Klik dong

Rabu, 05 November 2014

Muharram dan Keutamaan Puasa di Dalamnya



Muharram dan Keutamaan Puasa di Dalamnya


Lafaz Hadits
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: ((أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ, وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ))
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Se-afdhal-afdhal puasa setelah (puasa) Ramadhanadalah (puasa) di bulan Allah, Al-Muharram. Dan se-afdhal-afdhal shalat setelah shalat fardhuadalah shalat malam.”

Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1163/2755, Imam Abu Dawud no. 2431, Imam An-Nasai no. 1613, Imam At-Tirmidzi no. 438 dan yang lainnya. Hadits ini shahih.
Faidah-faidah Hadits
Di antara faidah-faidah hadits ini adalah sebagai berikut:
1.       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan bulan Muharram dengan Syahrullah(Bulan Allah).
2.       Puasa yang paling afdhal adalah puasa Ramadhan karena puasa tersebut adalah puasa yang wajib. Begitu pula dengan shalat fardhu dia lebih afdhal daripada shalat-shalat sunnah.
3.       Puasa di bulan Muharram adalah puasa sunnah yang paling afdhal daripada puasa-puasa sunnah di bulan yang lainnya. Hal ini tidak menafikan bahwa sebagian hari seperti hari‘Arafah (9 Dzul-hijjah), 6 hari di bulan Syawal, Senin dan Kamis dan yang lainnya juga memiliki keutamaan sendiri jika berpuasa di hari-hari tersebut.
4.       Shalat sunnah yang paling utama adalah shalat malam. Ini juga dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih utama daripada shalat sunnah di siang hari.
Bulan Muharram (الْمُحَرَّم)
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Bulan ini disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Tentunya, bulan ini memilki keutamaan yang sangat besar.
Di zaman dahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bulan ini bukanlah dinamakan bulan Al-Muharram, tetapi dinamakan bulan Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan Shafar dinamakan Shafar Ats-Tsani. Setelah datangnya Islam kemudian Bulan ini dinamakan Al-Muharram.[1]
Al-Muharram di dalam bahasa Arab artinya adalah waktu yang diharamkan. Untuk apa? Untuk menzalimi diri-diri kita dan berbuat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ   [ التوبة : 36 ] 

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu.” (QS At-Taubah: 36)
Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
((… السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان ))
“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu:Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadadan Sya’ban. “[2]
Pada ayat di atas Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian di dalamnya”, karena berbuat dosa pada bulan-bulan haram ini lebih berbahaya daripada di bulan-bulan lainnya. Qatadah rahimahullah pernah berkata:
(إنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْراً مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهَا  وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيْماً  وَلَكِنَّ اللهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِه مَا يَشَاءُ )
“Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat kezaliman di selain bulan-bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim pada setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”[3]
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:
(…فَجَعَلَهُنَّ حُرُماً وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ  وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَاْلأَجْرُ أَعْظَمُ )
 “…Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar.”[4]
Haramkah berperang di bulan-bulan haram?
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Jumhur ulama memandang bahwa larangan berperang pada bulan-bulan ini telah di-naskh (dihapuskan), karena Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
﴿ فَإِذَا انسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ [ التوبة : 5 ] 
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” (QS At-Taubah: 5)
Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan berperang pada bulan-bulan tersebut, tidak dihapuskan dan sampai sekarang masih berlaku. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa tidak boleh memulai peperangan pada bulan-bulan ini, tetapi jika perang tersebut dimulai sebelum bulan-bulan haram dan masih berlangsung pada bulan-bulan haram, maka hal tersebut diperbolehkan.
Pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama. Karena Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi penduduk Thaif pada bulan Dzul-Qa’dah pada peperangan Hunain.[5]
Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram
Hadits di atas menunjukkan disunnahkannya berpuasa selama sebulan penuh di bulan Muharram atau sebagian besar bulan Muharram. Jika demikian, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa sebanyak puasa beliau di bulan Sya’ban? Para ulama memberikan penjelasan, bahwa kemungkinan besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui keutamaan bulan Muharram tersebut kecuali di akhir umurnya atau karena pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak udzur seperti: safar, sakit atau yang lainnya.
Keutamaan Berpuasa di Hari ‘Asyura (10 Muharram)
Di bulan Muharram, berpuasa ‘Asyura tanggal 10 Muharram sangat ditekankan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((…وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ))
“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.”[6]
Ternyata puasa ‘Asyura’ adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:
(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ   وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ  وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه)
“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.” [7]
Keutamaan Berpuasa Sehari Sebelumnya
Selain berpuasa di hari ‘Asyura disukai untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan, jika seandainya tahun depan beliau hidup, beliau akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tetapi ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada tahun tersebut.
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ )) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”[8]
Banyak ulama mengatakan bahwa disunnahkan juga berpuasa sesudahnya yaitu tanggal 11 Muharram. Di antara mereka ada yang berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas berikut:
((صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ  صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا))
“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.”[9]
Akan tetapi hadits ini lemah dari segi sanadnya (jalur periwayatan haditsnya).
Meskipun demikian, bukan berarti jika seseorang ingin berpuasa tanggal 11 Muharram hal tersebut terlarang. Tentu tidak, karena puasa tanggal 11 Muharram termasuk puasa di bulan Muharram dan hal tersebut disunnahkan.
Sebagian ulama juga memberikan alasan, jika berpuasa pada tanggal 11 Muharram dan 9 Muharram, maka hal tersebut dapat menghilangkan keraguan tentang bertepatan atau tidakkah hari ‘Asyura (10 Muharram) yang dia puasai tersebut, karena bisa saja penentuan masuk atau tidaknya bulan Muharram tidak tepat. Apalagi untuk saat sekarang, banyak manusia tergantung dengan ilmu astronomi dalam penentuan awal bulan, kecuali pada bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul-Hijjah.
Tingkatan berpuasa ‘Asyura yang disebutkan oleh para ahli fiqh
Para ulama membuat beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari ‘Asyura ini, sebagai berikut:
Tingkatan pertama: Berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Tingkatan ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan keempat: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.
Sebagian ulama mengatakan makruhnya berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena hal tersebut mendekati penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Yang berpendapat demikian di antaranya adalah: Ibnu ‘Abbas, Imam Ahmad dan sebagian madzhab Abi Hanifah.
Allahu a’lam, pendapat yang kuat tidak mengapa berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah selama beliau hidup.
Hari ‘Asyura, Hari Bergembira atau Hari Bersedih?
Kaum muslimin mengerjakan puasa sunnah pada hari ini. Sedangkan banyak di kalangan manusia, memperingati hari ini dengan kesedihan dan ada juga yang memperingati hari ini dengan bergembira dengan berlapang-lapang dalam menyediakan makanan dan lainnya.
Kedua hal tersebut salah. Orang-orang yang memperingatinya dengan kesedihan, maka orang tersebut laiknya aliran Syi’ah yang memperingati hari wafatnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Husain radhiallahu ‘anhu terbunuh di Karbala’ oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya. Kemudian orang-orang Syi’ah pun menjadikannya sebagai hari penyesalan dan kesedihan atas meninggalnya Husain.
Di Iran, yaitu pusat penyebaran Syi’ah saat ini, merupakan suatu pemandangan yang wajar, kaum lelaki melukai kepala-kepala dengan pisau mereka hingga mengucurkan darah, begitu pula dengan kaum wanita mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam.
Begitu pula menjadi pemandangan yang wajar mereka menangis dan memukul wajah mereka, sebagai lambang kesedihan mereka atas terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ))
“Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.”[10]
Kalau dipikir, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama di hari meninggalnya ‘Ali bin Abi Thalib, Padahal beliau juga wafat terbunuh?
Di antara manusia juga ada yang memperingatinya dengan bergembira. Mereka sengaja memasak dan menyediakan makanan lebih, memberikan nafkah lebih dan bergembira layaknya ‘idul-fithri.
Mereka berdalil dengan hadits lemah:
(( مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ ))
“Barang siapa yang berlapang-lapang kepada keluarganya di hari ‘Asyura’, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun tersebut.”[11]
Dan perlu diketahui merayakan hari ‘Asyura’ dengan seperti ini adalah bentuk penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Mereka bergembira pada hari ini dan menjadikannya sebagai hari raya.
Demikianlah sedikit pembahasan tentang bulan Muharram dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Mudahan kita bisa mengawali tahun baru Islam ini dengan ketaatan. Dan Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.
Daftar Pustaka
1.       Ad-Dibaj ‘Ala Muslim. Jalaluddin As-Suyuthi.
2.       Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Imam An-Nawawi.
3.       Fiqhussunnah. Sayyid Sabiq.
4.       Risalah fi Ahadits Syahrillah Al-Muharram. ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.http://www.islamlight.net/
5.       Tuhfatul-Ahwadzi. Muhammad ‘Abdurrahman Al-Mubarakfuri.
6.       Buku-buku hadits dan tafsir dalam catatan kaki (footnotes) dan buku-buku lain yang sebagian besar sudah dicantumkan di footnotes.

[1] Lihat penjelasan As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Muslim tentang hadits di atas.
[2] HR Al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679/4383.
[3] Tafsir ibnu Abi hatim VI/1793.
[4] Tafsir Ibnu Abi Hatim VI/1791.
[5] Lihat Tafsir Al-Karim Ar-Rahman hal. 218, tafsir Surat Al-Maidah: 2.
[6] HR Muslim no. 1162/2746.
[7] HR Al-Bukhari no. 2002.
[8] HR Muslim no. 1134/2666.
[9] HR Ahmad no. 2153, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 8189 dan yang lainnya. Syaikh Syu’aib dan Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini lemah.
[10] HR Al-Bukhari 1294.
[11] HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 9864 dari Abdullah bin Mas’ud dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 3513,3514 dan 3515 dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri. Keseluruhan jalur tersebut lemah dan tidak mungkin saling menguatkan, sebagaimana dijelaskan dengan rinci oleh Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah no. 6824.

