari jamaah kaum muslimin dan imam mereka, karena orang munafik tidak suka kalau umat Islam bersatu.

I. Senang Mengolok-Olok Ajaran Islam dan Kaum Muslimin
Karena pada dasarnya mereka bukanlah orang Islam, setiap kali turun ayat semakin membuat mereka jengkel dan dongkol. Sebagaimana yang pernah terjadi pada perang Tabuk, di antara mereka ada yang mengejek Nabi dan para Shahabat dengan menyebut mereka sebagai besar perut, pendusta dan penakut. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya, "Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?".Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. 9:65-66)
Amat banyak di zaman ini manusia yang mengejek dan merendahkan kaum muslimin dan para ulama mereka yang kosisten dengan Islam, baik itu diungkapkan maupun disimpan di hati. Ada yang menghina dengan menga-takan sebagai orang kolot dan biang keterbelakangan, pengacau dan teroris, kaku dan ekstrim.Mereka mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kaum muslimin dan bahkan sampai menyakiti dengan kekerasan baik fisik maupun psikologis.

J. Enggan Mempelajari Agama

Tidak mau belajar, tidak mau mempelajari Islam, dan tidak mau mengetahuinya. Ini sangatlah jelas karena mereka pada dasarnya memang membenci Islam, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala menjelaskan, bahwa orang munafik tidak mengetahui dan tidak memahami Islam dan kehidupan.
( Senin 1 Ramadhan 1424 / 27 Oktober 2003 )


Renungan Untuk Para Khatib Dan Jama'ah Jum'at



Renungan Untuk Para Khatib Dan Jama'ah Jum'at


Kami sepenuhnya yakin tanpa keraguan setetes pun, bahwa kehadiran Anda di masjid menunggu kehadiran bapak khatib Jum'ah adalah karena iman yang ada dalam kalbu Anda. Iman itulah yang menggerakkan jiwa dan raga untuk segera memenuhi panggilan shalat/ dzikirullah di hari Jum'at ini sesuai surat Al Jumu'ah 62:9. Iman itu yang mempertautkan Anda dengan wasiat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam , Agar Anda memepersiapkan diri sebelum berangkat ke bait Allah ini dengan mandi, menggunakan minyak wangi, memakai pakaian yang paling bagus, setelah sampai di masjid, Anda menuju shaf dengan tertib tanpa melangkahi bahu-bahu saudara mukmin, disaat khatib menayampaikan pesan Andapun tiada lengah untuk memperhatikan. Iman itu yang merangsang Anda untuk mendapat ampunan Allah antara dua Jum'at ini. (Lihat HR. Abu Daud no. 1050 dari Amru bin Ash dan Muslim: 2/857)

Iman itu yang mendorong Anda bersegera ke masjid meskipun tanpa berkendaraan, duduk mendekati Imam, tiada lengah mendengarkannya dengan penuh harapan akan janji Rasulullah n bahwa dengan setiap langkah Anda memperoleh pahala orang yang berpuasa dan shalat malam setahun. (Lihat HR. Ahlussunan dari Ans bin Aus Ats-Tsaqafi) Iman anda pula yang membimbing Anda untuk mewaspadai tipuan syetan agar Anda terlambat hadir ke jamaah Jum'at ini. Bahkan iman itu yang mendorong Anda agar mendatangi masjid sebelum malaikat pencatat di pintu masjid menutup bukunya saat Imam menuju ke mimbar, Anda mendengar dan memperhatikan setelah duduk dengan tenang, imanlah yang membentengi Anda hingga terdiam tiada terlengah memperhatikan khotbah, dengan mengharap dua bagian pahala, dan tetap tenang serta penuh perhatian meski tidak terdengar karena jauhnya dari khatib tetap mendapat satu bagian pahala, sebagaiamana dijanjikan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dari Ali Radhiallaahu anhu . (Riwayat Abu Daud no. 1051)

