Selasa, 05 Januari 2016

Ibadah Teragung dalam Sejarah



Ibadah Teragung dalam Sejarah

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Hidup di dunia adalah hidup yang sementara. Sungguh indah apabila kita menjadi hamba Allah yang benar-benar mulia. Tidaklah kita diciptakan di dunia ini kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات: 56] 
Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)
Jika kita tahu bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah hanyalah untuk beribadah kepada Allahsubhanahu wa ta’ala, maka sudah seharusnya kita benar-benar dapat meluangkan waktu kita untuk beribadah kepada-Nya.
Ibadah-ibadah sangatlah banyak jumlahnya. Kira-kira, ibadah apakah yang paling agung dalam sejarah manusia?
Apakah shalat? Ataukah sedekah? Ataukah berbakti kepada kedua orang tua? Ataukah ibadah lain?
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan seluruh manusia di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة : 21] 

Artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Rabb (Tuhan) kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah : 21)

Apa arti kata “U’buduu/sembahlah” pada ayat di atas?
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

[ كُلُّ مَا وَرَدَ فِيْ الْقُرْآنِ مِنَ الْعِبَادَةِ فَمَعْنَاهَا التَّوْحِيْدُ ]
Artinya: “Setiap (kata) yang ada di dalam Al-Qur’an yang berarti ‘penyembahan’, maka maknanya adalah bertauhid (kepada Allah).”[1]
Dengan demikian, sekarang kita telah sama-sama mengetahui bahwa ibadah teragung tersebut adalah tauhidullah (bertauhid kepada Allah).

Apa arti tauhid?
Menurut bahasa Arab, “tauhid” berarti menjadikan sesuatu menjadi satu saja. Sedangkan menurut Islam, tauhid adalah menyerahkan ibadah dengan ikhlas hanya untuk Allah dan tidak dicampuri dengan kesyirikan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ   [البينة : 5] 
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat” (QS Al-Bayyinah : 5)


Pentingkah tauhid?
Para ulama memisalkan tauhid dengan pondasi atau asas suatu bangunan. Apabila pondasinya tidak kokoh, maka percuma saja membangun bangunan yang tinggi, lambat laun bangunan tersebut akan roboh juga. Berbeda dengan bangunan yang berpondasi kuat, setinggi apapun bangunan yang didirikan, maka dia akan tetap kokoh.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Barangsiapa yang berkeinginan untuk membangun bangunan yang tinggi, maka perkara yang wajib dilakukannya adalah memperkuat dan memperkokoh  pondasi bangunan tersebut disertai dengan pengawasan yang ketat. Karena, tingginya sebuah bangunan itu tergantung pada kekuatan dan kekokohan pondasi bangunan tersebut.
Apabila keseluruhan amal dan derajat adalah bangunan, maka pondasinya adalah iman…Orang yang tahu (berilmu), dia akan berusaha untuk menguatkan dan memperkokoh pondasi bangunannya. Sedangkan orang yang jahil (bodoh), (dia akan terus) meninggikan bangunannya tanpa (memperhatikan) pondasi bangunannya. maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah ambruknya bangunan tersebut.”[2]
Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

﴿ أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [التوبة : 109] 

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan ke-ridha-an-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)
Di dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala membuat permisalan tentang orang yang berpegang teguh dengan tauhid dan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ dengan sebuah pohon yang memiliki akar yang kuat dan batangnya menjulang ke langit dengan kokoh serta selalu memberikan manfaat setiap waktu. Berbeda dengan orang yang tidak bertauhid, Allah subhanahu wa ta’ala memisalkannya dengan tanaman yang jelek.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24(تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26( [إبراهيم : 24-26] 
Artinya: “ (24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb (Tuhan)nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (26) Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, dia tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.  (QS Ibrahim : 24-26)

Itulah perumpamaan orang yang bertauhid dengan orang yang tidak bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Setelah membaca paparan di atas, maka sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh meremehkan ilmu tauhid dan berhenti untuk mengajak manusia untuk bertauhid kepada Allahsubhanahu wa ta’ala.
Sekarang ini banyak manusia terlalaikan dengan dunia dan banyaknya syubhat yang diterima, sehingga mereka merasa tidak perlu lagi untuk belajar ilmu tauhid. Subhanallah, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka telah aman dari dosa syirik, lawan dari tauhid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sangat takut jika para sahabanya terjatuh pada kesyirikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berlindung dari kesyirikan kepada orang terbaik umat ini, Abu Bakr Ash-Shiddiq, sebagaimana tercantum pada hadits berikut:

عن مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ يَقُولُ : (( انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- إِلَى النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم-، فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ ، لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : وَهَلِ الشِّرْكُ إِلاَّ مَنْ جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ ؟ قَالَ : قُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ )) [رواه البخاري في الأدب المفرد]
Artinya: Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, dia bercerita, “Saya pernah pergi menuju Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Bakr! Sesungguhnya kesyirikan yang ada pada diri kalian lebih samar daripada semut (yang gelap).’ Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pun berkata, ‘Bukankah yang dimaksud dengan syirik adalah jika seseorang menjadikan sembahan selain (Allah)?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya! Kesyirikan lebih samar daripada semut. Apakah engkau mau saya tunjukkan sesuatu yang jika engkau mengatakannya, maka kesyirikan akan terhindar darimu, sedikit maupun banyak?’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Katakanlah: Allaahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa ana a’lam, wa astaghfiruka limaa laa a’lam. (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada Engkau sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada Engkau atas apa yang tidak aku ketahui.’.”[3]
Subhanallah inilah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita terhindar dari kesyirikan.
Para ulama juga menyebutkan –ketika menjelaskan hadits ini- bahwa seseorang bisa saja menjadi seorang musyrik (pelaku kesyirikan) sedangkan dia tidak ketahui atau tidak sadar. Allahua’lam.
Siapakah di antara kita yang lebih afdhal dari para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tentu tidak ada. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan mewanti-wanti mereka dengan sabdanya:

(( إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ : يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً )) [ رواه أحمد ]
Artinya: “Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada diri kalian adalah asy-syirk al-ashghar(syirik kecil). Kami (Para sahabat) pun berkata, “Ya Rasulullah! Apakah asy-syirk al-ashgharitu?” Beliau pun menjawab, “Dia adalah riya’. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berkata di hari pembalasan terhadap amalan-amalan manusia: Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian riya’-i dengan amalan-amalan kalian di dunia! Lihatlah apakah kalian mendapatkan balasannya?”[4]

Siapa di antara kita yang lebih afdhal dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Beliau ‘alaihissalam sangat takut bila terjatuh kepada perbuatan syirik, sehingga beliau berdoa dengan doa yang diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an:

﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ [إبراهيم : 34]   

 Artinya : ”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbi (Tuhanku)! Jadikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS Ibrahim : 35)
Oleh karena itu, kita harus lebih takut apabila kita terjatuh kepada kesyirikan daripada mereka. Tetapi hal ini banyak disepelekan oleh kebanyakan orang. Sebagai contoh, bagaimana menurut pendapat pembaca tentang orang yang memakai jimat di tangan, di leher atau di badannya?
Kebanyakan orang pada saat ini,  apabila ia menemukan saudaranya memakai gelang jimat di tangannya guna penyembuhan dari penyakit atau yang lainnya, kebanyakan orang tidak mengingkari hal tersebut. Akan tetapi, jika ia mendapatkan saudaranya berzina dan membunuh, maka ia sangat  menghinakan dan membesarkan hal tersebut.
Penulis tidak mengatakan bahwa perbuatan zina dan pembunuhan adalah dosa yang kecil dan memang benar itu adalah perbuatan dosa besar dan kita wajib untuk memperhatikan hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan menjauhinya. Akan tetapi, memakai gelang jimat adalah perkara yang lebih besar dan hina. Karena, dalam akidah (keyakinan) ahlussunnah wal jama`ah, pelaku dosa besar yang bertauhid tidak akan kekal dalam neraka. Akan tetapi, dia berada dibawahmasyi`ah (kehendak) Allah. Apabila Allah mengehendaki untuk mengampuninya maka Dia akan mengampuninya. Apabila Ia mengehendaki untuk menyiksanya maka Ia akan menyiksanya.
Sedangkan pemakai  halqah (gelang jimat) untuk pengobatan maka ia telah berbuat kesyirikan, entah itu syirik kecil (syirkul ashghar) ataukah syirik besar (syirkul akbar).
Apabila ia memakai gelang tersebut berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab untuk menyembuhkan penyakitnya, maka ini termasuk kepada syirik kecil.
Sedangkan, apabila ia memakai benda tersebut dengan keyakinan bahwa benda tersebutlah yang memberikan kesembuhan dengan sendirinya, maka ini termasuk pada syirik besar. Pelakunya akan kekal selama-lamanya dalam neraka, apabila ia meninggal dengan keyakinan semacam ini.Na`udzu billahi min dzaalik.
Ini adalah salah satu contoh di masyarakat kita. Masih banyak lagi contoh yang lain.
Oleh Karena itu, kalau kita melihat dakwahnya seluruh Rasul, maka kita akan mendapatkan bahwa mereka semua mendakwahkan tauhid, yaitu agar manusia hanya menyembah kepada Allahsubhanahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل: 36] 
Artinya: “Dan telah kami utus pada setiap umat seorang Rasul untuk memerintahkan: Sembahlah Allah dan jauhilah thagut!” (QS An-Nahl : 36)
Dan juga firmannya:
﴿ وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمر: 65] 

Artinya : ”Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az-Zumar : 65)
Contoh yang harus diteladani kaum muslimin adalah Nabi kita sendiri, Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak pernah meninggalkan dakwah tauhid padahal beliau adalah seorang yang bertauhid. Beliau tidak pernah melupakan dakwah tauhid meskipun beliau berada dalam kepungan kaum musyrikin Mekah.
Beliau juga tidak pernah  berhenti membicarakannya meskipun beliau berada di kota Madinah dan hidup di antara para sahabatnya yang senantiasa menolongnya.
Oleh karena itu, meskipun umat ini telah mencapai derajat kesempurnaan dalam kesadaran mentauhidkan Rab-nya, kekurangan itu pasti akan muncul juga dalam diri  manusia.
Kekurangan yang paling keji adalah kekurangan dalam keikhlasan dan dalam penyepelean tauhid. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diam untuk memperingatkan akan bahaya syirik sampai tiba hari-hari menjelang wafatnya. Padahal pada saat itu umat muslimin telah sampai kepada derajat tertinggi dalam mentauhidkan Rab mereka dan juga dalam persatuan di antara  mereka.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ: (( لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا)) [ رواه البخاري]
Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika dia sakit yang mengakibatkan wafatnya, “Mudahan Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.”[5]
Subhanallah! Inilah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat takut jika umatnya terjatuh kepada kesyirikan setelah beliau wafat.
Dengan demikian, mudah-mudahan kita bisa sama-sama menyadari bahwa ilmu tauhid sangat penting untuk dipelajari. Oleh karena itu, untuk pembaca yang ingin mempelajari tauhid dari dasar, maka penulis menyarankan untuk membaca buku-buku berikut:
1.       ‘Al-Aqidah Al-Wasithiyah’ karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah beserta kitab penjelasannya (syarh).
2.       ‘Kitab At-Tauhid’ dan kitab ‘Tiga Landasan Utama’ karya Syaikh Muhammad At-Tamimi beserta kitab penjelasannya.
3.       ‘Kitab Tauhid 1’, ‘Kitab Tauhid 2’ dan ‘Kitab Tauhid 3’ karya Syaikh Shalih Al-Fauzan dan kumpulan penulis.
4.       Cara Mudah Memahami Aqidah karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdil-‘aziz Al-Jibrin, Pustaka Tazkia.

Dan jika bisa menghapalkan dalil-dalilnya maka itu lebih baik lagi.
Demikian, mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba Allah yang bisa beribadah dengan ibadah teragung ini. Amin.
Tamma bifadhlillahi wa karamihi.
(Diringkas dari berbagai sumber)

[1] Tafsir Al-Baghawi I/71.
[2] Al-Fawaid hal. 155-156. Ibnul-Qayyim.
[3] HR Al-Bukhari di Adabul-Mufrad no. 716. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Adabil-Mufrad.
[4] HR Ahmad di Musnadnya no. 23630 dan yang lainnya. Isnadnya dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib.
[5] HR Al-Bukhari no. 1330

Pentingnya Memperhatikan Pendidikan Para Pemuda



Pentingnya Memperhatikan Pendidikan Para Pemuda

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah dengan tali Allah. Ingatlah, kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan berpegang teguh dengannya. Bersyukurlah kepada Allah. Dengan bersyukur, niscaya kenikmatan itu akan senantiasa bertambah.
Masa muda merupakan masa keemasan, masa produktif. Masa yang paling gemilang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju akhirat. Sehingga Islam sangat memperhatikan kepada para pemuda. Demikian halnya dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat memberikan perhatian kepada para pemuda. Di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ)) [متفق عليه]
Tujuh orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. [Muttafqun alaihi].
Tanggung jawab untuk terbentuknya pemuda-pemuda tangguh dan generasi yang taat, itu merupakan kewajiban dan tugas yang besar di pundak para orang tua, agar mendidik anak-anaknya semenjak dini dengan pendidikan yang benar, yaitu pendidikan yang diajarkan oleh Islam, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ )) [رواه أبو داود]
Perintahkanlah anak-anak kalian agar menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurnya. [HR Abu Dâwud].

Hadits ini, meskipun berhubungan dengan mendidik anak dalam masalah shalat, akan tetapi, sesungguhnya mencakup pendidikan lainnya dari syariat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Ibnu ‘Abbâs yang pada saat itu beliau masih kecil:
((يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ)) [رواه الترميذي]



Wahai, anak kecil! Sesunguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia selalu di hadapanmu; apabila engkau minta, mintalah kepada Allah dan apabila engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada-Nya. [HR Tirmidzi].
Didiklah mereka dengan pendidikan Islam. Berilah para pemuda itu dengan pengarahan yang benar. Hendaklah orang tua menjadi teladan yang baik bagi anaknya, sehingga menjadikannya sebagai qudwah hasanah. 