Sahabat Nabi dalam Pandangan Syiah dan Ahlussunnah



Sahabat Nabi dalam Pandangan Syiah dan Ahlussunnah

A.         Pendahuluan
Salah satu perbedaan fundamental antara Syi'ah([2]) dan Ahlussunnah([3]) adalah pandangan mereka terhadap para sahabat.([4]) Dalam perspektif Syiah, sahabat bisa saja dicela dan dicerca, seperti didalam buku utama mereka Uṣūl al-Kāfì karangan al-Kulaini. Adapun menurut Ahlussunnah, sahabat tidak boleh dicela. Hal ini berdasarkan hadits Nabi e : "Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku, andaikan kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, maka hal demikian tidak dapat mengimbangi sedekah yang dikeluarkan para sahabat satu mud (satu genggam) saja atau separuhnya".([5]) Namun demikian, bukan berarti sahabat merupakan sosok yang steril dari kesalahan  dan dosa atau maʻsūm. Namun, hal tersebut juga tidak menjatuhkan reputasinya sebagai orang-orang yang baik, adil dan jujur, terutama dalam meriwayatkan segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah e. Oleh karena itu, para sahabat tidak mungkin berdusta atas nama Rasulullah e atau menyandarkan sesuatu yang tidak sah dari beliau. ([6])  Hal ini berangkat dari hadits bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi ketika Rasul masih hidup kemudian generasi setelahnya kemudian setelah-setelahnya.([7]) Oleh karenanya, dalam pandangan mainstream Sunni, seluruh sahabat bersifat 'ādil,([8]) berdasarkan pujian yang diberikan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada mereka di dalam al-Qur’an (Q.S. al-Fath:29).
Sejatinya, pengetahuan kita  terhadap agama yang diwariskan Nabi Allah ini tidak lah bisa dilepaskan dari peran para sahabat. Sahabat Nabi e sangat berperan penting dalam Islam. Para sahabat generasi yang berjumpa serta belajar agama langsung dengan Rasulullah ketika beliau masih hidup. Merekalah yang meneruskan risalah Nabi setelah beliau wafat. Dengan demikian, para sahabat menjadi perantara pada saat Islam diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berangkat dari analisa singkat diatas, maka makalah ini akan mencoba memaparkan lebih jauh tentang sahabat Nabi dalam perspektif Syiah dan Ahlussunnah, agar bisa menjawab perbedaan sudut pandang antara kedua kelompok tersebut. Sehingga kedudukan tersebut bisa kita jaga, dan terjaga pula ajaran Islam yang telah sempurna.([9])
 
B.     Sahabat dalam Perspektif Syi'ah
Pada hakikatnya, Syiah menggunakan buku-buku bahan rujukan mereka tersendiri yang  terkenal untuk menegakkan akidah, menjalankan syari'at serta perilaku mereka terhadap Nabi, sahabat dan lainnya. Ada empat  rujukan utama Syi’ah untuk membangun madzhabnya: Pertama, al-Kāfi. Pengarangnya Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini, ulama Syi’ah terbesar di zamannya.  Dalam kitab tersebut terdapat 16199 hadits, buku ini oleh kalangan Syi’ah yang paling terpercaya dari buku-buku yang lainnya.
Kedua, Man Lā Yahdhuruhul Faqīh”, dikarang oleh Muhammad bin Babawaih Al-Qum, terdapat didalamnya 3913 hadits musnad dan 1050 hadits mursal.
Ketiga, “at-Tahdzīb”. Kitab fiqih ini dikarang oleh Muhammad At-Tūsi yang dijuluki Lautan Ilmu.
Keempat, “al-Istibshār, oleh pengarang yang sama, mencakup 5001 hadits,([10]) dan ada banyak buku rujukan lainnya yang belum dicantumkan selain buku-buku di atas. Dengan demikian, perlu ada kritikan terhadap mereka sehingga umat  Islam tahu perbandingan dan perbedaan serta dapat mengambil inti sari bahkan bisa mengkritik konsep ini dengan dalil dan data yang telah ada.
Demikianlah buku-buku Syiah yang mengandung berbagai macam hadits-hadits yang tidak sesuai dengan hadits yang shahih menurut Sunni. Buku Syiah menyangkut akidah dan syari'at yang mereka pegang erat-erat, sehingga mereka buta dengan kebenaran yang nyata. Terdapat banyak buku lainnya selain buku yang telah dicantumkan di atas, namun buku-buku diatas adalah merupakan buku pokok mereka yang terkenal dan popular di masyarakat jaman sekarang.
a)       Konsep 'Adalah Sahabat menurut Syiah
                Menurut kelompok syi'ah, sahabat adalah manusia biasa. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Al-Musawi dalam kitabnya Syī’ah fi tārīkh.([11]) At-Tastary Asy-Syī’i juga membenarkannya dan menyatakannya bahwa Sahabat radhiyallahu'anhum, sama dengan manusia yang lain, tidak ada perbedaan sama sekali. Pandangan yang menyatakan Sahabat adalah manusia biasa juga mempengaruhi seorang tokoh Syi’ah Indonesia yaitu Jalaluddin Rakhmat yang mengatakan bahwa Sahabat tidak 'ādil dan tidak jujur.([12]) Masih banyak lagi ungkapan-ungakapan ulama' syiah lainnya, yang sesuai dengan penyataan Muhammad Jawād Al-Mughni’ah bahwa Sahabat ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang adil dan ada yang fasiq,([13]) bahkan kebanyakan mereka adalah tidak 'ādil. Nasruddin At- Tusi mengutarakan bahwa yang memerangi Saidina Ali adalah kafir dan yang menentangnya adalah fasik.([14]) Cara pandang inilah yang menjadi salah satu penyebab kaum Syi’ah mengingkari konsep 'adālah (keadilan) para Sahabat Radhiyallahu’anhum.
Ulama' syiah tidak saja memandang sahabat dengan pandangan negatif, bahkan memandang sahabat dengan keburukan dan kehinaan.
Dalam menafsirkan ayat: 2-3 Surat al-Anfāl al-Kulaini menyebutkan dalam bukunya Uṣūl al-Kāfì yang diriwayatkan dari Ja'far, bahwa semua orang pada zaman Rasulullah murtad (keluar dari islam) sepeninggal Rasulullah e, kecuali beberapa orang saja, Ali bin Abi Thālib, al-Miqdād bin al-Aswad, Abu Dzār al- Ghifāri, Salmān al-Fārisi([15]) dan seorang yang belum pasti yaitu Ammār([16]). Sementara al-Kisysyi menambahkan tiga nama lagi dalam daftar nama sahabat yang tidak murtad pasca meninggalnya Rasulullah e, yaitu: Abu Syāsyan al-Anshari, Abu Amrah, dan Syatirah, sehingga jumlahnya menjadi 7 orang.([17])
Menurut Syiah, para sahabat bukan hanya murtad, bahkan mereka berani merubah syari'at agama([18]) dan suka membantah perintah Nabi e  pada masa beliau masih hidup.([19]) Tidak hanya sampai disitu, Syiah juga mengkafirkan kaum muslimin secara keseluruhan tanpa terkecuali, karena mereka (Ahlussunnah) menolak kepemimpinan imam-imam mereka. Padahal, penolakan kepemimpinan imam adalah perbuatan kufur layaknya penolakan kenabian.([20])Al-Kulaini juga menukil sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa orang-orang yang mengaku berhak atas imamah padahal mereka tidak berhak atas imamah tersebut (Abu Bakar, Umar dan Utsman), seluruh orang-orang yang mengingkari imamah, dan setiap orang yang mengaku dirinya muslim sementara kenyataannya tidak, hal demikian bukan golongan Syiah, mereka tidak akan dilihat oleh Allah, tidak akan ditazkiyah, dan bagi mereka azab yang sangat pedih.([21]) Menurut syiah, para sahabat Nabi adalah orang biasa yang dapat berbuat dosa atau maksiat bahkan nifaq dan bisa juga murtad.
Demikian apa yang di utarakan Syiah mengenai sifat 'ādil dan kejujuran para sahabat dalam menyampaikan suatu periwayatan dari Nabi e. Mereka mengatakan bahwa sahabat adalah manusia  biasa dan sebahagian mereka tidak bisa dipegang perkataannya dalam menyampaikan periwayatan Nabi kecuali sahabat yang mereka puji seperti imam-imam mereka. Mereka juga sampai menjatuhkan martabat dan sifat terpuji sahabat sehingga mereka buta akan kebenaran. Hal tersebut harus kita ketahui bahwa sahabat Nabi tidak seperti apa yang mereka katakan prihal sahabat Nabi e.



b)       Tuduhan Syiah Terhadap Para Sahabat
Mayoritas ulama klasik Syiah tidak saja memandang sahabat dengan pandangan negatif, bahkan lebih dari itu para sahabat dihina, dilaknat, serta sepakat dikafirkan,([22]) terkhusus dengan tiga Khulafa'ur Rasyidin ([23]) sebelum Ali bin Abi Thalib, dan secara umum semua para sahabat sesudah wafatnya Rasulullah e, adalah kafir kecuali beberapa orang saja.([24]) Kelompok Syiah mengkritik dan memfitnah para sahabat Nabi e dengan menggunakan potongan-potongan ayat Qur'an dan hadits Nabi e untuk kepentingan mereka, dan meninggalkan ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi e yang shahih yang memuji keadilan sahabat.