Iman Anda itulah yang membimbing agar mencermati khutbah sang imam, tanpa lalaikan dengan gerakan-gerakan yang tiada berarti, meski hanya menyentuh sebutir kerikil, atau berbicara walau sepatah kata dalam mengingatkan orang lain ini semua karena Anda sangat mementingkan perhatian terhadap isi dan pesan sang khatib. Iman Andalah yang mengikat perjanjian sehingga Anda tulus melaksanakan pesan Rasul saw untuk melaksanakan dua rakaat shalat tahiyatul masjid sebelum anda menikmati hidangan wasiat sang khatib atau di setiap anda memasuki masjid Allah SWT (Lihat HR. Al Bukhari no. 931, Muslim: 2/596, Abu Dawud: 1115-1117)

Iman itulah yang menggairahkan perhatian dan memusatkan pikiran, perasaan, hati, dan sepenuh jiwa anda meresapi petunjuk-petunjuk sang khatib. (Lihat: surat Yunus 10:9). Itulah Iman Anda yang harus disyukuri dengan sepenuhnya. Dan itulah khutbah Jum'ah yang demikian sangat penting dan mulia kedudukannya di tengah kehidupan masyarakat Islam, sebagaimana telah digariskan oleh Allah yang Maha Bijak dalam menentukan syariat, qadha dan qadarNya, juga keteladanan Rasulullah sholallohu alahi was salam pemimpin yang sangat pengasih kepada umatnya.

Sang khatib memilihkan judul yang sangat dibutuhkan oleh Anda dan umat umumnya setelah memperhatikan dan memahami kondisi dan situasi yang terus berkembang di sekelilingnya, juga pemahaman, keyakinan, pengetahuan, pengaruh dan perubahan yang terjadi diantara umat tercinta, sehingga dituangkan dalam tema khutbah yang merupkan bimbingan bagi umatnya agar jangan sampai tersesat(Abu Dawud no 1109 dan An-Nasai 1414)atau obat dari penyakit yang terjangkit di tubuh mereka(lihat Zaadul Maad I/423)

Sang khatib menyusun khutbah dalam sistematika dengan teratur dengan bahasan yang lugas, komunikatif dan mudah dicerna, isinya padat dan bermakna, penting dan jelas serta kuat dengan dalil-dalil yang shahih dan simple (lihat, HR. Muslim; 2/594, An-Nasai no 1578)
Sang Khatib menyampaikan suara yang lantang (lihat Shahih Muslim 2:592), kalimat-kalimatnya jelas dengan semangat yang tinggi dan perasaan cinta yang dalam, menuangkan isi khutbah yang telah difahaminya betul dengan segenap perasaan dan semangat taqwa yang kokoh bagaikan secepatnya beliau menyambar tali bertaut melompat ke surga dan sekaligus menghindari jilatan dan kepungan api neraka bersama umat dalam rengkuhan cintanya sebagai tugas utama setiap muslim: (Lihat surat: At-Tahrim 66: 6)

Itulah sang khatib yang menumpahkan isi hati setulus-tulusnya, isi fikiran sebersih-bersihnya dan kandungan ilmu sedalam penyelaman-nya. Maka pantaslah bila Anda bersama jamaah sekalian menerima dengan sepenuh jiwa, meresap dalam dada, tersimpan kuat dalam kalbu dan itulah sikap tulus orang beriman (lihat Qur'an surat; 10 Yunus: 57-58 dan 29 Al-Ankabut 49 & 51).

