Klik dong

Rabu, 22 Oktober 2014

Agar Do'a Anda Mustajab



Agar Do'a Anda Mustajab

Hakikat dan Jenis-jenis Do'a

Saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya nikmat Allah kepada hamba-Nya sangatlah banyak tak terhitung jumlahnya. Dan nikmat tersebut turun kepada para hamba-Nya setiap pagi dan petang. Dan diantara nikmat-Nya yang sangat agung adalah panggilan Allah kepada hamba-Nya agar berdo'a kepada-Nya, dengan janji bahwa Allah akan mengijabah do'anya dan mengabulkan permintaannya….
 }وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ{
" Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Qs. Ghafir : 60 ).
Sangat indah permisalan yang dikatakan oleh Muwarriq Al'ijliy rahimahullah ketika menggambarkan kondisi seorang mukmin saat berdo'a, ia berkata : " Aku tidak temukan permisalan bagi seorang mukmin kecuali seperti seorang lelaki di tengah lautan dan ia di atas sebatang kayu lalu ia berdo'a : Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku…ia berharap Allah U menyelamatkannya " !.

Apa yang dimkasud dengan do'a ?

Para ulama berkata : Do'a adalah menampakkan kerendahan diri kepada Allah dengan mengajukan permintaan, mengharap kebaikan yang ada di sisi-Nya, mengharap pengabulan do'a, dan selamat dari hal yang mengkhawatirkan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : " Meminta apa yang bermanfaat bagi yang berdo'a itu sendiri dan meminta dibukakan jalan dari kesempitan  atau dilepaskan darinya ".

Jenis-jenis do'a

Do'a terbagi dua :
1 – Do'a ibadah
2 – Do'a masalah.
Doa ibadah adalah do'a yang menyeluruh bagi semua bentuk taqarrub baik bersifat lahir maupun batin.
Do'a masalah adalah do'a yang dipanjatkan seseorang berupa memohon kebaikan atau menghilangkan keburukan.
Syaikh Abdurrhaman As-Sa'di rahimahullah berkata : " Semua ayat yang ada dalam  Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah berdo'a kepada Allah I dan larangan berdo'a kepada selain Allah serta pujian kepada orang yang berdo'a, mencakup do'a masalah dan do'a ibadah".
Ini adalah kaidah yang sangat bermanfaat; karena kebanyakan orang memahami kata " do'a " hanya sebatas do'a masalah saja dan tidak tahu bahwa semua jenis ibadah masuk dalam kata do'a. Kesalahfahaman ini membawa mereka kepada perkara yang lebih buruk. Karena ayat-ayat jelas-jelas mengandung pengertian do'a masalah dan do'a ibadah.
Imam Ibnul Qayyim memberikan isyaratnya bahwa do'a masalah dan do'a ibadah saling berkaitan tidak terpisah satu sama lainnya. Setiap do'a ibadah berkonsekwensi pada do'a  masalah dan semua do'a masalah mengandung do'a ibadah.
Saudaraku kaum muslimin…
Berdo'a kepada Allah  adalah obat bagi hati dan kebahagian di dunia dan akhirat. Maka tidak heran orang yang tahu tentang ini berobat dengan do'a…dan orang-orang yang bertakwa selalu melazimkannya.
Tidakkah kau lihat Allah mencela banyak kaum dalam Al-Qur'an karena mereka enggan berdo'a kepada-Nya, enggan merendahkan diri kepada-Nya, dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang berhati keras. Allah I berfirman :
 }فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ{  
" Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan ". (Qs. Al-An'am : 43 ).
Abdullah Al-Anthaqi rahimahullah berkata : " Obat hati ada 5 ( lima ) perkara : duduk bersama orang-orang shalih, membaca Al-Qur'an, mengosongkan perut dari makanan haram, shalat malam dan berdo'a dengan rendah diri pada waktu shubuh ".
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : " Do'a termasuk obat yang paling mujarab, karena do'a musuh bala bencana, menghadangnya dan mengobatinya, menghalangi turunnya dan menghilangkannya atau meringankannya, dan do'a adalah senjata orang yang beriman ".
Saudaraku kaum muslimin…
Hal teragung dalam do'a adalah engkau berbicara kepada Raja semua Raja yang tidak ada satu pun yang serupa dengan Dia, yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu. Tidak ada seorangpun yang bisa mengahalangimu dari berdo'a kepada-Nya, juga tidak ada perantara, dan tidak ada yang menghalangi suaramu…maka jadikanlah do'a mu kepada Allah ta'ala sebagai jalan menuju rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Diantara keutamaan do'a