§  Khulafaur-Rasyidin([25]) dalam Pandangan Syiah
Dalam aqidah Syiah terdapat keyakinan bahwa mereka berlepas diri dari orang yang memerangi Amirul mukminin (Ali bin Abi Thalib). Seperti teks di dalam buku mereka di bawah ini: "Di antara pokok ajaran agama Imamiyah adalah halalnya nikah mut'ah, haji tamattu', dan berlepas diri dari tiga, yaitu Mu'awiyah, Yazid bin Mu'awiyah, dan orang yang memerangi Amirul mukminin) ". Tercantum dalam keterangan footnote: yang dimaksud dengan tiga adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.([26]) Dalam keyakinan mereka, Abu Bakar dan Umar kafir, keduanya meninggal dalam keadaan kafir dan musyrik kepada Allah yang Maha Agung,([27]) demikian juga orang yang mencintai mereka juga kafir.([28]) Barangsiapa mengikuti Ahlussunnah, maka mereka adalah makhluk Allah yang paling buruk di muka bumi, dan iman seseorang tidak akan sempurna hingga dia berlepas diri dari mereka.([29]) Menurut syiah, sebahagian sahabat layak dilaknat, terkhusus Abu Bakar dan Umar seperti dalam buku do'a mereka :
"Ya Allah laknatilah dua patung Quraisy, dua thoghut dan jibtnya dua pendusta dan pembohongnya dan kedua anak perempuannya (Aisyah dan Hafsah), karena mereka telah mengingkari perintahMu, mendustakan wahyuMu, tidak mensyukuri nikmat-nikmatMu, bermaksiat kepada utusanMu, memutar balik agamaMu, merubah kitabMu, mencintai musuh-musuhMu mengingkari nikmat-nikmatMu, meninggalkan hukum-hukumMu, membatalkan dan melalaikan kewajiban-kewajibanMu, mengkufuri ayat-ayatMu, memusuhi kekasihMu, berwala' dan berloyalitas kepada musuhMu, memerangi negeri-negeriMu, dan membinasakan hamba-hambaMu….."([30])
Do'a di atas diyakini mereka memiliki derajat yang tinggi dan merupakan zikir yang sangat mulia. Bahkan disebutkan pahalanya, jika dibaca saat sujud syukur, seperti para pemanah yang menyertai Nabi e pada perang Badar, Uhud dan Hunain dengan satu juta anak panah.([31])
Lebih dari itu, Syiah juga mengklaim ketiga khalifah yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai orang yang tidak menonjol secara keilmuan, tidak pernah punya prestasi dalam jihad, tidak mempunyai akhlak yang lebih baik (moral), tidak konsisten pada prinsip, tidak giat dalam ibadah, tidak profesional dalam pekerjaan, dan tidak memiliki keikhlasan dalam perbuatan.([32]) Mereka juga menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai Iblis,([33]) mereka tidak mematuhi perintah Rasul dan tidak pernah beriman kepada Rasulullhah e sampai akhir hayatnya.([34]) Mereka juga yang menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Thoghut yang sesat.([35])
Syiah menuduh serta menyifati Abu Bakar dengan keburukan. Mereka menjelaskan bahwa Nabi e tidak mengajak Abu Bakar untuk berhijrah bersamanya dan bersembunyi di Gua Hira, melainkan karena beliau takut jika Abu Bakar menunjukkan keberadaannya kepada kaum kafir Quraisy.([36]) Abu bakar juga shalat di belakang Rasulullah sementara dia masih mengalungkan patung di lehernya dan sujud kepadanya.([37]) Mereka menyamakan Abu Bakar dengan paulus yang telah merubah teologi Kristen.([38]) Dalam tafsir al-Qummi, ketika menafsirkan firman Allah surat an-Nahl ayat-90: al-Fahsyā' (perbuatan keji) adalah Abu Bakar.([39]) Abu Bakar salah satu orang yang berada dalam peti-peti api neraka (ujar mereka).([40]) Dan banyak lagi isu-isu buruk yang  dilontarkan kepada Amirul Mukminin Abu Bakar. Padahal, Ahlussunnah meyakini bahwa Abu bakar adalah orang yang paling baik setelah Nabi e, orang yang pertama kali beriman dari kalangan laki-laki pada masa dakwah Rasulullah e, sehingga Abu Bakar diangkat menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah e. Demikianlah Abu Bakar diberi gelar as-Siddiq (orang yang jujur ).
                Begitu juga halnya dengan Umar bin Khattab, disamping dikafirkan dan dilaknat, Syiah juga menyematkan hal-hal negatif terhadap Umar bin Khattab. Dalam tafsir al-Qummi, saat mendafsirkan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 90: "al-Mungkar" (kemungkaran) adalah Umar.([41]) Syiah mengatakan bahwa Umar menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan air mani lelaki dan neneknya yakni anak hasil zina.([42]) Pada 10 Muharrom mereka membawa anjing yang diberi nama Umar, kemudian mereka beramai-ramai memukulinya dengan tongkat dan melemparinya dengan batu sampai mati.([43]) Mereka juga merayakan pesta hari kematian Umar (hari Nairūz) dan memberikan penghargaan kepada pembunuhnya : Abu Lu'lu'ah seorang majusi dengan gelar "Pahlawan Agama".([44]) Mereka juga meyakini Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullha e sampai akhir hayatnya([45]) dan mati dalam keadaan kafir sampai ia masuk neraka.([46])
                Begitu juga dengan Khalifah ketiga Utsman bin Affan. Syiah memandang hal-hal negatif terhadap Utsman. Selain mereka mengkafirkan dan menghinanya([47]), mereka juga memberi tuduhan dan fitnah kepadanya. Diantaranya; Utsman digambarkan sebagai pezina, banci, dan pecinta music.([48]) Dalam tafsir al-Qummi, saat menafsirkan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 90: mereka menafsirkan "al-Baghy" (permusuhan) adalah Utsman bin Affan.([49]) Begitu juga dengan Jalaluddin Rakhmat, ia  mengatakan bahwa Ruqoyyah dan Ummu Kulsum bukan istri Utsman  dan bukan juga putri Nabi  Muhammad e,([50]) ia membenci julukan Dzu Nuroin (pemilik dua cahaya) karena Utsman menikah dengan kedua putri Nabi e, ia berpendapat julukan itu harus dimansyukh.([51])
                Akan tetapi, Syiah memposisikan kedudukan Ali bin Abi Thalib sangat tinggi dan lebih mulia dari sahabat lainnya. Mereka menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai manusia yang paling istimewa dari pada sahabat lainnya. Dalam kepercayaan mereka bahwa Allah berbicara dengan Rasulullah pada malam Mi'raj dengan suara dan bahasa Ali bin Abi Tholib,([52]) Allah juga berbisik dengan Ali di Thāif, dan saat itu ada Jibril 'alaihissalam([53]) telah datang kepada Rasul dan berkata: " Wahai Muhammad, Rabbmu telah memerintahkanku untuk mencintai Ali dan menjadikannya sebagai pemimpin".([54]) Sampai-sampai Keledai pun bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah dan penerima wasiat khilafah Rasulullah.([55]) Dan siapa yang menyelisihi Ali maka ia kafir dan siapa saja mengutamakan orang lain di atas Ali maka ia murtad.([56])
Dalam keyakinan Syiah, sesungguhnya Allah menghiasi Malaikat dengan Ali bin Abi Thalib.([57]) Ali adalah rahasia tersembunyi para Nabi. Karena itu Allah berfirman: "Wahai Muhammad aku utus Ali bersama para Nabi secara tersembunyi dan bersamamu secara nyata".([58]) Ali adalah bukti kenabian Muhammad, karena itu Nabi e mangajak untuk mengakui dan menetapkan wilayah (kekuasaan) Ali.([59]) Surat wilayah yang dimulai dengan ayat :
[ يا أيها الذين آمنوا آمنوا بالنورين ]
"Wahai orang yang beriman, berimanlah kepada dua cahaya".
Namun, menurut mereka Utsman bin Affan telah menghilangkan ayat ini.([60]) Allah tidak mengutus Nabi e kecuali telah memintanya agar menetapkan dan mengakui wilayah (kepemimpinan dan kekuasaan) Ali baik dengan patuh atau terpaksa.([61]) Para Nabi dan Rasul diutus untuk menetapkan wilayah Ali.([62]) Agama tidak akan sempurna hingga mengakui wilayah Ali.([63])
Syiah juga mengatakan bahwa Ali masuk surga sebelum Nabi e([64]) Dan tidak seorangpun yang masuk surga tanpa rekomendasi dari Ali.([65]) Ali bin Abi Tholib penanggung jawab surga dan neraka. Dialah yang punya otoritas penuh untuk memasukkan penduduk surga ke dalam neraka dan penduduk neraka ke surga.([66]) Sesungguhnya Allah akan memasukkan siapa saja yang ta'at kepada Ali ke dalam surga, meski ia bermaksiat kepada Allah. Sebaliknya Allah akan memasukkan siapa saja yang menentang Ali ke dalam neraka meski dia ta'at kepada Allah.([67]) Ali juga dapat menghidupkan orang mati, memudahkan kesulitan orang susah.([68]) Datangnya petir karena perintah Ali.([69]) Ini semua, apa yang telah diutarakan oleh kelompok Syiah terhadap sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka menjunjung tinggi Ali, dan berlebihan dalam memujinya. Sedangkan Ali sendiri berlepas diri dari mereka.([70])
Dari pemaparan di atas, mereka memandang sahabat dengan pandangan negatif, sehingga mereka menghina, melaknat, serta sepakat mengkafirkan seluruh para sahabat sesudah wafatnya Rasulullah e, kecuali beberapa orang saja. Termasuk orang yang dikafirkan mereka ialah ketiga khalifah yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Akan tetapi mereka memandang lain dalam menyikapi khalifah keempat yaitu Ali bin Abi Thalib. Mereka memujinya dan menjunjung tinggi kedudukannya sebagai khalifah. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan dan realita yang telah disampaikan para sahabat-sahabat lainnya dan para tabi'in mengenai sahnya kekhalifahan setelah Rasulullah e.

§  Pandangan Syiah terhadap Ummahatul Mukminin (Istri Nabi SAW.)
Aisyah wanita yang rendah dan hina dalam keyakinan Syiah. Syiah berani melecehkan dan memfitnah Aisyah dengan mengatakan bahwa Aisyah tidak pantas menjadi Ummul Mukminin.([71]) Bahkan,  Aisyah diklaim sebagai kafir layaknya istri Nabi Nuh 'alaihissalam dan istri Nabi Luth 'alaihissalam.([72]) Aisyah telah murtad setelah Nabi e wafat.([73]) Seperti tertulis di dalam buku mereka (Kitab al-Arba'īn fī Imāmatil Aimmah, bab ad-Dalīl al-Arba'ūn (dalil ke empat puluh), hal.615):

"Di antara bukti yang menunjukkan kepemimpinan Dua Belas imam kita ialah Aisyah kafir dan berhak masuk ke dalam neraka. Ini adalah konsekuensi madzhab kami, dan tuntunan Dua Belas imam kami, karena orang-orang yang menganggap sahnya khilafah tiga orang (Abu Bkar, Umar dan Utsman) pasti meyakini keimanan Aisyah, mengagungkannya dan memuliakannya". ([74])
Aisyah juga membagikan dinar kepada para musuh Ali karena pengkhianatannya.([75]) Aisyah memprovokasikan dengan memerintahkan untuk membunuh Utsman bin Affan karena ia sudah menjadi kafir.( [76]) Al- Khumaini berkata; "bahwa Aisyah , Tholhah, Zubair, Mu'awiyah dan orang-orang sejenisnya meskipun secara lahiriyah tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari pada anjing dan babi.([77]) Karena mereka bertiga dan sahabat lainnya yang satu aliran dengan mereka memerangi imam Ali. Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman. ([78]) Dan Pada 10 Muharrom orang Syiah mendatangkan kambing betina yang diberi nama Aisyah, lalu mereka mulai mencabuti bulunya dan memukulinya dengan sepatu sampai mati.([79])
                Begitu juga perihalnya dengan Hafsah. Hafsah sangat buruk dalam pandangan Syiah. Hafsah terlaknat([80]) bahkan  kafir, karena ayat: "Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu" dan tentang Aisyah, Allah berfirman :"Jika kalian bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah miring".([81]) kalimat Shāghat dalam ayat ini bermakna "Zāghat" (miring), dan miring disini adalah kafir. Dan menurut Syiah bahwa Aisyah dan Hafsah juga bersekutu memberi racun ke dalam minuman Nabi e([82]), tatkala Allah memberitahukan beliau tentang perbuatan mereka berdua, beliau ingin sekali membunuh keduanya, namun mereka bersumpah tidak pernah melakukan hal itu, hingga Allah menurunkan ayat : "Wahai orang-orang kafir janganlah kalian beralasan pada hari ini"([83]).([84])
                Demikian golongan Syiah memandang kedua isteri Rasulullah e. Mereka bukan hanya memberikan kata-kata yang buruk (menghina), bahkan mereka mengkafirkan keduanya. Hal tersebut, secara tidak langsung, mereka telah mengingkari Rasulullah e dan menyakitinya. Sesungguhnya Aisyah dan Hafsah adalah salah satu orang yang dicintai Nabi e.
               
§  Pandangan Syiah terhadap Putri Nabi e.
                Syiah mendakwakan hal-hal yang tidak benar kepada putri-putri Nabi e. Mereka beranggapan bahwa Nabi e tidak memilik anak perempuan kecuali Fatimah, adapun Ruqoyyah dan Ummu Kalsum  dan Zainab hanya anak tiri saja.([85]) Ruqoyyah dan Ummu Kulsum juga bukan istri Usman  dan bukan juga putri Nabi Muhammad.([86]) Demikian yang dilontarkan oleh mereka kepada Ruqoyyah dan Ummu Kulsum. Ada juga tuduhan yang di lontarkan kepada putri Nabi e Fatimah. Mereka mengatakan bahwa Fatimah ma'sum (terjaga dari salah dan dosa).([87]) Padahal sifat ma'sum hanya diberlakukan kepada para rasul dan nabi, bukan pada keluarga Nabi. Syiah berkeyakinan bahwa Fatimah adalah titisan Tuhan yang kuat yang berjasadkan wanita,([88]) Fatimah juga sudah mampu berbicara kepada ibunya ketika masih dalam kandungan,([89]) dan kalau bukan karena Fatimah, Muhammad dan Ali tidak tercipta.([90])
Demikian yang di sampaikan oleh ulama' Syiah terdahulu bahwa Fatimah orang yang maʻsūm dan titisan Tuhan dan lain sebagainya yang mengangkat tinggi kedudukan Fatimah. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh tokoh syiah Indonesia, seperti Jalaluddin Rakhmat, ia menjatuhkan reputasi Fatimah sebagai orang yang mulia. Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa Syiah melaknat Fatimah, Abu bakar dan Umar.([91]) Dari sini, ada perbedaan yang rancu antara ucapan ulama Syiah tentang Fatimah. Ada yang berkata ulama Syiah melaknati Fatimah dan ada juga yang menjunjung tinggi kedudukan Fatimah. Hal demikian bertentangan dengan apa yang diucapkan oleh para ulama mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sudah merubah kandungan agama (Islam), bahkan merubah sejarah keagamaan dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka hendaki, bukan karena kebenaran.



C.                   Sahabat dalam Perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah([92])
a)       Kedudukan Para Sahabat dalam Islam
Sahabat Nabi menempati posisi sangat penting dalam Islam. Para sahabat orang yang hidup bersama Nabi, merekalah yang paling tahu setelah Nabi tentang Islam. Nabi mengajari mereka langsung secara berhadapan. Sesungguhnya perbuatan dan perkataan Nabi merupakan wahyu, dan para sahabatlah yang perperan untuk meneruskan dalam penyampaiannya. Dengan posisi ini mereka menjadi perantara atau jembatan pada Islam yang diwariskan pada generasi berikutnya.([93]) Tidak ada seorang muslimpun yang dapat mengungkapkan Islam tanpa bersandar pada sahabat sebagai otoritas utama. Setelah Nabi wafat, para sahabat menduduki peran lebih besar dibandingkan sebelum Nabi wafat. Semua fungsi Nabi kecuali dalam hal menerima wahyu, diambil alih oleh para sahabat. Mereka manjadi figur sangat penting dalam masyarakat Muslim, menjalankan otoritas politik dan agama. Maka, apapun yang datang dari mereka yang bisa dibuktikan harus bisa dipercaya dan dianggap sebagai kebenaran.
Sahabat Nabi e memililki sifat 'Adālah (keadilan/kejujuran). Secara bahasa, 'Adālah atau 'Adl  lawan dari Jaur artinya kejahatan. Rojulun 'Adl maksudnya : seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu diridhai dan diberi kesaksiannya.([94]) Menurut istilah ahli hadist, seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru'ah".([95]) Maksud 'Adalatus Shahabah ialah bahwa semua sahabat ialah orang-orang yang bertaqwa dan wara', yakni mereka adalah orang-orang yang selalu menjauhi maksiat dan perkara-perkara yang syubhat. Keadilan sahabat juga bsia berarti diterimanya periwayatan mereka tanpa perlu bersusah payah mencari sebab-sebab keadilan dan kebersihan mereka.([96]) Para sahabat tidak mungkin berdusta atas nama Rasulullah e atau menyandarkan sesuatu yang tidak sah dari beliau.([97])
Dalam inti permasalahan 'adalah sahabat terbagi beberapa pandangan. Pertama, Semua sahabat Nabi e 'adil (jujur), dan mereka adalah para mutjahid. Ini adalah pendapat jumhur Ahlul Sunnah. Kedua,  Sahabat seperti orang biasa, ada yang 'adil, dan ada yang fasiq, karena mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Oleh karena itu, yang berbuat baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya, yang berbuat jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat Syiah.([98]) Dari sini perlu adanya pemaparan yang lebih jelas dan serius untuk mengetahui suatu sifat seorang sahabat Rasulullah e.
Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan bahwa semua hadits yang bersambung sanadnya dari orang-orang yang meriwayatkan sampai kepada Nabi e tidak boleh diamalkan kecuali kalau sudah diperiksa keadilan rawi-rawinya serta wajib memeriksa biografi mereka dan dikecualikan dari mereka adalah sahabat Rasulullah e, karena 'Adālah mereka sudah pasti dan sudah diketahui dengan pujian Allah atas mereka. Allah memberitakan tentang bersihnya mereka dan Allah memilih mereka (sebagai penolong RasulNya) berdasarkan nash Al-Qur'an.([99]) Semua sahabat sudah tetap keadilannya dan tidak perlu diragukan serta diperiksa lagi tentang keadaan mereka.([100]) Justru itu, sahabat Nabi mempunyai peran yang sangat penting dalam perluasan dan penyebaran agama Islam. Mereka generasi pertama setelah Rasulullah e yang menimba ilmu dari beliau secara tatap muka. Para sahabat juga mempunyai sifat yang jujur dalam meriwayatkan suatu hadits dari Nabi e karena mereka tidak mungkin berdusta mengatasnamakan Nabi. Yang telah dinyatakan oleh Nabi bahwasanya orang yang telah berdusta atasnya maka diancam dengan api neraka dan azab yang pedih. Justru dengan demikian sahabat Nabi tidak mungkin berbuat dusta atas apa yang Nabi sampaikan.
Dalam meriwayatkan dari Rasulullah e sahabat merupakan orang yang 'ādil (jujur) secara keseluruhan tanpa terkecuali menurut ijma ulama.([101]) Ini berdasarkan perkataan para ulama terdahulu yang berdalilkan dari al-Quran dan Hadits Nabi e. Tapi, perlu diketahui bahwa sahabat tidaklah maʻsūm atau terlepas dari kesalahan dan dosa. Sebahagian mereka ada yang berbuat dosa, akan tetapi mereka tidak pernah berdusta atas nama Nabi e. Justru karena itulah para sahabat merupakan generasi utama setelah Nabi e.

§  Sahabat dalam Al-Qur'an Dan Sunnah
Di dalam al-Quran banyak keterangan tentang prihal sifat terpuji para sahabat Rasulullah e. Diantaranya, sahabat adalah sebaik-baik umat dilahirkan untuk menyeru kepada yang maʻrūf dan mencegah yang mungkar,([102]) merekalah orang yang adil dan pilihan,([103]) Umat yang menjadi saksi adalah merupakan umat yang adil yang di ridhoi (para Sahabat dari Muhajirin dan Anshar) oleh Allah ([104]) yang berjanji kepada Rasulullah di bawah pohon([105]) untuk mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Rasul sebagai RasulNya([106]) serta mentaati perintah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad e([107]) Allah berfirman dalam surat at-Taubah :
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (at-Taubah:100).([108])
Allahpun ridha kepada mereka, orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan merekapun ridha kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyediakan bagi mereka tempat yang penuh kenikmatan yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar bagi mereka, yang diberikan oleh Allah  karena mereka orang-orang yang benar-benar beriman([109]) dan bertakwa kepada Allah.([110]) Orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,([111]) yaitu jalan yang benar,([112]) jalan bersama Nabi Muhammad e, mereka juga orang yang keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama muslim, mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,([113]) itulah mereka, orang-orang yang mendapatkan kemenangan(surga)([114]) dari Allah .
Di dalam hadits Nabi juga menerangkan sifat-sifat dan pujian terhadap para sahabat. Di antaranya hadits Nabi tentang larangan mencela para sahabat serta pujian terhadap mereka. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori, telah disampaikan kepada kami dari Adam Ibnu Abi Iyas, disampaikan juga kepada kami dari Syu'bah dari A'masy, ia berkata : saya mendengar Zakwan menyampaikan dari Abi Sa'id al-Khudri, Nabi e bersabda:
 "لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ  وَلاَ نَصِيفَهُ "
"Jangan kalian mencaci para sahabatku, andaikan kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, maka hal demikian tidak dapat mengimbangi sedekah yang dikeluarkan para sahabat satu mud saja atau separuhnya." (H.R. Bukhari)([115])
Nabi juga menjelaskan bahwa para sahabat dan umat Islam yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang Wasath (adil) dan orang pilihan agar menjadi saksi atas perbuatan manusia setelahnya dan Rasulullah e menjadi saksi atas (perbuatan) mereka.([116]) Rasul juga mendeklarasikan bahwa sebaik-baik manusia ialah generasi pada zaman Rasulullah, kemudian orang setelahnya, kemudian setelahnya, dan sumpahnya mendahului persaksian([117]) merekalah sahabat Nabi e tidak ada satupun di antara mereka yang tercela dan lemah.([118])
Nabi juga melarang untuk mencaci maki atau menghina para sahabat Rasulullah e. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari  kalangan sahabat bersama Rasulullah sesaat (sejam) itu lebih baik dari amal seorang dari orang setelahnya selama 40 (empat puluh) tahun.([119]) Tidak akan masuk neraka seorang pun dari sahabat yang berba'iat di bawah pohon (di Hudaibiyyah),([120]) dan tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah.([121]) Demikian ungakapan yang Rasul sampaikan mengenai keadilan dan jaminan para sahabatnya dengan dasar yang beliau miliki dari sikap dan tingkah laku mereka selama hidup bersamanya.([122])
Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa para sahabat ridwānullāhi 'alaihim ajmaīn adalah orang-orang yang telah mendapat pujian dan sanjungan dari Allah dan Rasul-Nya, mereka mempunyai jasa yang besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Islam yang diterima oleh kaum Muslimin sampai hari Kiamat adalah berkaitan dengan pengorbanan para sahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan perang-perang lainnya demi tegaknya agama Islam. Karena itu, Rasulullah e mengingatkan umat Islam bahwa apa yang mereka infaq-kan dan belanjakan fī-sabīlillāh belumlah dapat menyamai derajat para Sahabat, meskipun umat Islam ini berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas atau barang-barang berharga lainnya. Nabi juga melarang siapa saja menghina para sahabatnya.

b)       Konsep 'Adalah (Sifat Jujur) Sahabat menurut Ijma' Ulama
Para sahabat adalah orang yang 'ādil menurut Ijma' Ulama. Semua ulama dari Tabi'in mengutarakan bahwa sahabat adalah orang yang kuat imannya, bersih aqidahnya dan mereka lebih baik dari semua orang yang 'ādil dan orang yang mengeluarkan zakat yang datang sesudah mereka selama-lamanya.([123]) Ulama lainnya yang menegaskan pendapat di atas seperti; Ibnu Abdil Barr (363-463H) berkata : "Para sahabat tidak perlu kita periksa (keadilan) mereka, karena sudah ijma' Ahlul Haq dari kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa mereka semua 'Adil".([124]) Ada juga Ibnu Hazm (384-456H) berkata : "Semua sahabat adalah 'ādil, utama diridhai, maka wajib atas kita memuliakan mereka, menghormati mereka, memohonkan ampunan untuk mereka dan mencintai mereka".([125]) Dikuatkan lagi oleh Ibnu Katsir (701-774H) berkata :
"Semua sahabat adalah 'ādil menurut Ahlus Sunnah wal Jamā'ah, karena Allah Subhānahu wa Ta'āla telah memuji mereka di dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi e -pun memuji prilaku dan ahklak mereka. Mereka telah mengorbankan harta dan jiwa mereka di hadapan Rasulullah e, dan mereka mengharap ganjaran yang baik (dari Allah)".([126])
Sahabat Nabi tidak sama dengan orang biasa.  Para sahabat orang yang luar biasa ketakwaannya. Jika Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu 'anhu ditanya tentang sahabat-sahabat Rasulullah e, maka ia berkata :

"Tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri, ruku' dan sujud (beribadah kepada Allah) silih berganti, tampak kegesitan dari wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di bara api bila mereka ingat akan hari pembalasan (Akhirat), tampak bekas sujud di dahi mereka, bila mereka Dzikrullāh berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah".([127]) Kemudian beliau berkata lagi : "Mereka adalah sahabat-sahabatku yang telah pergi, pantas kita merindukan mereka dan bersedih karena kepergian mereka".([128])

Demikianlah ijma' ulama tentang sifat 'adālah sahabat di utarakan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab al-Isti'ab (jld. 1, hal. 19), Muqoddimah Ibnu Sholah (hal.294-295), dan lainnya yang telah dipaparkan di atas. Sebenarnya masih banyak lagi pujian dan sanjungan para Ulama tentang 'adalah (kejujuran) sahabat seperti imam Nawawi dalam kitab Tadrīb Ar-Rāwi Syarh Taqrīban-Nawawi (jld. 2, hal.124), tetapi apa yang sudah disebutkan sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang punya bashirah bahwa para sahabat Nabi mempunyai sifat 'ādil secara keseluruhan.

§  Para Sahabat Tidak Ma'shum
Para sahabat bukan Malaikat dan juga bukan para Nabi, yang bebas dari kesalahan dan dosa. Sesungguhnya persaksian Allah dan Rasul-Nya terhadap para sahabat tentang hakikat iman mereka dan keridhaan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka tidaklah menunjukkan bahwa mereka maʻsūm (terpelihara dari dosa dan kesalahan) atau mereka bersih dari ketergelinciran, karena mereka bukan Malaikat dan bukan pula para Nabi. Bahkan pernah diantara sahabat yang berbuat kesalahan atau maksiat, lantas mereka segera istighfar dan taubat. Karena setiap anak Adam pasti bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat".([129]) Begitu juga dengan kesalahan (yang dilakukan para sahabat) tidaklah menggugurkan 'adālah (keadilan), apabila sudah ada taubat".([130])
Dengan keyakinan yang kuat bahwa para sahabat yang pernah bersalah semuanya bertaubat kepada Allah dan mereka tidak bisa dikatakan nifaq atau kufur. Semua ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah telah sepakat bahwa para sahabat yang ikut serta dalam persengketaan, ikut dalam perang Jamal dan perang Shiffin, mereka adalah orang-orang yang beriman dan 'ādil. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap melampaui batas.([131]) Dan kesalahan mereka yang bersifat individu dan berjama'ah tidak menggugurkan pujian Allah atas mereka. Demikianlah sahabat Nabi yang tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Dengan taubatnya mereka, kedudukan mereka semakin lebih tinggi di sisi Allah .







D.      Pendapat Ulama Terhadap Orang yang Menghina Para Sahabat

                Haram hukumnya tindakan membenci, menghina, dan mencaci maki  para sahabat Rasulullah e dalam pandangan Islam.([132]) Hal demikian sangat tercela dan dapat dikecam sebagai berikut: Pertama, dikecam "Kafir". Perkataan ini yang di sampaikan oleh ulama empat mazhab. Seperti Imam Malik, ia berkata:

"Barang siapa yang menghina Nabi e, maka ia layak dibunuh, dan barang siapa yang menghina sahabat-sahabat Nabi, maka ia layak dihukum. Da ia berkata juga: "Barang siapa yang menghina salah satu dari sahabat-sahabat Nabi e seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Mu'awiyah, atau Amru bin 'Ash, bila mereka demikian, maka mereka sungguh dalam kesesatan dan kekafiran serta layak di hukum mati (dibunuh), dan apabila ia menghina selain sahabat Nabi, menghina manusia lainnya, maka ia layak menerima bencana yang pedih".([133])

Begitu juga dalam Tafsīr Ibnu Katsīr.([134]) Mencintai para sahabat Nabi e merupakan bagian dari agama bagi seorang muslim. Justru demikian , mereka yang tidak mencintai bahkan menghina orang yang dicintai Rasul serta yang dideklarasikan olehnya, berarti mereka meninggalkan bagian dari agama yaitu iman dan ihsan. Hal demikian sama dengan apa yang dikecam dari ulama Hanafiyah dalam Fatwā al-Hidāyah, oleh Syekh Nizom.([135]) Begitu juga dengan ulama Syafi'iyah,([136]) dan ulama Hanabilah.([137])
                Kedua, dihukum "Ta'ziir". Bagi orang yang menghina para sahabat Nabi e, maka ia layak dihukum mati. Ungkapan ini diutarakan oleh Al-Qadhi 'Iyaadh dalam buku Fathul Bāri.([138]) Ta'ziir yakni harus didera atau dihukum menurut kebijaksanaan hakim Islam. Ketika pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, ada seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam yang bernama Abdullah bin Saba' dari Yaman, karena ia dan pengikutnya tahu bahwa Islam tidak mungkin dapat diperangi secara berhadapan, dengan senjata, dan perang dengan fisik. Justru demikian ia ingin menghancurkan Islam dengan cara menjatuhkan martabat para sahabat Nabi, terutama ketiga khalifah setelah Nabi. Setelah ia berani menghina mereka, lalu ia dipanggil oleh Ali bin Abi Thalib untuk dihukum mati. Akan tetapi, ada orang yang tidak setuju yang dengan tindakannya untuk menghukum Abdullah bin Saba', lalu Ali pun mengusirnya ke al-Madain.([139]) Demikian, yang harus diterima bagi orang yang menghina sahabat Nabi e yaitu harus dihukum.
Ada pula yang ketiga, pendapat ulama bagi siapa yang menghina sahabat Nabi, yaitu "Zindiq". Hal ini yang dikeluarkan oleh Imam Abu Zur'ah Ar-Raazi (wafat th 264H) dalam kitab Al-Awāshim minal Qawāshim.([140]) Orang yang zindiq dapat dikatakan juga orang kafir. Mereka (orang-orang zindiq) itu mencela kesaksian orang muslim agar bisa membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah (yakni agar tidak percaya kepada Al-Qur'an dan Sunnah). Merekalah yang pantas mendapat celaan itu. Karena Rasulullah e adalah haq(benar/nyata), Al-Qur'an adalah haq dan apa-apa yang dibawa olehnya adalah haq dan yang menyampaikan semua itu adalah para sahabat Rasulullah e. Dan apa yang disampaikan mereka adalah haq dari Allah dan RasulNya. Demikian bagi orang yang mencela sahabat Nabi dikecam zindik atau kafir.
Dan keempat, keluar dari islam dan telah merusak kaum muslimin. Hal ini yang disampaikan oleh Imam Al--Hafizh Syamsuddin Muhammad 'Utsman Adz-Dzahabi yang lebih dikenal dengan Imam Adz-Dzahabi (673-747H) dalam bukunya Abu Khalid Al-husain bin Muhammad as-Sa'idl. Mereka yang mencaci adalah orang yang dengki dan ingkar kepada pujian Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan juga mengingkari Rasulullah yang memuji mereka dengan keutamaan, tingkatan dan cinta ... Memaki mereka berarti memaki pokok pembawa syari'at (yakni Rasulullah). Mencela pembawa Syari'at berarti mencela kepada apa yang dibawanya (yaitu Al-Qur'an dan Sunnah)".([141]) Kalau sudah mencela al-Quran dan Sunnah bahkan mencela Pembawa syari'at, berarti ia keluar dari Islam dan bukan dikatakan orang muslim.
Demikianlah perkataan para ulama Ahlussunnah tentang siapa yang menghina dan membenci para sahabat Rasulullah e, maka ia bukan termasuk seorang muslim. Merekalah orang Syiah yang membenci dan menghina para sahabat, bahkan mereka mengkafirkan dan melaknat sahabat. Sesungguhnya apa yang mereka klaim terhadap para sahabat Nabi e, hal tersebut kembali kepada mereka sendiri. Yang menuduh sahabat kafir, merekalah yang kafir, yang mengatakan sahabat hina, merekalah yang hina. Merekalah yang layak mendapatkan hukuman ta'ziir (dari kesimpulan dari kata para ulama di atas).


E.       Penutup

Syi'ah merupakan golongan yang banyak menuduh para Sahabat Rasulullah e dengan beragam keburukan. Diantara tuduhan tersebut: sebahagian para sahabat tidak 'ādil,  sebahagian sesat dan menyesatkan, bahkan kafir. Sikap konfrontatif ini, jika benar, maka konsekuensinya adalah agama Islam yang sampai pada jaman ini dipertanyakan keontetikannya, karena  genereasi awal periwayatan dari agama ini adalah para sahabat yang tidak bebas dari tuduhan tersebut. Sedangkan dalam pandangan Sunni, asumsi maupun tuduhan Syiah terhadap sahabat sebagaimana di atas tidak dibenarkan. Karena terdapat di dalam al-Quran yang menyatakan pujian Allah terhadap para sahabat merupakan kunci utama bagi agama Islam, dimana di tangan merekalah agama ini tegak, dan melalui mereka agama ini sampai ke seluruh penjuru dunia, maka dengan menjatuhkan martabat sahabat dapat meruntuhkan ajaran Islam yang benar.
Apa yang telah diterangkan dari Al-Qur'an dan Sunnah mengenai para sahabat kiranya sudah jelas, kemudian dikuatkan dengan pendapat Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah. Mereka (sahabat Nabi) sebaik-baik umat. Umat Islam diwajibkan mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, tidak boleh menyimpang dari jalan mereka dan berpegang kepada Sunnah Rasul dan Khulafaur Rasyidin. Hukum mencaci/menghina para sahabat adalah haram dan pelakunya akan dilaknat oleh Allah, Malaikat dan seluruh manusia. Sebagaimana sabda Nabi e: "Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia". (H.R.Thabrani).
 Semua sahabat adalah 'adil dan tetap dikatakan orang-orang yang beriman, meskipun mereka berselisih pendapat. Kita tidak berkeyakinan bahwa para Sahabat maʻsūm, karena tidak seorangpun yang ma'shum selain Rasulullah e dan para nabi sebelumnya. Kita ridha kepada mereka, kita mohonkan untuk mereka ampunan dan kita menahan dari apa yang terjadi di antara mereka.






Daftar Pustaka
Al-Quran al-Karim
Al- Kaf'ami, Taqiyuddin Ibrahim bin Ali al-'Amiliy, al- Mishbāh fī al- Adyiāt wa al- Shalawāt wa al- Zirayāt, (Beirut: Dar- al-Qari', 2008).
Al-Asqalani, Ibnu Hajar,  Al-Ishābah fil Tanyīzis-Shahābah, (Dārul-fikr 1398H).
Al-Azhari, Muhammad bin Ahmad, (w. 370 H), Tahdzīb al-Lughah,Tahqiq Muhammad 'Iwadh Mura'ib, (Beirut: Dār Ihyā at-Turāts al-'Arabi, 2001 M).
Al-Baghdadi, Al-Khatib, Al-Kifāyah fi 'Ilmir-Riwāyah, (naskah PDF, Maktabah Waqfea).
Al-Bahrani, Hasyim, al-Burhān fi Tafsīr al-Qurān, (Beirut : Mu'assasah al-'Alāmi, 2006).
Al-Baqilani, al-Inshāf mā Yajibu I'tiqāduhu wa lā Yajūzu al-Jahl bih, ed. Imad al-Din Ahmad Haidar (Beirut:'Alāmul Kutub, 1986).
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhariy, Kitab al-Syahadat, bab La Yasyhadu 'ala Syahadat al-Jur idza Asyhada. Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir (Madinah: Dār Thūq al-Najh, 1422).
Al-Dzahiri, Ibnu Hazm, (wafat th. 456 H), Al-Fishāl fil Milal wal Ahwā’ wan Nihal, (Beirut: Dārul Jīl, tt).
Al-Jaza’iri, Ni’matullah, al-Anwār an-Nu'māniyah, (Bairūt: Dār Al-Kūfah, 2008).
Al-Kisysyi, Muhammad bin Umar, Rijāl al-Kisysyi, (Tehran: Mu'assasah al-I'lāmi, tt).
Al-Kulaini, Uṣūl al-Kāfì, bab:"Fihi Nuqot wa Nataf min al-Tanzil fil Wilayah", (Bairūt: Dar At-Taaruf, 1992).
Al-Majlisi, Muhammad Baqir, Al-‘Aqāid, ditahqiq oleh Husain Darkahi, (Bairut: Dāru Ihyā Thurās al-Arabi, 1983).
Al-Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār al-Jāmi’ah Lidurur Akhbār al-Aimmah al-Athar, (Beirut: Muassasah al-Wafā’, 1983 M).
Al-Mughniyah, Muhammad Jawab, Syī‘ah fil Mizān, (www.alhasanain.com).
Al-Musawi, Abdul Rusul Musa, Syī’ah fī Tārīkh, (Cairo: Maktabatu Badbuli, 2002).
Al-Musawi, Syarafuddin, Dialog Sunnah –Syiah, (Bnadung: Mizan, 1983).
Al-Nadwi, Abul Hasan Ali Al-Hasani, Shurtāni Mutadhodatāni, Aqāidus Syī'ah fī Miīzān, (Qatar: Idārat Ihyā' al-Turāts al-Islāmi, tt).
Al-Naisaburi, Muslim bin Hajaj. Shahīh Muslim. Tahqiq: Muhammad Fuad Abdu al-Baqi. (Beirut:  Dār Ihya’ at-Turāts al-‘Arabi,  tt).
Al-Qodhi 'Iyadh, as-Syifā bi Ta'rīf Huqūq al-Musthafā, (naskah PDF, Maktabah Waqfeya).
Al-Qummi, Ali Ibnu Ibrahim, Tafsīr al-Qummi, (Qum, Iran: Dar al-Kutub, 1387 H).
Al-Qummi, Saduq Abu Ja’far Muhammad Bin Ali Bin Husain Bin Musa Bin Babawaih, ` ʻIlal Al-Syarāʼi, (Najaf: Al-Maktabah Al-Haidariyah, 1966).
Al-Sahristani, Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Karim, (W. 548 H), al-Milal wa an-Nihal, (Beirut: Dār al-Fikr, tt).
Al-Syirbini, Al-Khatib, Mughni al-Muhtaj, (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1997).
Al-Thahawi, Ibnu Abi al-'Izz Abu Ja'far, Syarah Aqīdah Thahāwiyah , Takhrij Syaikh Al-Albani (Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1988).
Al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad (w. 1205 H), Tājul al-'Arūs min Jawāhir al-Qāmūs, (Dar al-Hidayah, tt).
An-Naukhbati, Al-Hasan bin Musa, Firoqus Syīah, (Istanbul: Maktabah al-Daulah, 1931).
An-Nawawi, Raudhat at-Thālibin, (Riyadh: Dār al-A'lām al-Kutub, 2002).
Ash-Shadr, Muhammad Shadiq, Asy-Syī’ah Al-Imāmiyah, (Cairo: Mathba’atun Najah, th. 1402 H/1982 M).
As-Sa'idl, Abu Khalid Al-husain bin Muhammad, Al-Khabāir Al-Zdahabi, (Daarul Fikr, 1408H).
As-Shafar, Muhammad bin al-Hasan, Bashāir ad-Darajāt, (Beirut: Mansyurāt al-A'lāmi, 2010).
Ats-Tsani, Asy-Syahid, ar-Ri’ayah fī ‘ilmi ad-Dirāyah, tahqiq Abdul Husai Muhammad ‘Ali Baqal, (Iran: Matba’ah Bihmin, 1408).
At-Thabrasi, Al-Ihtijāj, (Beirut: al-A'lami li al-Matbu'at, 1421 H).
Dzahir, Ihsan Ilahi, "Baina Syīah wa Sunnah" terj. Fadhli Bahri, Syiah merajalela di tengah Ahlussunnah,  (Bekasi, Darul Falah, 2013). 
Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj Balāghah, (Dār ar-Rasyād al-Hadītsah, tt).
Ibnu Katsir, Abu al-Fida', Al-Bā'itsul Hatsīts Syarah Ikhtisar 'Ulūmil-Hadīts ditahqiq oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, (Dārut turāts, 1399H/1979M).
Ibnu Katsir, Abu al-Fida', Tafsīr Ibnu Katsīr, (Riyadh: Dārus Salaām. Tt).
Ibnu Shalah, Ma'rifat Anwā' 'Ulūm al-Hadīts. Tahqiq: Nuruddin Athar. (Beirut: Dār al-Fikr al-Mu'āshir, 1406 H).
Ibnu Taimiyah, Mukhtashar as-Sharīm al-Muslul'ala Syātimi ar-Rasūl, tahqiq 'Ali bin Muhammad al-Umran, (Makkah: Dār 'Alam al-Fawaid, 1422H).
Ibnul 'Arabi, Abu Bakar, Al-'Awāshin minal Qawāshim, ditahqiq Syaikh Muhibudin Al-Khatib (Cairo: Dārul Mathba'ah Salafiyah,tt).
Jabali, Fuad, Sahabat Nabi: Siapa, ke mana, dan Bagaimana? (Bandung: Mizan,2010).
Kasban, Khalid, Persfektif Sahabat Dalam Islam, (Malaysia: Pustaka Ikhwan, 1987).
  Rakhmat, Jalaluddin, Sahabat dalam Timbangan Al- Quran, Sunnah dan Ilmu pengetahuan. (Makassar: PPs UIN Alauddin, 2009).
 Suhaimi, Ahmad Haris, Tausyīqus Sunnah baina Imām Isyna 'Asyariyah wa Ahlus Sunnah, (Mesir: Dar as-Salam, 2008).
Tim Penulis MUI Pusat, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, (Jakarta: Forum Masjid Ahlussunnah, 2013).