Sang khatib adalah penuntun yang telah membentuk pola hidupnya dengan iman dan ilmunya, akhlaq dan kepribadiannya adalah nash-nash yang telah di fahaminya dengan benar dan dilaksanakan dengan teguh. Sehingga tidaklah beliau berujar kecuali yang telah benar beliau fikirkan dari syariat Allah dan Rasulnya, tidak lah beliau memperingatkan kecuali diri beliau telah melaksanakan dan terbentuk dalam jiwanya peringatan itu, tidaklah beliau mengajak atau menyuruh kecuali telah menjadi kebiasaan dan teladan kelakuan itu pada diri dan keluarga beliau, serta tiada beliau melarang sesuatu kepada umat tercinta kecuali telah amat jauh diri dan keluarga beliau dari larangan itu serta sekali-kali tidak akan mendekati, itulah jiwa pemimpin seperti ambia. (Lihat Qur'an Surat: 11 Hud: 88, As-Shaf 61: 2-4)

Menjadilah sang Khatib pemimpin dalam menegakkan al ma'ruf segala kebajikan dalam kalimah Allah dan pemimpin dalam membendung kemungkaran dan kemaksiatan ditengah umatnya, itulah pemimpin yang teguh/ tegas, meniti sirah khalilur Rahman. (lihat Qur'an Surat; 12 An Nahl : 120-122, Ali Imran 3: 104, 110 dan 14; Ibrahim; 35-41) sehingga setiap kalimah yang tersembul dari lisannya langsung terukir di hati umatnya bagai sabda pandito ratu, bukan karena fanatis maupun kultus, akan tetapi karena nash wahyu Al Qur'an dan As-Sunnah shahihah yang disampaikannya, demi menelusuri keteladanan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam (lihat: Surah An Najm 53: 3 dan, Al-Ahzab: 33:36)

Maka amat pantaslah bila umat merasa puas, setiap pulang dari bait/ masjid Allah dengan membawa oleh-oleh yang paling berharga bagi bekal hidup mereka, hidup rumah tangga dan kehidupan bangsa dan segenap umat manusia itulah ayat-ayat Allah dan hikmah yang dianugerahkan olehNya. (Lihat Al Qur'an: Surat Al Jumu'ah 62; 2 & 4)

Unsur-unsur dalam Khutbah Jumuah

Pemimpin agung Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam telah mencontohkan, bahwasanya beliau senantiasa memulai khutbah dengan tahmid dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (lihat Shahih Muslim 2: 592 An Nasa'i 1578) kemudian kalimah syahadat, shalawat kepada Allah untuk RasulNya Shallallahu alaihi wasalam washiat Taqwallah, membaca ayat-ayat Al Qur'an dan uraian yang menjadi hadits-hadits shahih, pengertian hukum halal-haram, aqidah, ibadah tatacara bermuamalah sesama makhluk, perjanjian, hukuman-hukuman, ahlaq yang mulia, juga peringatan dari ahlaq yang buruk dan rendah, seperti peringatan dari dosa-dosa besar, menyeru kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan persiapan perjalanan panjang, mengingatkan tentang janji Allah dan ancamanNya, berupa surga dan neraka, serta kekacauan dan kedahsyatan setelah kematian. Kisah-kisah keteladanan para rasul dan orang-orang shalih terdahulu juga bimbingan-bimbingan khusus dalam kehidupan orang beriman, dengan memfokuskan pada satu jenis ketaatan demi memperdalamhujaman akar iman, agar batang pohonnya lebih kokoh serta ranting dan buahnya semakin lebat menjulur ke setiap penjuru (lihat surat: 14 Ibrahim:24-25) juga untuk mempertinggi derajat taqwa, sehingga pantaslah sepulang dari bait Allah anda sekalian menjadi hamba-hamba yang paling mulia disisiNya (lihat Al Hujarat:13)

Itulah khutbah Jum'ah, tetesan embun pada kuncup iman anda, yang menumbuhkan daun kesadaran dan bunga taubat serta menyajikan buah-buah amal shalih, Itulah khutbah jumat, usapan lembut pada cermin kalbu anda, yang mempertajam pandangan kebenaran Anda atas izin Allah, sehingga tersentaklah kesadaran diri untuk memahami dan mengoreksi betapa telah jauh dan keliru arah hidup selama ini, karena kealpaan, ketidak mengertian atau kehendak nafsu (lihat Surat Yusuf: 53) atau bahkan karena keangkuhan terhadap jalur bimbingan syariat suci yang lurus(lihat Surat Yusuf:110).