Saudaraku kaum muslimin…
Andai tidak ada keutamaan dalam do'a selain kedekatanmu dengan Allah I maka itu sudah cukup; akan tetapi do'a memiliki keutamaan dan keberkahan yang sangat banyak. Dan keutamaan yang pertama didapatkan adalah kesehatan jiwa bagi yang berdo'a.
Syaikhul isalam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : " Jika seorang hamba berdo'a kepada Tuhannya agar dikabulkan permintaanya dan dihilangkan dari keburukan, maka Allah akan menjadikannya beriman kepada-Nya, mencintai-Nya, mengenal-Nya, mengesakan-Nya, berharap kepada-Nya, memberikannya hati yang hidup dan meneranginya dengan cahaya iman yang mana bisa jadi lebih bermanfaat baginya daripada apa yang dia minta jika do'anya termasuk kenikmatan dunia".

Berdo'a merupakan wujud nyata melaksanakan perintah Allah I.

Orang yang berdo'a adalah orang yang menjalankan perintah Allah I. Allah berfirman :
}وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ{
" Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Qs. Ghafir : 60 ).
Dalam berdo'a ada bentuk perwujudan ibadah ( penghambaan ) kepada Allah ta'ala yang merupakan tujuan yang sangat agung. Rasulullah e bersabda :
الدعاء هو العبادة
" Do'a adalah ibadah". ([1])

Do'a merupakan ibadah yang dicintai Allah I

Orang yang berdo'a maka ia sedang mendekat kepada Allah  dengan amal yang dicintai-Nya dan sangat mulia di hadapan-Nya. Rasulullah e bersabda :
ليس شيء أكرم على الله عز وجل من الدعاء.
" Tidak ada sesuatu yang paling mulia terhadap Allah selain do'a ".([2])
Az-Zubaidi rahimahullah berkata : " Karena do'a merupakan sikap mulia hamba terhadap Allah karena do'a munjukkan kekuasaan Allah I dan kelemahan orang yang berdo'a ".

Do'a merupakan sebab lapangnya dada.

Dalam do'a ada obat dan penawar yang menyembuhkan penyakit di dada; duka, nestapa, kesedihan dan kesempitan. Dan dalam do'a yang ma'tsur dari Nabi terdapat do'a-do'a yang bisa membantu menghilangkan kesempitan dada dan kesedihan.

Hasil do'a dijamin pasti didapatkan.

Siapa yang memperbanyak do'a kepada Allah I akan memetik buahnya, itu pasti. Baik di dunia maupun di akhirat.
Nabi bersabda :
ما من مسلم يدعو ليس بإثم ولا بقطيعة رحم إلا أعطاه الله إحدى ثلاث: إما أن يعجل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يدفع عنه من السوء مثلها» قال: إذا نكثر! قال: الله أكبر
" Tidaklah seorang muslim berdo'a, tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutuskan silaturrahim, maka Allah pasti mengabulkannya dengan 3 ( tiga ) kemungkinan : dikabulkan di dunia, atau disimpan untuknya di akhirat, atau dihindarkan darinya keburukan setara dengan do'anya. Berkata salah seorang sahabat : kalau begitu kita memperbanyak do'a ! Rasulullah menjawab : Allah Maha Besar ". ([3])

Do'a dapat menolak bala, sebelum turunnya dan sesudahnya.