[1] Peserta Program Kaderisasi Ulama' (PKU) ke-7  ISID Gontor, periode 2013, kerja sama dengan MUI pusat dan Yayasan Dana Sosisal al-Falah (YDSF) Jawa Timur.
[2] Istilah Syi'ah berasal dari bahasa Arab (شيعة) "Syīʻah". Lafadz ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk pluralnya adalah "Syiya'an". Pengikut Syi'ah disebut "Syī`ī" (شيعي). Kata "Syi'ah" menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Kaum yang berkumpul atas suatu perkara. Muhammad bin Ahmad al-Azhari (w. 370 H), Tahdzīb al-Lughah,Tahqiq Muhammad 'Iwadh Mura'ib, (Beirut: Dār Ihya at-Turats al-'Arabi, 2001 M), jilid. 3, hal. 41. Muhammad bin Muhammad al-Zabidi (w. 1205 H), Tājul al-'Arūs min Jawāhir al-Qāmūs, (Dar al-Hidāyah, tt), jilid. 21, hal. 301-302.Adapun menurut terminologi Islam, kata ini bermakna: para pendukung Ali secara khusus. Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah yang paling utama di antara para sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan atas kaum Muslim, demikian pula anak cucunya. Dalam pandangan mereka, para imam ini telah ditetapkan melalui nash dan wasiat dari Allah dan Rasul-Nya. Baik secara tersurat maupun tersirat. Selain itu, mereka meyakini bahwa perkara kepemimpinan tersebut adalah perkaran ushul (pokok) agama bukan furu’ (cabang). Syiah terdiri dari berbagai sekte. Induk dari sekte-sekte Syiah yaitu, Kisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Ghulat dan Ismailiyah. Lihat: Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Karim al-Sahristani (W. 548 H), al-Milal wa an-Nihal, (Beirut: Dār al-Fikr, tt), jilid. 1, hal. 146.
[3] Ahlussunnah ialah orang yang berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah Nabawiyah baik perbuatan dan perkataan. (Ahmad Haris Suhaimi, TausyīqusSunnah baina Imām Isyna 'Asyariyah wa Ahlus Sunnah, (Mesir: Dār as-Salām, 2008), Hal.116.)
[4] Yang dimaksud sahabat ialah :" Orang yang pernah melihat atau berjumpa dengan Nabi SAW. dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam, meskipun pernah murtad" lihat : Al-Baa'itsul Hatsits Syarah Ikhtisar 'Ulūmil-Hadits Lil-Hafīzh Ibnu Katsīr oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakīr, cet. Dārut turāts, 1399H/1979M, hal. 151. ; Asy-Syahīd ats-Tsāni, ar-Ri’āyah fii ‘ilmi ad-Dirāyah, tahqīq Abdul Husai Muhammad ‘Ali Baqal, (Iran: Matba’ah Bihmin, 1408), hal. 339, nama lengkapnya Zainuddin Ibnu ‘Ali ibnu Ahmad al-Jab’i al-‘Amili, hidup pada tahun 911-965 H., Walaupun ada dari kalangna ulama  menolak untuk memasukkan orang yang pernah murtad kemudian kembali ke Islam dalam katagori sahabat, seperti Al-Hafidz al-Iraqi, sebagaimana perkataan Abu Hanifah dan Imam Syafi'I bahwa kemurtadan telah menggugurkan seluruh amal. Lihat: Jalaluddin as-Suyūthi, Tadrībur Rāwi, jld.3 hal. 208-209., Demikian juga orang munafik tidak termasuk sahabat Nabi SAW, meskipun mereka bergaul dengan Rasulullah SAW. Karena Allah dan Rasul-Nya mencela orang-orang munafik. Lihat: firman Allah (At-Taubah:73), (At-Tahriim:9), (At-Taubah:84), (At-Taubah:80), (Al-Munafiquun:6), (Muhammad:19), (Asy-Syu'araa' :215), dan (Al-Fath:29).; Ibnu Hajar,  Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahabah, (Daarul-fikr 1398H), jld.1, hal. 7-8.
[5] Muhammad bin Ismaīl al-Bukhāri, Shahih al-Bukhāriy, Kitab al-Syahādāt, bab Lā Yasyhadu 'ala Syahadat al-Jur idza Asyhada. Tahqīq: Muhammad Zuhair bin Nashīr al-Nashīr (Madinah: Dar Thuq al-Najh, 1422), jld. 3, hal. 171.:
[6] Al-Naisaburi, Muslim bin Hajaj. Shahīh Muslim. Tahqīq: Muhammad Fuād Abdu al-Bāqi. (Beirut:  Dār Ihyā’ at-Turāts al-‘Arabi,  tt), jld. 1, hal. 10. Berikut riwayat haditsnya:
قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "من كذب عليّ معتمدًا فليتبوء مقعده من النار" (صحيح مسلم ج1 ص10.)
[7]  Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhariy, Kitab al-Syahadat, bab La Yasyhadu 'ala Syahadat al-Jur idza Asyhada. Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir (Madinah: Dar Thuq al-Najh, 1422), jld. 3, hal. 171. Demikian riwayat haditsnya:
قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ,...
 [8] Ibnu Shalah, Ma'rifat Anwa' 'Ulum al-Hadīts. Tahqiq: Nuruddin Athar. (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1406 H), hal. 294-295. dinukil dari: Fuad Jabali, Sahabat Nabi: Siapa, ke mana, dan Bagaimana? (Bandung: Mizan,2010),  hal.65.
 [9] Q.S Al-Maidah, ayat : 3
 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 
[10] Muhammad Shadiq Ash-Shadr, Asy-Syi’ah Al-Imamiyah, (Cairo: Mathba’atun Najah, th. 1402 H/1982 M), hal 130-134.
[11] Abdul Rusul Musa al-Musawi, Syi’āh fii Tārikh, (Cairo: Maktabatu Badbuli, 2002), hal. 49, lihat juga, As-Syirazi, Ad-Darajat Ar-Rafi’ah. Menurut As-Syirozi ‘udul lebih kepada keimanan dan penjagaan terhadap wasiat Nabi SAW. sebagaimana yang dilakukan Salman, Abu Dzar dan ‘Ammar.
[12] Jalaluddin Rahmat adalah ketua Ijabi, pernyataan tersebut ditulis dalam pengantar buku Fuad Jabali, Sahabat Nabi, Siapa, ke Mana dan Bagaimana?, hal. Xviii.
[13] Muhammad Jawab Al-Mughniyah, Syi‘ah fiil Mizan, (www.alhasanain.com), hal. 82.
[14] As Sayyid Ali Khan as-Syirazi, al-Darajat al-Rafi'ah Fi Tabaqat as-Syi'ah, (Beirut: 1973), hlm. 33. 
[15] Al- Kulaini, Rauḍah Al-Kāfi, (Bairūt: Mansyūrāt al-Fajr, 2007), jld. 8, hal. 245, lihat juga ; Artikel dalam Buletin al –Tanwir Yayasan Muthohhari Edisi Khusus No.298. 10 Muharram 1431 H. hal. 3.
[16] Muhammad bin Mas'ud Al-Iyasyi, Tafsir al-Iyasyi, (Qum: Maktabah al-I'lamiyah, 1308H), jld. 1, hal. 199.
[17] Muhammad bin Umar al-Kisysyi, Rijal al-Kisysyi, (Tehran: Mu'assasah al-I'lami, tt), hal. 11-12.
[18] Artikel dalam Buletin al –Tanwir Yayasan Muthohhari Edisi Khusus No.298. 10 Muharram 1431 H. hal.3.
[19] Jalaluddin Rahmat, Sahabat dalam Timbangan Al- Quran, Sunnah dan Ilmu pengetahuan. (Makassar: PPs UIN Alauddin, 2009), hal. 7.
[20] Muhammad Baqir al-Majlisi, Al-‘Aqaid, ditahqiq oleh Husain Darkahi, (Bairut: Daru Ihya Thuros al-Arabi, 1983), hal. 58.
[21] Al-Kulaini, al-Kafi, bab:"Fihi Nuqot wa Nataf min al-Tanzil fil Wilayah", (Bairūt: Dar At-Taaruf, 1992), jld.12, hal. 323.
[22] Al-Kulaini, ar-Raudhah min al-Kafi, jld. 8, hal, 245.
[23] Al-Kulaini, Al-Furu'ul Kaafi, fatsal Kitabur Raudhah, jld. 3,  hal. 115.
[24] Abul Hasan Ali Al-Hasani Al-Nadwi, Shurtani Mutadhodataani, Aqaidus Syi'ah fii Miizan, (Qatar: Idarat Ihya' al-Turats al-Islami, tt), hal. 85.
  [25] Khulafa' ar-Rasyidin ialah: Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
[26] Muhammad Baqir al-Majlisi, Rauḍah Al-Kāfi, (Bairūt: Mansurat al-Fajr, 2007), hal. 58. :
وممّا عدّمن ضروريّات دين الإمامية, استحلال المتعة و حج التمتّع, و البراءة من الثلاثة (و معا وية و يزيد بن معاوية و كلّ...(أبي بكر و عمر و عثمان) بدل ((الثلاثة)).
[27] Muhammad bin al-Hasan As-Shafar, Bashoir ad-Darojat, (Beirut: Mansyurat al-A'lami, 2010), jld. 8, hal. 245.
[28] Muhammad Baqir Al-Majlisi, Bihār al-Anwār al-Jāmi’ah Lidurur Akhbār al-Aimmah al-Athar, (Beirut: Muassasah al-Wafa’, 1983 M), jld. 69, hal. 137-138.
[29] ibid, hal.519.
 [30] Demikian teks aslinya :
اللهم صل على محمد وعلى ال محمد, اللهم العن صنمي قريش و جبيسهما, و طاغوتيهما, و إفكيهما, وابنتيهما الذين خالفا أمرك و أنكرا وحيك و جحدا إنعامك وعصا رسولك, وقلبا دينك, وحرفا كتابك, وأحبا أعداءك, جحدا ألائك, وعطلا أحكامك, و ألحدا فى أياتك, و عاديا أوليائك, وواليا أعدائك, و خربا بلادك و أفسدا عبادك.....
[31] Taqiyuddin Ibrahim bin Ali al-'Amiliy al- Kaf'ami, al- Mishbah fi al- Adyiat wa al- Shalawat wa al- Ziroyat, (Beirut: Dar- al-Qari', 2008), hal.658-662.
[32] Husein Al- Hurasani, Islam fi dahui at-tasyayyu', t.t. hal. 88.
[33] Abbas Rais Kermani, Al-Huda, 2009, hal.155-156. Lihat buku Tim Penulis MUI Pusat, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, (Jakarta: Forum Masjid Ahlussunnah, 2013), hal.55.
[34] Ni’matullah Al-Jaza’iri, al-Anwār an-Nu'māniyah, Al-Anwar al- Nu'maniyyah, (Bairūt: Dār Al-Kūfah, 2008),  jld. 1, hal. 53.
[35] Al-Mar'asyi, Ihqaaqul Haq, jld. 1, hal. 337. Lihat buku "Siapa Syiah Itu?", Abdullah bin Muhammad, hal.26
[36] Hasyim al-Bahrani, al-Burhan fi Tafsir al-Quran, (Beirut : Mu'assasah al-'Alami, 2006),  jld. 2, hal. 127.
[37] Ni'matullah Al-Jaza'iri, Al-Anwar an-Nu'maniyah, jld. 1, hal. 53.
[38] Antologi Islam; Risalah Islam Tematis dari Keluarga Nabi SAW., (Al-Huda , 2012), hal. 648-649.
[39] Ali Ibnu Ibrahim al-Qummi, Tafsir al-Qummi, (Qum, Iran: Dar al-Kutub, 1387 H), jld. 1, hal. 390.
[40] Al-Mjlisi, Biharul Anwar, 30, hal. 236.
[41] Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, jld. 1, hal. 390.
[42] Ni'matullah Al-Jaza'iri, Al-Anwar an-Nu'maniyah, jdl. 1, hal. 63.
[43] Ibrahom Jabban, Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyaam, hal.27.
[44] Abbas al-Qummi, al-Kuna wal Alqob, jld. 2, hal. 55. ; Yasin as-Shawwaf, Aqdu ad-Darar fi Bathni Umar, hal.120.
[45] Al- Kulaini, ar-Raudhah min al-Kafi, jld. 8, hal. 245.
[46] Al-Mjlisi, Biharul Anwar, jld. 30, Hal.236.
[47] Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah –Syiah, (Bnadung: Mizan, 1983), hal. 357.
[48] Zainuddin al-Bayadhi, as-Sirot Mustaqim, jld. 3, hal. 30.
[49] Tafsir al-Qummi, jld. 1, hal. 390. Lihat buku "Inilah Kesesatan Aqidah Syiah", Syekh Muhammad Abdullah as-Salafi, hal25.
[50] Jalaluddin Rahmat, al-Musthafa, Manusia Pilihan yang disucikan, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008), hal.164.
[51] Ibid, hal.165-166.
[52] Hasan bin Yusuf bin Al- Muthohhar al-Hulli, Kasyful Yaqin fi Fadhoil Amiril Mukminin, hal. 229.
[53] As-Shafar, Bashoir ad-Darojat, jld. 8, hal. 230.
[54] Ibid, hal.92.
[55] Al-Majlisi, Biharul Anwar, jld. 41, hal.247 dan jld. 17, hal. 306.
[56] Bisyarat al-Musthofa li Syiat al-Murtadha, jld. 2, hal. 79.
[57] Ibid, jld. 1, hal. 66.
[58] Muhammad al-Mas'ud, Al-Asror al-Wilayah, hal.181.
[59] As-Sahafar, Bashoir ad-Darajat, hal.91.
[60] Nuri at-Thabarsi, Fashlul Kitab fi Tahrifi Kitab Rabbiil 'Arbab, hal.18.
[61] Muhammad al-Mas'ud, Al-Asror al-Wilayah, hal.190.
[62] Syekh Hasyim Al-Bahrani, Al- Ma'alim Zulfa, hal.303.