Salah satu wasilah yang sangat membantu dalam membentuk kepribadian anak, adalah dengan membersihkan rumah-rumah kita dari berbagai sarana yang dapat membawa kepada kerusakan, sehingga seorang anak akan selamat dari berbagai penyelewengan, akan selalu terjaga fithrahnya, dan menjadi anak shâlih yang akan memberikan manfaat bagi kedua orang tuanya; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkannya bersama kedua orang tuanya di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ [ الطور : 21]

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. [ath-Thûr/52 ayat 21]

Untuk mencapai kemuliaan yang agung ini, tentu membutuhkan kesabaran, perjuangan, dan perhatian yang besar dari para orang tua. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, berbagai fasilitas tersedia dan sangat mudah membahayakan akhlak dan kepribadian seorang anak. Pemuda pada zaman ini, ia bagaikan seekor kambing yang berada dalam kerumunan serigala yang siap menyantapnya.

Dengan demikian, kita dapat memahami mengapa para salafush-shalih sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Mereka berusaha menjadikan anak-anaknya sebagai penghafal Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada para pengajar yang amanah. Bahkan tidak sedikit harta yang mereka keluarkan. Masa dan waktu yang panjang mereka luangkan. Semua ini, mereka korbankan demi mengharapkan tercapainya cita-cita, yaitu memiliki generasi yang taat kepada Allah. Mereka tidak membiarkan waktu-waktu yang ada kosong begitu saja menghiasi anak-anaknya, karena waktu yang kosong dapat berbahaya bagi seorang pemuda. Oleh karena itu, seorang pemuda yang memiliki kekuatan dan keinginan, harus memanfaatkan waktunya dengan kesibukan. Jagalah waktu mereka dengan sebaik-baiknya. Demikian pula, jangan memberikan kepada mereka harta yang berlebihan, tetapi berikanlah sesuai dengan kebutuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا [ الفرقان : 67]
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [al-Furqân/25:67].
Adapun para guru atau para pendidik, sesungguhnya mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak-anak kaum muslimin. Menjadikan mereka generasi Rabbani; generasi yang selalu berjalan di atas ketentuan Allah dan Rasul-Nya, generasi yang meneruskan perjuangan para sahabat, generasi yang siap mengemban dakwah Islam. Ajarkanlah kalimat tauhid, ajarkanlah sunnah-sunnah Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ajarkanlah akhlak mulia. Itulah tugas seorang guru yang merupakan tugas yang agung dan amanah yang besar.
Ketahuilah, sesungguhnya para musuh selalu berusaha merusak kepribadian pemuda Islam. Mereka selalu membuat makar untuk menjerumuskan para pemuda ke jurang kebinasaan. Para musuh Islam menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menjerumuskan kepada syahwat untuk merusak akhlak pemuda Islam, seperti obat-obat terlarang untuk merusak akal sekaligus badan, bahkan para musuh Islam menyusup melalui pendidikan dengan cara memasukkan pelajaran yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam. Pelajaran yang mengandung kemaksiatan, bahkan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan utama para musuh itu ialah agar kaum muslimin berpaling dari ilmu Islam dan sibuk dengan ilmu-ilmu yang mereka inginkan. Itulah makar dan tipu daya musuh untuk menghancurkan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ [ البقرة : 105]
Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. [al-Baqarah/2 : 105].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kaum muslimin dari makar dan tipu daya orang kafir dengan firman-Nya,
﴿ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُون [ الأنفال : 36]
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. [al-Anfâl/8 : 36].
Akan tetapi, sungguh musuh-musuh Islam itu akan terkalahkan. Tetapi kapankah mereka dapat dikalahkan? Jawabanya, yaitu jika kaum muslimin tetap konsisten dengan perintah dan larangan Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berusaha menerapkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan mereka, dan selalu berhati-hati dengan makar mereka.
Anak-anak kaum muslimin adalah tumpuan untuk masa yang akan datang. Merekalah yang akan membawa panji Islam. Semua itu akan terwujud, apabila pendidikan yang benar dimulai semenjak dini, dan yang paling berperan ialah orang tua dan guru. Sungguh, generasi yang shâlih akan mendatangkan manfaat, khususnya bagi kedua orang tuanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ )) [رواه مسلم]
Apabila salah seorang meninggal maka akan terputus semua amalannya, kecuali tiga perkara (yaitu) shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. [HR Muslim]
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memegang amanah yang agung ini. jagalah anak-anak, para pemuda kita dari api neraka Jahannam. 
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [ التحريم : 6]
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66 : 6].