Itulah Khutbah jumah, secerah sinar dari nash Al Qur'an atau hadits yang membimbing Anda kepadang terang benderang Nur Ilahi yaitu syariat Islam, menunjukan betapa indahnya kebenaran dan nikmatnya ketaaatan dalam cinta kasih Allah Ar-Rahim, betapa damainya hidup dalam hidayah Al Qur'anul Karim (Lihat Surat 24; An Nur: 35-38) dan keteladanan Rasul dzul khuluqil 'Adhim,yang berakhlak mulia (lihat Al Qalam 68: 1-5, Al-Ahzab:21) itulah khutbah jumat yang memupuk keimanan Anda menjadi semakin kuat atas izin Allah, sehingga mampu mendorong kemauan dan tekad untuk merubah kedhaliman diri menjadi kemaslahatan (lihat Surat At-Taubah:11) keluarga dan masyarakat serta ummat. Dengan hijrah dari pergaulan dan tradisi yang buruk menuju lingkungan, pergaulan dan aturan serta tradisi yang baik (lihat surat An-Nisaa:100, Al-Anfal:72-75).

(Disadur dari khutbatul jumu'ah, makanatuha, ahammiyatuha, hukmuha, atsaruha fi nufusil muslimin, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Darul Wahtan,)
(Waznin Mahfudh)

Definisi Nasihat

Nasihat secara etimologi berasal dari kata nashaha yang berarti khalasa yaitu murni. Adapun nasihat menurut Abu Amr bin Salah adalah menghendaki suatu kebaikan untuk orang lain dengan cara ikhlas baik berupa tindakan atau kehendak

Pentingnya Nasihat

Dalam pandangan Islam, nasihat adalah pilar agama yang sangat penting dan penyanggah kebenaran yang paling fundamental sehingga Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
Dari Tamim Ad Dary bahwasannya Nabi bersabda:"Agama adalah Nasihat". kami bertanya: Untuk siapa? Beliau bersabda: "Untuk Allah, KitabNya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta seluruh Umat Islam". (H.R Muslim dan An-Nasa'i )

Nasihat kepada pemimpin

Nasihat terhadap pemimpin adalah permasalahan yang jarang mendapat penjelasan secara baik sesuai dengan asas hukum Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sebagian orang terkadang kurang proporsional dan tidak terpuji dalam mengoreksi kekurangan sikap para pemimpin bahkan melanggar kaidah-kaidah dasar islam dalam menegakkan prinsip amar ma'ruf nahi munkar terdapar para pemimpin, di antara mereka menempuh cara demo, membuat makar politik sehingga tidak jarang menimbulkan kekacauan dan keresahan dan sebagian yang lainnya menempuh cara terorisme.

Menasihati pemimpin termasuk per-kara yang paling diridhai Allah sebagai-mana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Sesungguhnya Allah rela terhadap tiga perkara dan benci terhadap tiga perkara; Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, perpegang teguh terhadap tali Allah dan meNasihati para pemimpin. Dan Allah benci terha-dap pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak pertanya".

Subtansi Nasihat kepada Pemimpin

Nasihat terhadap para pemimpin berarti membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, mentaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan cara lembut dan sopan terhadap hak-hak rakyat dan tidak melakukan pemberontakan.

Imam Nawawi berkata bahwa mena-sihati para pemimpin berarti menolong mereka untuk menjalankan kebenaran, mentaati mereka dalam kebaikan, mengingatkan mereka dengan lemah lembut terhadap kesalahan yang mereka berbuat, memperingatkan kelalaian mereka terhadap hak-hak kaum muslimin, tidak melakukan pemberontakan dan membantu untuk menciptakan stabilitas negara.

Imam Al Khattaby berkata bahwa termasuk nasihat terhadap pemimpin adalah shalat berjamaah di belakang mereka, jihad bersama mereka, membayar zakat kepada mereka, tidak keluar dari mentaati mereka tatkala terjadi penyelewengan dan kedhaliman, tidak memuji secara dusta dan selalu mendo'akan kebaikan untuk mereka.

Dan nasihat yang paling penting adalah mendatangi mereka dalam rangka untuk menyampaikan kekurangan dan kebutuhan umat serta menjelaskan kelemahan para pejabat khususnya hal-hal yang berdampak negatif bagi umat. Mengingatkan agar takut kepada Allah dan hari akherat, mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang tentang kemungkaran serta mendorong mereka agar hidup seder-hana dan wara'.

Macam-macam pemimpin

Para pemimpin kuam muslimin terbagi menjadi dua:

a. Pemimpin fajir atau jahat

Pemimpin yang fajir atau jahat yaitu pemimpin yang hanya berambisi terhadap kekuasaan belaka, perbuatan mereka tidak pernah sepi dari penganiayaan dan kedhaliman dan tidak segan-segan melibas siapa saja yang mencoba untuk menggoyang kekuasaannya meskipun dia melanggar syari'at. Tidak adil dalam memberikan hak-hak umat serta boros terhadap harta negara.

Faktor penyebab rusaknya para pemimpin

§  Lemahnya pengamalan prinsip agama.
§  Senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia belaka.
§  Sikap kolusi dan nepotisme yang berlebihan.
§  Teman dan penasihat kepercayaan yang tidak baik atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan.
§  Menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang tidak berjiwa patriot dan ihklas.
§  Diktator dalam mengendalikan kekuasaan.
§  Tekanan internasional terhadap para pemimpin Islam.
§  Terpengaruh dengan sistim negara-negara kafir dan meninggalkan sistim Islam.
b. Pemimpin yang adil lagi bijaksana

Pemimpin yang adil lagi bijaksana artinya selalu mendahulukan kebenaran dan kepentingan umum, sungguh-sungguh dalam menerapkan syariat Islam dan sangat adil lagi bijaksana dalam memberikan hak-hak umat serta hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta negara.

Cara Menasihati Pemimpin

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati para pemimpin bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Apabila menasihati kaum muslimin secara umum perlu memakai kaedah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaedah dan etikanya.

Dari Hisyam Ibnu Hakam meriwayat-kan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan dilakukan secara terang-terangan. Akan tetapi nasihatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasihat itu, maka sangat baik dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban Nasihat kepadanya". (H.R Imam Ahmad).

Sangat tidak bijaksana mengoreksi kekeliruan para pemimpin lewat mimbar atau tempat-tempat umum sehingga menimbulkan banyak fitnah. Seharusnya menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat yang rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin 'Affan bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata bahwa Usamah telah menasihati 'Ustman bin 'Affan dengan cara yang sangat bijak-sana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.
Imam Syafi'i berkata bahwa barang-siapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka dia telah mena-sihati dan menghiasainya dan barang-siapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka dia telah mempermalukan dan merusaknya.

Imam Al Fudhail bin 'Iyadh berkata: Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan lewat mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum bukan cara atau manhaj salaf, sebab demikian itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin, akan tetapi manhaj salaf dalam menasihati pemimpin adalah dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan Nasihat tersebut.

Bersabar terhadap pemimpin yang zhalim

Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasihati pemimpin yang zhalim, maka sebaiknya berdiam diri dan bersabar. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah". (HR. Al-Bukhari)

Abdullah Ibnu Abbas berkata: "Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukur dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar."

Imam Nawawi berkata: "Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin tidak berdosa kecuali dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut."

Bekal bagi orang yang mensehati pemimpin

1 . Ikhlas dalam memberi nasihat.

Nabi Muhammad bersabda kepada Abdullah bin Amr:" Wahai Abdullah bin Amr jika kamu berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membang-kitkan kamu, sebagai orang yang sabar dan ikhlas dan jika kamu berperang karena riya', maka Allah akan mem-bangkitkan kamu sebagai orang riya dan ingin dipuji". (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Nahhas berkata: Orang yang menasihati pemimpin atau kepala negara hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah. Barangsiapa yang mendekati pemimpin untuk mencari pengaruh atau jabatan atau pujian maka dia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbutan sia-sia.

2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.

Seorang yang menasihati pemimpin sebaiknya menaggalkan segala ambisi dan keinginan pribadi untuk mendapat-kan sesuatu dari pemimpin atau penguasa. Para ulama salaf telah banyak memberi contoh dan suri tauladan, seperti Sufyan Atsaury, beliau sering menolak pemberian para penguasa khawatir bila pemberian tersebut menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.

3. Mendahulukan sikap kejujuran dan keberanian

Seorang yang ingin menasihati pemimpin atau penguasa hendaknya bersikap jujur dan pemberani sebagai-mana sabda Nabi:" Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenar-an kepada pemimpin yang dhalim". (HR Abu Daud).

4. Berdoa kepada Allah dengan doa-doa ma'tsur

Dari Ibnu Abbas bahwa beliau berka-ta: Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah:
Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi seru semua makhluq-Nya, Allah Maha Tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada Tuhan yang haq selain-Nya, Dialah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya baik dari jin atau manusia. Ya Allah jadilah Engkau pedampingku dari kejahatan mereka, Maha Tinggi kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya tiada Tuhan selain Engkau – dibaca tiga kali- (H.R Ibnu Abu Syaibah)

Selasa, 24 Februari 2015

MENGUBAH FATWA KARENA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT



MENGUBAH FATWA KARENA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

PENGAMBILAN tindakan yang  mudah  juga  dianjurkan  dalam  hal berikut  ini. Pentingnya pengetahuan tentang perubahan kondisi manusia,  baik   yang   terjadi   karena   perjalanan   waktu, perkembangan   masyarakat,   maupun  terjadinya  hal-hal  yang sifatnya  darurat,  sehingga  para  ahli  fiqh  yang  biasanya mengeluarkan  fatwa harus mengubah fatwa yang telah lalu untuk disesuaikan  dengan  perubahan  zaman,  tempat,  tradisi   dan kondisi  masyarakatnya;  berdasarkan petunjuk para sahabat dan apa yang pernah dilakukan oleh  para  khulafa  rasyidin,  suri tauladan  yang  kita  disuruh  untuk  mengambil  petunjuk dari 'sunnah' mereka dan berpegang teguh  kepadanya.  Yaitu  sunnah yang  sesuai  dengan  sunnah  Nabi saw dan dapat diterima oleh al-Qur'an; sebagaimana yang pernah kami jelaskan dalam risalah kecil  kami  yang  berjudul  'Awamil al-Sa'ah wa al-Murunah fi al-Syari'ah   al-Islamiyyah   (Faktor-faktor   Keluasan    dan Keluwesan dalam Syariat Islam).

Itulah yang antara lain yang mengharuskan kita untuk melakukan peninjauan kembali terhadap pandangan dan pendapat para  ulama terdahulu.  Karena boleh jadi, pandangan tersebut hanya sesuai untuk zaman dan kondisi pada masa itu, dan tidak  sesuai  lagi untuk  zaman  kita  sekarang ini yang telah mengalami pelbagai pembaruan  yang  belum  pernah   terpikirkan   oleh   generasi terdahulu.  Pendapat  dan  pandangan  ulama terdahulu itu bisa jadi membawa kondisi yang tidak baik  kepada  Islam  dan  umat Islam, serta menjadi halangan bagi da'wah Islam.

Misalnya,  pendapat  mengenai pembagian dunia kepada Dar Islam dan Dar Harb. Yaitu suatu konsep yang pada dasarnya menganggap hubungan  kaum  Muslimin  dengan  orang  bukan  Muslim  adalah peperangan, dan sesungguhnya perjuangan  itu  hukumnya  fardhu kifayat atas umat... dan lain-lain.

Pada  kenyataannya,  sebetulnya  pendapat-pendapat seperti itu tidak sesuai untuk zaman kita sekarang ini, di  samping  tidak ada   nash   hukum  Islam  yang  mendukung  terhadap  pendapat tersebut; bahkan yang ada adalah nash-nash yang menentangnya.

Islam sangat menganjurkan perkenalan  sesama  manusia,  antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, secara menyeluruh:

"... dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..." (al-Hujurat: 13)

Islam  juga  menganggap  perdamaian  dan  pencegahan  terhadap terjadinya   peperangan   sebagai  suatu  kenikmatan.  Setelah terjadinya Perang Khandaq, Allah SWT berfirman:

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejenglelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan..." (al-Ahzab: 25)

Al-Qur'an menganggap Perjanjian Hudaibiyah sebagai  kemenangan yang nyata yang diberikan kepada Rasulullah saw; dan pada masa yang sama turun surat al-Fath:

"Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (al-Fath: 1)

Dalam surat ini juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw dan  kaum Muslimin  juga  diberi  anugerah  berupa  batalnya  peperangan antara kedua belah pihak; di mana Allah SWT berfirman:

"Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka..." (al-Fath: 24)

Rasulullah  saw  sendiri  berusaha  untuk  tidak   mengucapkan perkataan  "perang," sampai beliau bersabda, "Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam,  sedangkan  nama  yang  paling buruk ialah Harb (perang) dan Murrah (pahit)."

Peperangan  yang  disyariatkan  oleh  Islam  pada  zaman-zaman dahulu memiliki suatu tujuan yang jelas. Yaitu,  menyingkirkan penghalang yang bersifat material di tengah jalan da'wah. Para penguasa dan raja-raja pada masa itu membuat  penghalang  yang sulit  ditembus  oleh  da'wah  Islam kepada bangsa mereka. Dan oleh karena  itu  Rasulullah  saw  mengirimkan  surat-suratnya kepada   mereka   untuk   mengajak  mereka  masuk  Islam,  dan menimpakan dosa serta tanggung jawab kesesatan umat mereka  di pundak mereka, karena mereka sengaja menghalangi bangsa mereka untuk mendengarkan segala suara dari  luar,  karena  raja-raja itu  khawatir  bahwa  suara  itu akan membangunkan keterlenaan mereka, membangkitkan  hati  nurani  mereka,  sehingga  mereka terjaga   dari  tidur  panjang  mereka,  kemudian  memberontak terhadap kezaliman yang dilakukan oleh raja-raja mereka.  Oleh karena  itu,  kita  menemukan para raja itu membunuh para juru da'wah, atau segera memerangi kaum Muslimin,  menghalangi  dan mengacaukan kehidupan mereka yang tenang.

Pada  saat  ini,  tidak  ada  lagi  halangan  bagi  kita untuk melakukan da'wah, khususnya di negara-negara yang terbuka yang menganut  aliran  pluralisme. Kaum Muslimin dapat menyampaikan da'wah mereka melalui tulisan, suara, dan juga gambar.  Mereka dapat  menyampaikan  da'wah  melalui  radio  yang gelombangnya dipancarkan ke seluruh dunia. Mereka  dapat  berbicara  kepada semua   bangsa   dengan  bahasa  kaum  itu  agar  ajaran  yang disampaikan dapat diterima dengan jelas.

Akan tetapi, banyak sekali para juru da'wah  yang  mengabaikan sama  sekali  kesempatan dan potensi ini; padahal mereka nanti akan diminta pertanggungan jawabnya di depan Allah SWT  karena mengabaikannya,    dan    dimintai    tanggungjawab   mengenai ketidaktahuan penghuni bumi ini terhadap Islam.
 

MENGAPA PEMBINAAN LEBIH DIBERI PRIORITAS?



MENGAPA PEMBINAAN LEBIH DIBERI PRIORITAS?

MENGAPA pembinaan lebih diberi prioritas daripada peperangan?

Dalam memberikan jawaban bagi pertanyaan di  atas  dapat  kami jelaskan beberapa hal berikut ini:

Pertama,  sesungguhnya  peperangan dalam Islam bukan sembarang perang. Ia adalah  peperangan  dengan  niat  dan  tujuan  yang sangat  khusus. Ia adalah peperangan dalam membela agama Allah SWT. Nabi saw  pernah  ditanya  tentang  seorang  lelaki  yang berperang   karena  perasaan  fanatik  terhadap  kaumnya,  dan seorang yang berperang agar dia dikatakan  sebagai  pemberani, serta  orang  yang berperang untuk memperoleh barang pampasan, manakah di antara mereka  yang  termasuk  berperang  di  jalan Allah?   Nabi   saw  menjawab,  "Barangsiapa  berperang  untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah  yang  berada  di  jalan Allah." 4

Sikap  melepaskan  diri  dari  berbagai dorongan duniawi tidak dapat muncul dengan tiba-tiba, tetapi harus melalui  pembinaan yang  cukup  panjang,  sehingga  dia melakukan ajaran agamanya hanya untuk Allah.

Kedua, sesungguhnya hasil perjuangan yang ingin dinikmati oleh orang-orang  Islam yang ikut berperang ialah kemenangan mereka atas  kekafiran.  Kemenangan  dan  kekuasaan  ini  tidak  akan diberikan   kecuali   kepada   orang-orang  yang  beriman  dan melaksanakan   tugas   serta   kewajibannya.   Mereka   adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah:

"...sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar..." (al-Hajj: 40-41)
  
"Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku..."(an-Nur: 55)

Sesungguhnya orang-orang yang diberi kedudukan dan  kemenangan oleh Allah sebelum pembinaan mereka 'matang,' seringkali malah melakukan berbagai kerusakan di muka bumi  daripada  melakukan perbaikan.

Ketiga,  menurut  sunnatullah,  kedudukan itu tidak akan dapat terwujudkan, kecuali setelah orang yang  berhak  memperolehnya lulus dari berbagai ujian Allah terhadap hati mereka, sehingga dapat dibedakan antara orang yang buruk hatinya dan orang yang baik hatinya. Itulah salah satu bentuk pendidikan praktis yang dialami oleh para nabi dan orang-orang yang menganjurkan orang lain  untuk  berpegang  kepada ajaran Allah pada setiap zaman. Imam Syafi'i pernah ditanya, "Manakah yang  lebih  utama  bagi orang  mu'min, mendapatkan ujian atau mendapatkan kedudukan di muka bumi ini?" Dia menjawab, "Apakah ada pemberian kedudukkan sebelum  terjadinya  ujian?  Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla memberikan kedudukan kepada Yusuf setelah dia mengalami  ujian dari Allah, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

"Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja dia kehendaki di bumi Mesir itu..." (Yusuf: 56)

Sesungguhnya kedudukan yang diperoleh dengan cara  yang  mudah dan  gampang  dikhawatirkan  akan mudah dihilangkan oleh orang yang mendudukinya dan menyia-nyiakan hasilnya. Berbeda  dengan orang-orang  yang  berjuang dengan jiwa dan harta benda mereka sendiri, sehingga mereka merasakan suka-duka, dan  ujian  yang sangat berat hingga dia diberi kemenangan oleh Allah SWT.

Catatan kaki:

4 Diriwayatkan oleh Jama'ah (Ahmad dan penyusun al-Kutubal-Sittah), dari Abu Musa, Shahih Jami' as-Shaghir (6417) ^