[63] At-Thabrasi, Al-Ihtijaj, (Beirut: al-A'lami li al-Matbu'at, 1421 H), jld. 1, hal. 57.
[64] Saduq Abu Ja’far Muhammad Bin Ali Bin Husain Bin Musa Bin Babawaih al-Qummi, ` ʻIlal Al-Syarāʼi, (Najaf: Al-Maktabah Al-Haidariyah, 1966), hal. 205.
[65] Ali bin Al-Maghzali, Manaqib Amirul Mukminin, hal.93.
[66] As-Sahafar, Bashoir ad-Darajat, jld. 8, hal. 235.
[67] Hasan bin Yusuf al-Muthohhar al-Hulli, Ksyful Yaqin di Fadhoil Amiril Mukminin, hal.8.
[68] Husain Abdul Wahab, Uyuun al-Mukjizat, hal.150.; Risalah "Hulul Masykil" dan cerita Abdullah al-Khattab yang khurofat.
[69] Al-Mufid, Al-ikhtishos, hal.327.
[70] Al-Hasan bin Musa An-Naukhbati, Firoqus Syiah, (Istanbul: Maktabah al-Daulah, 1931), hal.22.; At-Thausi, Ikhtiyar Makrifat ar-Rijal, hal.107.
[71] Antologi Islam; Risalah Islam Tematis dari Keluarga Nabi SAW., (Al-Huda , 2012), hal.59-60, 67-69.
[72] Ja'far Murtadha, Al-Kafi, hal.17.
[73] Yusuf al-Bahrani, Asy-Syihab ats-Ssaqib fi Bayani Makna An-Nasib , hal.236.
[74]  "ممّا يدلّ علىإمامة أئمّتنا الثني عشر, أنّ عائشة كافرة مستحقّة للنار, و هو مستلزم لحقّيّة مذهبنا و حقّيّة أئمّتنا الثني عشر, لأنّ كلّ من قال بخلافة الثلاثة اعتقد ايمانها و تعظيمها و تكريمها"
[75] Rajab al-Barasi, Masyariq Anwar al-Yakin, hal.86.
[76] Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah –Syiah, (Bandung: Mizan 1983), hal.357.
[77] Al –Khumaini, Thaharah, jld. Jld. 3, hal. 457.
[78] Emelia Renita dan Jalaluddin Rakhmat, 40 Masalah Syiah, (IJABI, 2009), hal.83.
[79] Ibrahim Jabban, Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyaam, hal.27.
[80] Syiah mengatakan: "Ya Allah berikan lah salawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah kedua patung Quraisy, kedua jibt (jibt adalah sihir, sebutan yang digunakan untuk sihir, tukang sihir, tukang ramal, dukun, berhala dan sejenisnya), dan Thoghutnya dan kedua anak perempuan mereka" (maksud: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Hafsah). Taqiyuddin Ibrahim bin Ali al-'Amiliy al- Kaf'ami, al- Mishbah fi al- Adyiat wa al- Shalawat wa al- Ziroyat, hal.658-662.
[81] (At-Tahrim:4)
[82] Tafsir al-'Iyasyi, jld.1, hal. 342.; Biharul Anwar, jld. 22, hal. 516, jld. 28, hal. 20.; Hayat Al-Qulub lil Majlisi, bab 2 hal.700.
[83] (At-Tahrim:7)
[84] Zainuddin an-Nabathi al-Bayadi, As-Shirot al-Mustaqim, (jld. 3, hal. 168)
[85] Dairotul Ma'arif al-Islamiyah, jld. 1, hal. 27.
[86] Jalaluddin Rahmad, al –Musthofa, hal.164
[87] Muhammad Ridha Muzhaffar, Aqoid al-Imamiyah, hal. 89 dan 98.
[88] Muhammad al-Mas'udi, Al-Asrar al-Fatimiyah, hal.355.
[89] Muhammad al-Kuzwaini, Fatimah az-Zahra minal Mahdi Ilal Lhadi, hal.38.
[90] Muhammad al-Mas'udi, Al-Asrar al-Fatimiyah, hal.98.
[91] Emelia Renita AZ, 40 Masalah Syiah, editor Jalaluddin Rahmat, (Bandung; IJABI. 2009), Hal.90.
[92] Ahlus Sunnah adalah ahlul haqq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Sahabat Radhiyallahu anhum dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi’in yang terpilih, kemudian Ashhaabul hadits dan yang mengikuti mereka dari Ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat. Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi SAW. dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. (Ibnu Hazm azh-Zhahiri (wafat th. 456 H), Al-Fishal fil Milal wal Ahwaa’ wan Nihal, (Beirut: Daarul Jiil, tt), jld. 2, hal. 271.
[93] Al-Baqilani, al-Inshaf ma Yajibu I'tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahl bih, ed. Imad al-Din Ahmad Haidar (Beirut:'Alamul Kutub, 1986), hal.107.
[94] Kamus Muktarus-Shihah, Darul Fikr, hal. 417. 
[95] Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar (Maktabat Thayibah tahun 1404H), hal. 29.
[96] Al-Hafiz as-Syakawi, Fathul Mughits bi Syarh Alfiyat al-Hadits, jld.4, hal.40. lihat ; buku panduan MUI, "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia", hal. 62.
[97] Jalaluddin as-Suyuthi, Tadribur-Rawi, jld.2 hal. 215.
[98] Khalid Kasban, Persfektif Sahabat Dalam Islam, (Malaysia: Pustaka Ikhwan, 1987), hal. 5.
[99] Al-Khatib al-Baghdadi, Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah, (naskah PDF, Maktabah Waqfea), hal.93.
[100] Ibnu Shalah, 'Umul Hadits, hal. 329. Pendapat ini senada dengan Imam Syairaji dalam Tabshirah fi Ushulil-Fiqh hal. 329.
[101] Ziyab bin Sa'din Ali Hamdan al-Ghomidi, Tasdid al-Ishobah Fima Syajara Baina as-shohabah, hal. 96.
[102] Allah berfirman dalam surat Ali-Imran, ayat. 110, yang berbunyi :
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$#  
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
[103] (Al-Baqarah : 143)
[104] (Al- Taubah: 100)
[105] (Al-Fath : 18) "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon".
[106] (Al-Fath. 18)
[107] (Al-Anfal: 64)
[108]  šcqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# Í$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ šÅ̧ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã £tãr&ur öNçlm; ;M»¨Zy_ ̍ôfs? $ygtFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Yt/r& 4 y7Ï9ºsŒ ãöqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# .
[109] (Al-Anfaal : 74)
[110] (Al-Fath : 26)
[111] (Al-Hujuraat : 7)
[112] (At-Taubah : 119)
[113] (Al-Fath : 29)
[114] (At-Taubah : 20)
[115] Isma'il Abu Abdillah Ismail al-Bukhari, Mukhtasar Jami' Musnad Shahih, no. 3673. 
[116] Hadits Shahih Riwayat Bukhari/Fathul Bari, no. 4487, jld. 8, hal. 171-172.
[117] Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4:189.; Muslim 7:184-185.; Ahmad 1:378,417,434,442 dan lain-lain.
[118] Abi Lubabah Ibnu Hibban,  Al-Jarh wat Ta'dil, jld. 1, hal. 123.
[119] Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih
[120] Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Muslim
[121] Hadits Shahih Riwayat Ahmad, III:396 dari Jabir
[122] Ibnu Abi al-'Izz Abu Ja'far al-Thahawi, Syarah Aqidah Thahawiyah , Takhrij Syaikh Al-Albani (Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1988), hal. 469.
[123] Qurasy bin Umar bin Ahmad, Tanbih Dzawin Najabahilla 'Adaalatis Shahabah, hal. 23.; Perkataan Al-Khatib Al-Baghdadi (beliau lahir thn. 392 wafat th 463)/ Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah hal. 49
[124] Ibnu Abdil Barr, Al-Iti'ab fi Ma'rifati Ashab, (Daarul Fikr, 1398H), jld. I, hal. 9
[125] Ibnu Hazm, Ushulul Hadits, Dinukil dari Al-Ihkam fil Ushulil-Ahkam, hal. 386.
[126] Ibnu Katsir, Al-Baitsul-Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits, hal.154
[127] Nahjul Balaghah yang di tahqiq oleh Dr. Shubhi Shaleh (Beirut :Daarul Kutub Al-Lubnani), hal. 143,177,178. dinukil dari Shuratani Mutadhatani, Tarjamah Bey Arifin hal. 16-17.
[128] Ibid
[129] (Hadits Hasan Riwayat Ahmad 3: 198, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim 4:244. Shahih Jami'us Shagir 4391, Takhrijul Misykat No. 2431)
[130] Perkataan Abu Bakar Ibnul 'Arabi. Dalam Al-'Awashin minal Qawashim tahqiq Syaikh Muhibudin Al-Khatib (Cairo: Daarul Mathba'ah Salafiyah,tt), hal. 94.
 [131] Abu Ja'far, at Thohawi, al –Aqidah at-Thohawiyah dan Syarahnya karya Ibnu Abi al 'Izz, hal. 467.
[132]  Ziyab bin Sa'din Ali Hamdan al-Ghomidi, Tasdid al-Ishobah Fima Syajara Baina as-shohabah, hal.99.
[133] Al-Qodhi 'Iyadh, as-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa, (naskah PDF, Maktabah Waqfeya),  jld. 2, hal. 1108.
"من شتم النبي صلّى الله عليه و سلم قُتِل ومن شتم أصحابه أُدِّب, و قال أيضا : من شتم أحدا من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم أبا بكر أو عمر أو عثمان أو معاوية أو عمرو بن العاص فإن قال كانوا على ضلال و كفر قتل وإن شتمهم بغير هذا من مشامة الناس نُكِّل نكالا شديدا"
[134] Abu al-Fida' Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Riyadh: Daarus Salam. tt),  jld. 5, hal. 367-368 atau jld. 4, hal. 216. : "Orang-orang yang membenci para Sahabat Rasulullah adalah orang-orang kafir"
[135] Syekh Nizom, Fatwa al-Hidayah,  jld. 2, hal. 286. Berikut teks aslinya:
 الرافضيّ إذا كان يسبّ الشيحين و يلعنهما و العياذ بالله فهو كافر و إن كان يفضّل عليّا كرّم الله وجهه على أبي بكر رضي الله تعالى عنه لا يكون كافرا إلّا أنه مبتدع.....(الفتاوى الهندية, ج 2. ص.682)
[136] An-Nawawi, Raudhat at-Thalibin, (Riyadh: Dar al-A'lam al-Kutub, 2002),  jld. 7, hal. 290.; al-Khatib al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1997), jld. 4, hal. 176. Berikut teks aslinya:
 يكفر من نسب الأمة إلى الضّلال أو الصّحابة إلى الكفر أو أنكر إعجاز القرآن أو غير شيئا منه......(مغني المحتاج, ج 4, ص.671) و كذا يقطع قائل قولا يتوصل به إلى تضليل الأمة أو تكفير الصّحابة....(روضة الطالبين, ج.7 ص.092)
[137] Ibnu Taimiyah, Mukhtashar as-Sharim al-Muslul'ala Syatimi ar-Rasul, tahqiq 'Ali bin Muhammad al-Umran, (Makkah: Dar 'Alam al-Fawaid, 1422H),  hal.128. berikut teks aslinya:  
و أمّا من جاوز ذلك (أي اللعن و التقبيح) إلى أن زعم إرتدّوا بعد رسول الله إلّا نفرا لا يبلغون بضعة عشر أو أنهم فسقوا فلا ريب أيضا فى كفر قائل ذلك, بل من شكّ فى كفره فهو كافر (مختصر الصارم المسلول على شاتم الرسول, ص.821)
[138] Al-Qodhi 'Iyadh, as-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa,  jld. 7, hal. 36. : "Jumhur Ulama berpendapat bahwa orang yang menghina/mencaci maki para sahabat Rasulullah SAW. harus dihukum ta'ziir (yakni harus didera menurut kebijaksanaan hakim Islam)"
[139] Ihsan Ilahi Dzahir, "Baina Syiah wa Sunnah" terj. Fadhli Bahri, Syiah merajalela di tengah Ahlussunnah,  (Bekasi, Darul Falah, 2013) hal. 38-40. 
[140] Imam Abu Zur'ah Ar-Raazi, Al-Awashim minal Qawashim hal. 34. : "Apabila engkau melihat seseorang mencaci maki/menghina seseorang dari sahabat Rasulullah SAW. maka ketahuilah bahwa orang itu adalah Zindiq (kafir). Yang demikian karena Rasulullah SAW. adalah haq, Al-Qur'an adalah haq dan apa-apa yang dibawa adalah haq dan yang menyampaikan semua itu kepada kita adalah para sahabat Rasulullah SAW.. Mereka (orang-orang zindiq) itu mencela kesaksian kita agar bisa membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah (yakni agar kita tidak percaya kepada Al-Qur'an dan Sunnah). Merekalah yang pantas mendapat celaan"
[141] Abu Khalid Al-husain bin Muhammad as-Sa'idl, Al-Khabair Adz-Dahabi, (Daarul Fikr, 1408H), Hal. 352-353.