Ini keutamaan yang sangat agung yang banyak sekali orang lupa dengan hal ini.
Rasulullah e bersabda :
من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سئل الله شيئًا يعطى أحب إليه من أن يُسأل العافية؛ إن الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل؛ فعليكم عباد الله بالدعاء
" Barangsiapa dibukakan untuknya pintu do'a maka dibukakan untuknya pintu rahmat, dan tidaklah Allah dimintai sesuatu yang lebih ia cintai untuk diberikan daripada permintaan 'afiat. Sesungguhnya do'a berguna untuk suatu berukuan yang telah menimpa dan yang belum menimpa. Maka wajib bagi kalian untuk berdo'a ".([4])

Do'a adalah sebab keteguhan dan kemenangan dari musuh.

Allah I berfirman :
}وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ{ فكان عندها النصر و الظفر: }فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ{
" Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (Qs. Al-Baqarah : 250).
Dan Thalut pun pun meraih kemenangan.
 " Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut ". (Qs. Al-Baqarah : 251).


([1])HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
([2])HR. At-Tirmidzi dan Ahmad/ Shahih Al-Jami' (5392).
([3])HR. Bukhari dalam Adab Al-Mufrad/ Shahih Al-Adab (547).
([4]) HR. At-Tirmidzi/ Shahih Al-jami' ( 3409 ).
 


Pentingnya Memperhatikan Pendidikan Para Pemuda



Pentingnya Memperhatikan Pendidikan Para Pemuda

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah dengan tali Allah. Ingatlah, kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan berpegang teguh dengannya. Bersyukurlah kepada Allah. Dengan bersyukur, niscaya kenikmatan itu akan senantiasa bertambah.
Masa muda merupakan masa keemasan, masa produktif. Masa yang paling gemilang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju akhirat. Sehingga Islam sangat memperhatikan kepada para pemuda. Demikian halnya dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat memberikan perhatian kepada para pemuda. Di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ)) [متفق عليه]
Tujuh orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. [Muttafqun alaihi].
Tanggung jawab untuk terbentuknya pemuda-pemuda tangguh dan generasi yang taat, itu merupakan kewajiban dan tugas yang besar di pundak para orang tua, agar mendidik anak-anaknya semenjak dini dengan pendidikan yang benar, yaitu pendidikan yang diajarkan oleh Islam, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ )) [رواه أبو داود]
Perintahkanlah anak-anak kalian agar menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurnya. [HR Abu Dâwud].

Hadits ini, meskipun berhubungan dengan mendidik anak dalam masalah shalat, akan tetapi, sesungguhnya mencakup pendidikan lainnya dari syariat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Ibnu ‘Abbâs yang pada saat itu beliau masih kecil:
((يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ)) [رواه الترميذي]



Wahai, anak kecil! Sesunguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia selalu di hadapanmu; apabila engkau minta, mintalah kepada Allah dan apabila engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada-Nya. [HR Tirmidzi].
Didiklah mereka dengan pendidikan Islam. Berilah para pemuda itu dengan pengarahan yang benar. Hendaklah orang tua menjadi teladan yang baik bagi anaknya, sehingga menjadikannya sebagai qudwah hasanah. 

Salah satu wasilah yang sangat membantu dalam membentuk kepribadian anak, adalah dengan membersihkan rumah-rumah kita dari berbagai sarana yang dapat membawa kepada kerusakan, sehingga seorang anak akan selamat dari berbagai penyelewengan, akan selalu terjaga fithrahnya, dan menjadi anak shâlih yang akan memberikan manfaat bagi kedua orang tuanya; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkannya bersama kedua orang tuanya di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ [ الطور : 21]

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. [ath-Thûr/52 ayat 21]

Untuk mencapai kemuliaan yang agung ini, tentu membutuhkan kesabaran, perjuangan, dan perhatian yang besar dari para orang tua. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, berbagai fasilitas tersedia dan sangat mudah membahayakan akhlak dan kepribadian seorang anak. Pemuda pada zaman ini, ia bagaikan seekor kambing yang berada dalam kerumunan serigala yang siap menyantapnya.

Dengan demikian, kita dapat memahami mengapa para salafush-shalih sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Mereka berusaha menjadikan anak-anaknya sebagai penghafal Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada para pengajar yang amanah. Bahkan tidak sedikit harta yang mereka keluarkan. Masa dan waktu yang panjang mereka luangkan. Semua ini, mereka korbankan demi mengharapkan tercapainya cita-cita, yaitu memiliki generasi yang taat kepada Allah. Mereka tidak membiarkan waktu-waktu yang ada kosong begitu saja menghiasi anak-anaknya, karena waktu yang kosong dapat berbahaya bagi seorang pemuda. Oleh karena itu, seorang pemuda yang memiliki kekuatan dan keinginan, harus memanfaatkan waktunya dengan kesibukan. Jagalah waktu mereka dengan sebaik-baiknya. Demikian pula, jangan memberikan kepada mereka harta yang berlebihan, tetapi berikanlah sesuai dengan kebutuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا [ الفرقان : 67]
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [al-Furqân/25:67].
Adapun para guru atau para pendidik, sesungguhnya mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak-anak kaum muslimin. Menjadikan mereka generasi Rabbani; generasi yang selalu berjalan di atas ketentuan Allah dan Rasul-Nya, generasi yang meneruskan perjuangan para sahabat, generasi yang siap mengemban dakwah Islam. Ajarkanlah kalimat tauhid, ajarkanlah sunnah-sunnah Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ajarkanlah akhlak mulia. Itulah tugas seorang guru yang merupakan tugas yang agung dan amanah yang besar.
Ketahuilah, sesungguhnya para musuh selalu berusaha merusak kepribadian pemuda Islam. Mereka selalu membuat makar untuk menjerumuskan para pemuda ke jurang kebinasaan. Para musuh Islam menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menjerumuskan kepada syahwat untuk merusak akhlak pemuda Islam, seperti obat-obat terlarang untuk merusak akal sekaligus badan, bahkan para musuh Islam menyusup melalui pendidikan dengan cara memasukkan pelajaran yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam. Pelajaran yang mengandung kemaksiatan, bahkan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan utama para musuh itu ialah agar kaum muslimin berpaling dari ilmu Islam dan sibuk dengan ilmu-ilmu yang mereka inginkan. Itulah makar dan tipu daya musuh untuk menghancurkan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ [ البقرة : 105]
Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. [al-Baqarah/2 : 105].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kaum muslimin dari makar dan tipu daya orang kafir dengan firman-Nya,
﴿ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُون [ الأنفال : 36]
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. [al-Anfâl/8 : 36].
Akan tetapi, sungguh musuh-musuh Islam itu akan terkalahkan. Tetapi kapankah mereka dapat dikalahkan? Jawabanya, yaitu jika kaum muslimin tetap konsisten dengan perintah dan larangan Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berusaha menerapkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan mereka, dan selalu berhati-hati dengan makar mereka.
Anak-anak kaum muslimin adalah tumpuan untuk masa yang akan datang. Merekalah yang akan membawa panji Islam. Semua itu akan terwujud, apabila pendidikan yang benar dimulai semenjak dini, dan yang paling berperan ialah orang tua dan guru. Sungguh, generasi yang shâlih akan mendatangkan manfaat, khususnya bagi kedua orang tuanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ )) [رواه مسلم]
Apabila salah seorang meninggal maka akan terputus semua amalannya, kecuali tiga perkara (yaitu) shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. [HR Muslim]
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memegang amanah yang agung ini. jagalah anak-anak, para pemuda kita dari api neraka Jahannam. 
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [ التحريم : 6]
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66 : 6]. 
(Diringkas dari al-Khutab al-Mimbariyyah, karya Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân)